Di zaman digital saat ini, menggunakan media sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari bagi generasi muda. Baru beberapa menit membuka TikTok, Instagram, atau platform media sosial lainnya, kita sudah melihat banyak bagian dari kehidupan orang lain. Ada orang yang berbagi tentang kesuksesannya mendapatkan beasiswa, diterima di universitas impian, menang dalam lomba, memulai bisnis di usia muda, membeli barang yang selama ini diinginkan, hingga menikmati liburan ke berbagai tempat. Semua pencapaian itu terlihat di layar melalui fitur For You Page atau biasa disebut FYP.
Namun, di balik aktivitas sederhana seperti scroll, ternyata banyak perasaan yang bisa muncul dalam diri seseorang. Melihat orang lain berhasil bisa membuat kita semangat dan ingin mencoba hal yang sama. Kita berpikir, “Jika dia bisa berusaha dan mencapai hal itu, mungkin aku juga bisa.” Namun, tidak sedikit orang yang justru merasa malu, sedih dengan diri sendiri, bahkan iri terhadap kehidupan orang lain yang terlihat lebih sukses. Dari sini muncul pertanyaan penting bagi generasi muda: ketika melihat kesuksesan orang lain, apakah kita jadi iri atau justru terinspirasi?
Fenomena ini sangat dekat dengan pesan yang terkandung dalam QS. An-Nisa ayat 32. Allah Swt. berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32)
Allah berpesan dalam ayat itu agar manusia tidak terlalu menginginkan hal-hal yang sudah diberikan kepada orang lain. Setiap orang memiliki bagian, bakat, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda-beda. Sebab itu, alangkah baiknya manusia tidak terus-terusan membandingkan diri sendiri dengan orang lain, melainkan berusaha sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dan meminta berkah dari Allah.
Masalahnya, media sosial sering kali membuat kita lupa bahwa apa yang tampil di layar hanya bagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita mungkin melihat teman kita sukses mendapat pekerjaan yang mereka impikan, tapi tidak tahu berapa kali mereka gagal sebelumnya. Kita melihat seseorang mendapatkan hasil yang terbaik, tetapi tidak selalu tahu seberapa banyak waktu dan usaha yang ia habiskan untuk belajar. Kita melihat seseorang yang tampak senang dan berhasil, tapi tidak tahu apa saja kesulitan yang ia alami di balik layar. Ketika hanya melihat hasil tanpa tahu cara mencapainya, kita cenderung lebih mudah membandingkan bagian terbaik hidup orang lain dengan kehidupan kita secara keseluruhan.
Dari sinilah rasa iri dapat tumbuh. Iri bukan hanya rasa ingin punya barang yang orang lain punya (Denisa,2026). Perasaan itu bisa jadi membahayakan ketika kesuksesan orang lain justru membuat kita merasa kurang, tidak berterima kasih, atau bahkan tidak senang melihat mereka bahagia. Ketika kita melihat orang lain mendapatkan sesuatu, kita mulai bertanya, “Mengapa dia bisa mendapatkannya?” atau “Mengapa hidupku tidak seperti dia?” Pertanyaan seperti itu, jika terus dipikirkan, bisa membuat seseorang lupa fokus pada perjalanan hidupnya sendiri.
Padahal, setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Ada orang yang sudah berhasil di usia muda, ada juga yang baru menemukan arah hidupnya setelah melewati banyak kegagalan. Beberapa orang punya peluang lebih banyak karena kondisi yang mereka alami, sedangkan orang lain harus bekerja lebih keras agar bisa mencapai tujuan yang sama. Perbedaan itu adalah bagian dari kehidupan yang tidak selalu bisa diukur hanya dari hal-hal yang muncul di FYP.
Di sisi lain, melihat keberhasilan orang lain tidak selalu membuat seseorang merasa iri. Perasaan tersebut dapat diubah menjadi inspirasi. Perbedaannya ada pada cara kita melihat keberhasilan orang lain. Ketika merasa iri, perhatian kita hanya fokus pada hal-hal yang tidak kita miliki. Namun, ketika terinspirasi, kita mulai melihat usaha dan peluang untuk berkembang. Kita sekarang tidak berkata, “Aku ingin dia gagal,” melainkan, “Aku juga ingin belajar dan berusaha agar bisa berkembang seperti dia.”
Misalnya, ketika melihat teman berhasil mendapatkan beasiswa, kita bisa menggunakannya sebagai semangat untuk mencari tahu lebih banyak, meningkatkan kemampuan belajar, dan mulai bersiap sejak dini. Ketika kita melihat seseorang bisa membangun usaha, kita bisa belajar tentang keberanian, konsistensi, dan proses yang dia lalui. Jadi, kesuksesan orang lain bukanlah alasan untuk merasa diri sendiri tidak penting, tetapi bisa jadi pelajaran agar kita bisa terus berkembang.
Dalam situasi ini, peran rasa syukur sangat penting. Bersyukur bukan berarti berhenti ingin berkembang dan maju (Nasrullah, 2016). Bersyukur juga bukan berarti menyerah dan tidak ingin berusaha. Rasa syukur justru bisa menjadi dasar yang membuat seseorang mampu berkembang tanpa merasa iri atau membenci keberhasilan orang lain. Orang yang bersyukur bisa berkata, “Aku belum mencapai titik itu, tapi aku tetap menghargai apa yang telah aku miliki dan akan terus berusaha.”
Sikap tersebut bisa menjadi seperti rem ketika kita terlalu jauh terbawa oleh budaya membandingkan diri di media sosial. Ketika melihat keberhasilan orang lain dan merasa tertinggal, kita perlu berhenti sejenak untuk mengingat kembali perjalanan hidup kita sendiri. Mungkin kita belum ada pencapaian besar yang bisa dibagikan di media sosial, tapi bukan berarti kita tidak mengalami kemajuan. Kita mungkin sudah lebih berani dibanding dulu, lebih sering belajar, bisa melewati masa sulit, atau sukses mempertahankan semangat meskipun banyak menghadapi tantangan. Hal-hal kecil seperti itu juga termasuk bagian dari proses yang layak diucapkan terima kasih.
Pada akhirnya, keputusan untuk merasa iri atau terinspirasi biasanya dimulai dari cara kita mengelola hati dan pikiran (Richardus,2026). Kita memang tidak bisa mengelola semua konten yang muncul di FYP, tetapi kita bisa memutuskan bagaimana cara kita meresponsnya. Pencapaian orang lain bisa jadi racun kalau terus dibandingkan, tapi bisa juga jadi semangat kalau dijadikan tuntunan.
QS. Ayat 32 dalam Surah An-Nisa mengingatkan bahwa setiap orang memiliki bagian dan anugerah yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita tidak perlu terlalu sibuk menginginkan kehidupan orang lain hingga lupa dengan kehidupan sendiri. Yang paling penting adalah terus berusaha, meningkatkan kemampuan, meminta karunia dari Allah, dan tetap bersyukur atas setiap langkah yang sedang dilalui.
Jadi, daripada memilih iri, mengapa tidak memilih untuk terinspirasi? Daripada terus membandingkan, mengapa tidak mulai bersyukur? Karena pada akhirnya, media sosial mungkin dapat menunjukkan pencapaian orang lain, tetapi hanya kita sendiri yang dapat menentukan bagaimana menjalani dan menghargai perjalanan hidup kita.
Referensi
Denisa, R. (2026). Iri yang Tidak Pernah Diakui: Bagaimana Kehidupan Orang Lain Mengubah Cara Kita Melihat Diri dan Kehidupan. GuinEvel Editions.
Nasrullah, I. (2016). Tuhan, Maaf, Kami Belum Bersyukur. Mizan Mizania.
Richardus Muga, D. (2026). Manajemen Mindset: Ubah Cara Berpikir, Ubah Masa Depan. PT KIMHSAFI ALUNG CIPTA.









