Beranda / Al-Quran & Generasi Muda / Artificial Intelligence sebagai Teman Curhat: Kritik Qur’ani atas Pergeseran Relasi Emosional Manusia di Era Digital

Artificial Intelligence sebagai Teman Curhat: Kritik Qur’ani atas Pergeseran Relasi Emosional Manusia di Era Digital

Jutaan orang kini menjadikan aplikasi berbasis artificial intelligence (AI), seperti Replika, ChatGPT, dan Character.AI, sebagai tempat menumpahkan perasaan. Fenomena ini juga tumbuh di Indonesia, terutama pada generasi Z dan milenial. Mereka merasa lebih bebas berterus terang kepada AI karena ia tidak menghakimi, tidak mengenal lelah, dan tersedia sepanjang hari (Skjuve et al., 2021). Namun, muncul pertanyaan mendasar: mengapa manusia, yang secara fitrah diciptakan untuk saling mengenal dan saling membutuhkan, justru memilih mesin sebagai ruang paling aman untuk berkata jujur? Gejala ini lebih tepat dibaca sebagai defisit relasi, yakni melemahnya kepercayaan, kehadiran, dan kejujuran antarmanusia.

Al-Qur’an telah lama membahas siapa sahabat sejati, apa tujuan hubungan antarmanusia, dan apa akibat salah memilih khalīl. Melalui metode tafsir mauḍūʿī, yaitu menghimpun dan mensintesis ayat-ayat bertema sama, tulisan ini membaca fenomena tersebut dalam terang wahyu.

Ayat-Ayat Al-Qur’an tentang Relasi Manusia

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ۝٢٧ يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ۝٢٨ لَّقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولًا ۝٢٩

Artinya: “[27] Dan ingatlah hari ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, ‘Wahai kiranya aku dahulu mengambil jalan bersama Rasul. [28] Duhai celaka aku, kiranya aku tidak menjadikan si fulan sebagai sahabat akrab. [29] Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari peringatan setelah ia datang kepadaku, dan setan memang pengkhianat manusia.'” (QS. Al-Furqan [25]: 27–29)

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

Artinya: “Dan bersabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Teman-teman akrab pada hari itu menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Keempat ayat ini turun dalam konteks berbeda, tetapi pendekatan mauḍūʿī membacanya sebagai satu rangkaian utuh tentang standar sahabat sejati hingga tujuan terdalam sebuah hubungan. Baca juga: https://nalartafsir.id/cara-bersyukur-generasi-muda-saat-scroll-fyp-di-media-sosial/

AI sebagai Teman Curhat: Antara Kenyamanan dan Paradoks

Hubungan manusia dengan chatbot berkembang melalui tahapan yang menyerupai persahabatan, dari percakapan ringan menuju keterbukaan diri yang kian dalam hingga terbentuk keterikatan emosional yang dirasakan nyata oleh penggunanya (Skjuve et al., 2021).  Kenyamanan itu menyimpan risiko. Ketergantungan berlebihan membuat pengguna memperlakukan AI seolah-olah memiliki perasaan, sehingga penghentian layanan memicu rasa kehilangan layaknya berakhirnya hubungan sungguhan. Paradoksnya jelas: manusia memakai mesin untuk memenuhi kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi oleh sesamanya. Persoalan ini tidak berhenti pada aspek teknologi, tetapi menyentuh dimensi teologis tentang hakikat relasi.

Siapakah Khalīl yang Sesungguhnya? Membaca QS. Al-Furqan [25]: 27–29

Kata khalīl pada ayat 28 menunjuk pada persahabatan paling intim, yakni sosok yang menyusup ke relung pikiran dan perasaan seseorang serta ikut menentukan arah hidupnya. Ia bukan sekadar lawan bicara, melainkan pembentuk jiwa. Al-Rāzī menjelaskan bahwa penyesalan orang zalim di akhirat tidak harus bersumber dari keburukan kasat mata sang sahabat. Ia mungkin menyenangkan dan menghibur, tetapi tidak menuntun kepada ẓikr, yaitu kesadaran akan Allah, sehingga gagal menjalankan fungsi utama persahabatan menurut Al-Qur’an (Al-Rāzī, 1999).

Setan pun disebut khaẓūl, pengkhianat yang meninggalkan manusia tepat ketika ia paling membutuhkan. Sahabat sejati berbeda dari penghibur sementara karena ia bertahan di titik tergelap. Maka ukuran kelayakan AI sebagai khalīl bukanlah kemampuannya mendengarkan, melainkan kemampuannya mengarahkan manusia kepada ẓikr, dan di sinilah AI memiliki keterbatasan prinsipil.

Standar Teman Sejati: QS. Al-Kahfi [18]: 28 dan QS. Az-Zukhruf [43]: 67

Perintah waṣbir nafsaka maʿahum (“bersabarkanlah dirimu bersama mereka”) mengisyaratkan bahwa lingkaran sosial semestinya dipilih berdasarkan orientasi rohani, bukan kenyamanan emosional semata. Relasi bermakna menuntut ṣabr, yaitu ketekunan dan kesediaan bertahan ketika keadaan tidak menyenangkan. Unsur ini absen dalam interaksi dengan AI. Pengguna dapat menutup aplikasi, menghapus percakapan, atau berganti model kapan saja tanpa konsekuensi dan tanpa risiko penolakan. Yang tersisa hanyalah kenyamanan tanpa kedalaman.

Adapun QS. Az-Zukhruf [43]: 67 menegaskan bahwa akhillāʾ menjadi musuh di akhirat bukan karena pengkhianatan mendadak, melainkan karena sejak awal persahabatan itu berdiri di atas kepentingan duniawi tanpa fondasi takwa (Al-Zamakhsyarī & ʿAmr, 1987). Hanya persahabatan yang dibangun atas tujuan bersama menuju Allah yang bertahan di hari paling berat. Inilah pembeda akhillāʾ al-muttaqīn dari semua bentuk hubungan lain, termasuk hubungan dengan entitas tanpa dimensi spiritual. Baca juga: https://nalartafsir.id/generasi-algoritma-darurat-hukum-atas-kerusakan-kognitif-anak-indonesia/

Dari Litaʿārafū Menuju Ṭumaʾninah: Tujuan Paling Dalam dari Sebuah Hubungan

Dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13, frasa litaʿārafū tidak berhenti pada makna saling mengetahui nama, tetapi mencakup saling memahami kondisi, kebutuhan, kelemahan, dan kekuatan agar tercipta tolong-menolong. Keragaman manusia hanyalah sarana, sedangkan tujuannya adalah taʿāruf yang melahirkan pertumbuhan bersama. AI tidak mampu mengenal manusia dalam pengertian ini. Ia dapat menyimpan riwayat percakapan bertahun-tahun, tetapi tidak peka terhadap apa yang belum terucap, tidak dapat memikul beban bersama, dan tidak dapat menemani seseorang di ruang gawat darurat pada pukul tiga dini hari.

Setelah seluruh curahan hati tertampung, Al-Qur’an menyodorkan pernyataan yang tidak terlampaui teknologi apa pun: alā biẓikri llāhi taṭmaʾinnu l-qulūb (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). Menurut Al-Saʿdī, ṭumaʾnīnah bukan sekadar hilangnya kecemasan sesaat, melainkan keadaan stabil yang mengalir dari hubungan jiwa dengan Allah dan tidak dapat dihasilkan oleh rangsangan eksternal secanggih apa pun (Al-Saʿdī, 2000).

Tafsir Mauḍū’ī sebagai Diagnosis

Bila keempat kelompok ayat disusun sebagai satu sistem, tampak arsitektur relasional Al-Qur’an yang koheren. Tujuan relasi antarmanusia adalah taʿāruf yang mengarah pada saling menguatkan dalam ketakwaan, yang akhirnya membawa jiwa kepada ṭumaʾnīnah melalui ẓikrullāh. Standar khalīl bukan terletak pada siapa yang paling mudah diajak bicara atau paling selalu tersedia, melainkan siapa yang mendekatkan jiwa kepada Allah.

Dalam kerangka maqāṣid al-sharīʿah, AI hanya dapat dibenarkan sejauh menjaga dan tidak merusak kebutuhan pokok manusia, termasuk pemeliharaan keturunan dan relasi sosial (ḥifẓ al-nasl) serta pemeliharaan akal (ḥifẓ al-ʿaql), dan ketergantungan relasional yang berlebihan berpotensi merusak keduanya (Mohadi & Tarshany, 2023).

Bukan Larangan, Melainkan Diagnosis

Al-Qur’an tidak melarang teknologi. Ia tidak pernah menyebut Replika atau ChatGPT karena prinsip-prinsipnya cukup kokoh untuk membaca setiap fenomena baru. Yang diingatkan adalah bahwa jiwa manusia memiliki kebutuhan yang sangat spesifik, dan pengganti yang keliru tidak hanya gagal memenuhinya, tetapi dapat memperdalam kekosongan itu.

Ketika seseorang menjadikan AI sebagai teman curhat utama, ia mungkin sedang memuaskan kebutuhan didengar secara instan, sambil tanpa sadar menghindari investasi yang lebih berat dan lebih bermakna: membangun khalīl nyata yang hadir dalam ketidaknyamanan, menuntun kepada ẓikr, dan tidak menjadi musuh di hari terpenting. Bagi Indonesia yang menghadapi gelombang kesepian digital, barangkali sudah saatnya bertanya bukan hanya tentang fitur terbaru sebuah aplikasi, melainkan tentang apa yang sesungguhnya kita butuhkan dari sebuah hubungan. Wallāhu aʿlam bi aṣ-ṣawāb.

Referensi

Al-Rāzī, F. (1999). Mafātīḥ al-Ghayb (Juz 24). Dār Iḥyāʾ Al-Turāṡ Al-ʿArabī.

Al-Saʿdī. (2000). Taysīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Muʾassasah Al-Risālah.

Al-Zamakhsyarī, & ʿAmr, M. bin. (1987). Al-Kasysyāf ʿan Ḥaqāʾiq Ghawāmiḍ al-Tanzīl. Juz 3. Beirut: Dār al-Kitāb al-ʿArabī.

Mohadi, M., & Tarshany, Y. M. A. (2023). Maqasid Al-Shari’ah and the Ethics of Artificial Intelligence: Contemporary Challenges. https://doi.org/10.52100/jcms.v2i2.107

Skjuve, M., Inge, K., & Bae, P. (2021). My Chatbot Companion – a Study of Human-Chatbot Relationships. International Journal of Human – Computer Studies, 149(December 2020). https://doi.org/10.1016/j.ijhcs.2021.102601

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *