Beranda / Psikologi & Kesehatan Mental / Bolehkah Seorang Muslim Merasa Tidak Baik-Baik Saja?

Bolehkah Seorang Muslim Merasa Tidak Baik-Baik Saja?

Pernahkah kita merasa bersalah hanya karena sedang marah, kecewa, atau sedih? Kita mungkin segera mengingatkan diri sendiri untuk bersabar, bersyukur, dan tidak mengeluh. Nasihat tersebut pada dasarnya baik. Namun, dalam keadaan tertentu, kita justru menggunakannya untuk menolak mengakui apa yang sedang dirasakan. Kita memaksa diri untuk terlihat baik-baik saja, bahkan ketika hati sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.

Sebagian dari kita tumbuh dengan pemahaman bahwa menjadi Muslim yang baik berarti selalu tenang, jarang mengeluh, dan mampu menyembunyikan kesedihan. Akibatnya, emosi yang dianggap tidak sesuai dengan gambaran kesalehan tersebut terkadang diperlakukan sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Kita takut dianggap kurang sabar ketika marah, kurang bersyukur ketika kecewa, atau kurang beriman ketika merasa lelah.

Padahal, terdapat perbedaan mendasar antara mengendalikan emosi dan menyangkal keberadaannya. Perbedaan inilah yang menarik perhatian Dr. Francesca Bocca-Aldaqre dalam pembahasannya mengenai emotional suppression, yakni kecenderungan menekan atau menyembunyikan ekspresi emosi. Dalam video Are You Suppressing Your Emotions?, ia mengajak kita mempertanyakan apakah selama ini kita benar-benar mengelola perasaan atau justru menghindarinya.

Dalam psikologi, regulasi emosi merujuk pada proses seseorang memengaruhi bagaimana emosi muncul, dialami, dan diekspresikan. Menekan ekspresi emosi dapat membantu seseorang melewati situasi tertentu tanpa bereaksi secara impulsif. Namun, apabila penekanan menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi perasaan, seseorang dapat kehilangan kesempatan untuk mengenali penyebab emosi dan memahami kebutuhan yang menyertainya.

Konsep Kazhm al-Ghayzh

Al-Qur’an secara jelas memuji orang-orang yang mampu mengendalikan amarah. Allah Swt. berfirman dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 134:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Perhatikan istilah al-kāẓimīna al-ghayẓ dalam ayat tersebut. Ungkapan ini merujuk pada orang-orang yang mampu menahan atau mengendalikan amarah. Artinya, seseorang dapat merasakan kemarahan tanpa harus menuruti setiap dorongan yang muncul karenanya. Seseorang boleh menyadari bahwa dirinya terluka, tetapi tetap memilih untuk tidak menghina. Ia boleh merasa kecewa, tetapi tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Ia juga boleh mengakui bahwa sesuatu telah membuatnya marah sembari mempertimbangkan cara yang adil untuk menyelesaikannya.

Di sinilah pentingnya membedakan perasaan dari tindakan. Perasaan merupakan pengalaman batin yang perlu dikenali, sedangkan tindakan merupakan respons yang perlu dipertimbangkan. Merasa marah tidak serta-merta membuat seseorang berdosa hanya karena emosi tersebut muncul. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana ia menyikapi dan menyalurkan kemarahannya.

Rasulullah saw. juga menjelaskan bahwa kekuatan tidak semata-mata diukur berdasarkan kemampuan fisik. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, orang yang kuat digambarkan sebagai orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah. Pesan tersebut mengarahkan kita pada pentingnya pengendalian diri, bukan pada tuntutan untuk berpura-pura tidak memiliki emosi.

Nabi Ya’qub Mengajarkan bahwa Kesedihan Dapat Diakui

Jika pengendalian amarah sering menjadi pembahasan, bagaimana dengan kesedihan? Apakah seorang Muslim harus selalu tampak tegar ketika kehilangan, kecewa, atau menghadapi persoalan hidup?

Kisah Nabi Ya’qub memberi kita ruang untuk memahami persoalan ini secara lebih manusiawi. Ketika kehilangan Nabi Yusuf, beliau mengalami kesedihan yang mendalam. Al-Qur’an menggambarkan kesedihan tersebut dalam QS. Yusuf [12]: 84. Kemudian, ketika menghadapi perkataan anak-anaknya, Nabi Ya’qub menyampaikan pengakuan yang sangat menyentuh:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Dia (Ya’qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Yusuf [12]: 86).

Ayat ini memberikan pelajaran penting. Nabi Ya’qub tidak menyangkal kesedihannya. Beliau mengakuinya dan mengadukannya kepada Allah. Kesedihan tersebut tidak serta-merta menghapus keimanannya atau membuatnya kehilangan harapan terhadap rahmat Allah. Baca juga: https://nalartafsir.id/memahami-dimensi-psikologis-orang-yang-berhasil-tafsir-al-qurthubi-atas-qs-ad-dhuha-9311/

Mengadukan kesedihan kepada Allah berbeda dengan berputus asa terhadap-Nya. Seseorang dapat mengakui bahwa hidup sedang terasa berat sembari tetap meyakini bahwa pertolongan Allah mungkin datang melalui jalan yang belum diketahuinya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa doa tidak harus selalu berisi ungkapan syukur atas sesuatu yang menyenangkan. Dalam doa, kita juga dapat menyampaikan kegelisahan, meminta pertolongan, mengakui kelemahan, dan memohon kekuatan untuk melewati keadaan yang sulit. Kita tidak perlu menyusun kata-kata seolah-olah hati sedang baik-baik saja ketika kenyataannya kita sedang terluka.

Tentu, ayat tersebut bukan berarti setiap emosi harus diungkapkan kepada semua orang atau setiap keluhan harus disampaikan tanpa pertimbangan. Nabi Ya’qub menunjukkan bahwa kesedihan dapat diakui dan disalurkan kepada Allah. Dari sana, kita dapat belajar bahwa menerima perasaan merupakan bagian dari kejujuran terhadap keadaan diri sendiri.

Muhasabah Dimulai dengan Kejujuran kepada Diri Sendiri

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lebih cepat menilai emosi daripada memahaminya. Ketika marah, kita langsung menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak sabar. Ketika sedih, kita buru-buru mengingatkan diri agar bersyukur. Ketika kecewa, kita mungkin berkata bahwa semua ini sudah menjadi takdir sehingga tidak perlu lagi membicarakannya.

Padahal, bersyukur dan merasa sedih bukanlah dua hal yang selalu bertentangan. Menerima takdir juga tidak berarti kita harus menyangkal rasa sakit yang muncul ketika menghadapinya. Di sinilah muhasabah menjadi relevan sebagai upaya untuk melihat keadaan batin dengan jujur. Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sedang saya rasakan? Apa yang memicunya? Mengapa hal tersebut begitu memengaruhi saya? Bagaimana sebaiknya saya meresponsnya?

Kita juga dapat mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik. Apakah saya benar-benar marah, atau sebenarnya merasa tidak dihargai? Apakah saya sedang kecewa, atau sedang berduka atas harapan yang tidak terwujud? Apakah saya sungguh-sungguh sudah menerima keadaan, atau sekadar mengatakan bahwa saya baik-baik saja karena tidak tahu bagaimana mengungkapkan kesedihan?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membantu kita membedakan emosi yang muncul dari kebutuhan atau persoalan yang mungkin belum terselesaikan. Tentu, tidak semua perasaan langsung memiliki jawaban. Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk memahami apa yang terjadi dalam diri sendiri. Namun, proses tersebut sulit dilakukan jika sejak awal kita menolak mengakui perasaan yang muncul.

Lima Waktu Salat dan Ruang untuk Berhenti Sejenak

Salah satu hal yang menarik dalam kehidupan seorang Muslim adalah kewajiban melaksanakan salat lima waktu. Di tengah rutinitas yang terus berjalan, salat menghadirkan jeda untuk kembali mengingat Allah dan menata orientasi hidup. Kita berhenti sejenak dari pekerjaan, urusan, dan berbagai tuntutan dunia untuk menghadap kepada-Nya. Baca juga: https://nalartafsir.id/menggapai-jiwa-yang-tenang-memaknai-qs-al-fajr-ayat-27-30-perspektif-psikologi/

Salat tentu memiliki kedudukan ibadah yang jauh lebih luas daripada sekadar teknik pengelolaan emosi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, waktu salat juga dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa keadaan diri. Apa yang sedang membebani pikiran saya? Adakah kemarahan yang perlu saya kendalikan? Adakah kesedihan yang perlu saya akui? Adakah persoalan yang perlu saya hadapi dengan lebih bijaksana setelah menenangkan diri?

Ketika hati terasa penuh, kita dapat berdoa dengan jujur. Kita dapat mencurahkan kesulitan kepada Allah, sebagaimana dicontohkan Nabi Ya’qub, tanpa menjadikan doa sebagai alasan untuk menghindari ikhtiar. Jika persoalan membutuhkan percakapan, kita dapat mencari orang yang tepercaya. Jika masalah terus mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional juga merupakan pilihan yang patut dipertimbangkan.

Dalam pembahasan mengenai pengendalian amarah, NU Online turut mengulas pandangan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din tentang pentingnya memahami keutamaan menahan amarah dan mempertimbangkan akibat tindakan yang didorong oleh kemarahan. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian diri membutuhkan kesadaran dan pertimbangan, bukan sekadar memendam perasaan tanpa memahaminya.

Dengan demikian, refleksi spiritual dan upaya memahami emosi dapat berjalan berdampingan. Kita berusaha mendekatkan diri kepada Allah sekaligus belajar memahami diri sebagai manusia yang memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan.

Menjadi Tenang Tanpa Harus Berpura-pura Baik-Baik Saja

Menjadi Muslim yang baik bukan berarti kita tidak akan pernah marah, sedih, takut, kecewa, atau lelah. Semua itu merupakan bagian dari pengalaman manusia. Keimanan tidak mengharuskan kita berpura-pura kebal terhadap kesulitan. Sebaliknya, keimanan dapat menjadi pegangan untuk menghadapi kesulitan dengan cara yang lebih bijaksana.

Kita tetap perlu belajar menahan amarah agar tidak berubah menjadi tindakan yang menyakiti. Kita perlu belajar bersabar ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Namun, kita juga perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk mengenali apa yang sedang dirasakan, mencari pertolongan ketika diperlukan, dan mengakui bahwa ada persoalan yang memang tidak mudah dihadapi sendirian.

Sebab, menahan amarah merupakan bagian dari pengendalian diri, sedangkan memahami perasaan merupakan bagian dari upaya mengenali diri. Keduanya dapat berjalan bersama dalam perjalanan seorang hamba untuk terus memperbaiki diri.

Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *