“Tidak semua yang tampak berhasil benar-benar bahagia. Dan tidak semua yang masih berproses berarti sedang gagal.” Memasuki Usia 20-an sering kali di lihat sebagai fase pencarian jati diri. Pada fase ini, seseorang mulai berhadapan dengan berbagai pilihan pilihan besar dalam hidup. Setelah bertahun-tahun berada dalam lingkungan pendidikan, seseorang mulai dituntut untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Mau bekerja di mana? Mau melanjutkan studi dimana? Kapan menikah? Kapan memiliki penghasilan tetap? Kapan bisa membeli rumah? Kapan bisa membahagiakan orang tua?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya tidak selalu salah. Tetapi Masalahnya muncul ketika pertanyaan itu berubah menjadi tekanan. Seolah-olah ada jadwal kehidupan yang wajib diikuti semua orang. Lulus kuliah pada usia tertentu dianggap ideal. Mendapat pekerjaan sebelum usia tertentu dianggap sukses. Melanjutkan S2 dianggap lebih baik. Menjadi ASN dianggap sebagai pencapaian besar dalam hidup .berumah tangga di usia muda dianggap telah menemukan kepastian hidup. Memiliki penghasilan banyak dianggap sebagai tanda bahwa seseorang telah berhasil. Oleh karena itu, sebagian anak muda tidak lagi bertanya, “Apa yang sebenarnya ingin aku jalani?” tetapi mulai bertanya, “Apa yang harus aku capai agar dianggap berhasil pasti seperti itu yang ada di fikiran kita kan?”
Di sinilah validasi mulai mengambil tempat. Validasi/pengakuan pada dasarnya adalah kebutuhan manusia untuk merasa diterima, dihargai, dan diakui oleh seseorang. Keinginan untuk mendapatkan apresiasi dari seseorang bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Setiap manusia sudah pasti senang ketika usaha mereka dihargai. Namun, ketika nilai diri kita sepenuhnya bergantung pada penilaian manusia, seseorang itu akan mudah kehilangan ketenangan.
Hari ini dipuji, bahagia. Besok tidak mendapatkan apresiasi, mulai merasa tidak berharga, Hari ini unggahan mendapatkan banyak likes, merasa hidup baik-baik saja. Ketika unggahan berikutnya sepi, mulai bertanya-tanya apa yang kurang dari diriku ya?. Akhirnya, hidup berubah menjadi siklus perbandingan yang tidak pernah selesai.
Di tengah hiruk-pikuk itu, stop mengejar validasi Yuk pulang ke Al-Qur’an. Al Qur’an menawarkan sesuatu yang tidak diberikan dunia yaitu ketenangan. ketenangan bukan karena semua masalah selesai, tetapi ketenangan karena hati menemukan tempat pulang Ketika dunia terus mendorong manusia mengejar validasi dan Al-Qur’an justru mengajak manusia kembali menenangkan hati. Allah Swt berfirman:
اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini seolah menjadi pelukan bagi siapa saja yang sedang lelah oleh dunia . Allah tidak meminta kita menjadi yang paling hebat, yang paling cepat, atau paling sempurna. Tetapi Allah hanya mengajak kita kembali kepada-Nya. Sebab, ketika hubungan kita dengan Allah diperbaiki, hati perlahan memahami bahwa hidup bukanlah perlombaan untuk menjadi lebih unggul dari orang lain,melainkan perjalanan untuk semakin dekat kepada Sang Khaliq.
So It’s okey, kalau akhir-akhir ini kamu merasa hidup terasa berat banget, overthinking setiap malam, atau diam-diam menangis karena merasa tertinggal. Sudah saatnya berhenti mengejar tepuk tangan manusia. Sudah saatnya pulang. Pulang kepada Al-Qur’an. Sebab, tidak semua luka membutuhkan jawaban dari dunia. Ada luka yang hanya bisa sembuh ketika hati kembali mengingat Allah .
Jika tujuan hidup sudah dibangun di atas validasi manusia, pencapaian tidak akan pernah benar-benar terasa cukup Inilah salah satu jebakan kehidupan modern: manusia dibuat terus merasa kurang. Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat begitu dekat, sementara proses hidup mereka tidak pernah kita lihat secara utuh. Kita melihat postingan seorang teman kita telah wisuda, tetapi kita tidak melihat malam-malam ketika ia menangis karena skripsinya. Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan yang ia impikan, tetapi kita tidak melihat berapa ratus CV lamaran yang selalu ditolak oleh perusahaan. Kita sering membandingkan bab pertama hidup kita dengan bab kesepuluh hidup orang lain Padahal, setiap manusia memiliki halaman yang berbeda beda. Oleh Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa hidupmu tertinggal hanya karena perjalananmu berbeda.
Kamu Tidak Terlambat, Kamu Hanya Sedang Berjalan Pada Jalanmu Sendiri
Yang perlu dilakukan sekarang bukan terus-menerus mengejar validasi, tetapi belajar membangun validasi dari dalam diri sendiri melalui hubungan yang lebih dekat dengan Allah. Salah satu caranya adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai teman perjalanan Bukan hanya membacanya ketika sedang sedih Bukan hanya membukanya ketika memiliki banyak masalah Tetapi menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari misalnya Ketika hati kita gelisah, buka Al Qur’an. Ketika bingung mengambil keputusan, perbanyak zikir Do’a dan dekatkan diri kepada Allah . Ketika merasa tertinggal, ingatlah bahwa Allah tidak pernah salah dalam menentukan tempat dan waktu.
Referensi
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya Edisi Penyempurnaan 2019. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 6. Jakarta: Lentera Hati.
Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480.
Robbins, A., & Wilner, A. (2001). Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties. New York: Tarcher/Putnam.









