Beranda / Psikologi & Kesehatan Mental / Menjadi Orang Tua Melampaui Pengasuhan: Pendidikan, Keteladanan, dan Pembentukan Kepribadian Anak

Menjadi Orang Tua Melampaui Pengasuhan: Pendidikan, Keteladanan, dan Pembentukan Kepribadian Anak

Menjadi orang tua adalah salah satu amanah yang besar yaitu membentuk manusia yang memiliki iman, akhlak, karakter, dan cara pandang yang baik dalam menjalani kehidupannya. Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang mampu memenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga membutuhkan sosok yang mampu menjadi teladan, tempat belajar, tempat bertanya, tempat bercerita, sekaligus tempat pertama untuk mengenal nilai-nilai agama di dalam hidupnya

Di sinilah konsep parenting Qur’ani menjadi penting. Nah Parenting Qur’ani bukan sekadar memasukkan aktivitas Mengaji, Ngafal Al-Qur’an, atau mengajarkan doa- doa kepada anak. Lebih jauh daripada itu, parenting Qur’ani adalah pola pengasuhan yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai awal dalam membangun hubungan orang tua kepada anak: bagaimana orang tua berbicara, memberikan kasih sayang, mendidik, menegur, menetapkan batasan, menjadi teladan, bahkan bagaimana orang tua berdoa untuk masa depan anak.

Al-Qur’an tidak menyajikan teori parenting dalam bentuk buku panduan modern. Akan tetapi , Al-Qur’an menghadirkan kisah-kisah keluarga yang kaya akan nilai – nilai pendidikan. Kita menemukan keluarga Nabi seperti Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ya‘qub, Nabi Zakariya, keluarga Imran, Nabi Nuh, dan kisah Luqman yang dialognya dengan anak diabadikan secara khusus di dalam Surah Luqman.

Oleh Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Bagaimana cara kita mendidik anak?” tetapi juga, “Orang tua seperti apa yang sedang kita bentuk dalam diri kita sebelum kita mendidik anak? Sebab anak tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan orang tua. Anak belajar dari bagaimana orang tua menjalani kehidupannya .

Mari mengkaji QS. Luqman :13. Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan gambaran yang sempurna tentang pendidikan anak. Qs. Luqman tidak memulai nasihatnya dengan persoalan duniawi, tetapi dengan tauhid. 

Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَٰنُ لِٱبْنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَىَّ لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِ ۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar “ (QS. Luqman [31]:13).

Setelah tauhid, QS. Luqman juga menanamkan kesadaran bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan yang di lakukan, bahkan sesuatu yang sangat kecil sekalipun:

يَٰبُنَىَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍۢ مِّنْ خَرْدَلٍۢ فَتَكُن فِى صَخْرَةٍ أَوْ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوْ فِى ٱلْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا ٱللَّهُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“Wahai anakku! Sungguh, jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya balasan. Sungguh, Allah Maha halus, Mahateliti.” (QS. Luqman [31]:16).

Selanjutnya, pendidikan di bimbing kepada ibadah dan pembentukan karakter anak:

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

“Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (QS. Luqman [31]:17).

Kemudian Luqman mengajarkan kerendahan hati dan etika sosial, termasuk larangan bersikap sombong dan meninggikan suara:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman [31]:18).

Rangkaian ayat di atas memperlihatkan bahwa parenting Qur’ani bersifat universal. Pendidikan anak tidak hanya berorientasi pada kecerdasan saja, tetapi mencakup tauhid, kesadaran spiritual, ibadah, moral, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, dan kemampuan berinteraksi dengan sesama. Lebih menariknya, seluruh nasihat tersebut disampaikan dengan panggilan penuh kasih sayang, “yā bunayya” “wahai anakku” Sebuah panggilan kasih sayang Ini menunjukkan bahwa dalam pendidikan Qur’ani, nasihat yang baik bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana hati yang menyampaikannya.

1. Parenting Qur’ani: Ketika Pengasuhan Dimulai dari Diri Orang Tua

Dalam banyak pembicaraan tentang parenting, perhatian sering diarahkan kepada anak: bagaimana anak disiplin, bagaimana anak rajin belajar, bagaimana anak sopan, bagaimana anak mencintai agama, dan bagaimana anak sukses. Namun Al-Qur’an mengajarkan perspektif yang lebih mendalam. Pendidikan anak tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidiknya yaitu orang tua. Orang tua menginginkan anak berkata jujur, tetapi apakah anak melihat kejujuran dalam diri orang tuanya? Orang tua menginginkan anak rajin shalat, tetapi apakah anak menyaksikan orang tuanya menjaga shalat? Orang tua berharap anak berbicara lembut, tetapi bagaimana cara orang tua berbicara ketika sedang marah? Bisa kita lihat disini bahwa Anak memiliki kemampuan luar biasa untuk meniru. Oleh Karena itu, parenting Qur’ani tidak dimulai dari kalimat, “Anakku harus menjadi baik.” Parenting Qur’ani dimulai dari pertanyaan, “Apakah aku telah menjadi teladan yang layak untuk ditiru untuk?”

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6

Ayat ini sangat menarik karena perintah menjaga keluarga didahului dengan menjaga diri. Ada pesan pendidikan yang sangat kuat: perubahan keluarga dimulai dari orang yang mengasuhnya yaitu (orang tua)

2. Nabi Ibrahim: Parenting yang Berorientasi pada Tauhid dan Masa Depan anak

Salah satu figur keluarga yang paling kuat dalam Al-Qur’an adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām. Kisah beliau tidak hanya menggambarkan sosok seorang ayah yang taat dan beriman kepada Allah, tetapi juga menghadirkan paradigma pendidikan keluarga yang berorientasi pada tauhid, ibadah, keteladanan,serta kesiapan menghadapi masa depan. Lebih dari itu, perhatian Nabi Ibrahim terhadap anak dan keturunannya tidak berhenti pada keberhasilan duniawi saja. Ketika beliau memohon kepada Allah untuk keluarganya, do’a utamanya ialah agar keturunannya tetap berada dalam jalan tauhid dan memiliki kehidupan yang dekat dengan Allah.

Hal ini memberikan dampak penting bagi pola pengasuhan pada masa kini. Di era digital ini, orang tua sering kali disibukkan dengan berbagai persiapan untuk masa depan anak: mulai dari memilih sekolah terbaik, Les bahasa asing, serta mengejar prestasi akademik, hingga memikirkan karier yang kelak akan dijalani si anak tersebut. Semua itu tentu memiliki nilai penting. Tapi, parenting Qur’ani mengajarkan bahwa ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar, “Anakku kelak akan menjadi seperti apa yaa?” Pertanyaan yang lebih fundamental adalah, “Apakah anakku mengenal Allah?”

Orientasi tersebut dapat ditemukan dalam doa Nabi Ibrahim untuk keturunannya. Dalam QS. Ibrāhīm [14]: 35, beliau berdoa agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan terhadap berhala. Kemudian dalam QS. Ibrāhīm [14]: 40, Nabi Ibrahim seraya memohon, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat.” Rangkaian doa tersebut menunjukkan bahwa perhatian seorang ayah terhadap masa depan anak tidak hanya berbicara tentang kehidupan yang akan datang di dunia, tetapi juga tentang bagaimana anak memiliki hubungan yang benar dekat dengan Allah.

Dari sini terlihat bahwa Nabi Ibrahim membangun pendidikan keluarga dari fondasi yang paling mendasar yaitu tauhid. Sebelum berbicara tentang pencapaian, keterampilan, dan masa depan, seorang anak perlu diperkenalkan kepada siapa ia ber Tuhan, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa seluruh kehidupannya akan ia pertanggungjawabkan. 

Keteladanan Nabi Ibrahim semakin kuat dalam kisah penyembelihan anaknya Nabi Ismail. Peristiwa tersebut memperlihatkan sudut pandang dari pendidikan keluarganya, yaitu komunikasi antara orang tua dan anak. Ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah melalui mimpinya.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102)

Ayat ini menunjukkan pentingnya komunikasi dalam pendidikan anak. Nabi Ibrahim menyampaikan persoalan yang amat berat kepada Ismail dengan panggilan penuh kasih, “yā bunayya”—“wahai anakku”.  Respons Ismail juga memperlihatkan hasil dari pendidikan tauhid yang telah tertanam dalam dirinya. Ia menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 102).  

Di tengah ujian yang sangat berat yang di lalui, ia menunjukkan sikap sabar, ikhlas, dan penuh tawakal kepada Allah. Sikap tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tauhid yang ditanamkan sejak dini mampu membentuk pribadi yang kuat dalam menghadapi ujian kehidupan.

3. Nabi Ya‘qub: Orang Tua yang Memikirkan Iman Anak Bahkan Menjelang Wafat.

Kisah Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam menunjukkan kepada kita bahwa perhatian orang tua terhadap anak tidak berhenti pada kebutuhan duniawi, tetapi terutama pada keselamatan iman mereka. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana Nabi Ya‘qub tetap memikirkan akidah anak-anaknya bahkan ketika beliau berada di penghujung sebelum wafat . Allah berfirman:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِي ۖ قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

“Apakah kamu menjadi saksi ketika kematian datang kepada Ya‘qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kami hanya berserah diri kepada-nya (QS. Al-Baqarah [2]: 133)

Nah Ayat ini memperlihatkan kita sebuah gambaran parenting yang sangat mendalam. Ketika kematian telah mendekat, Nabi Ya‘qub tidak bertanya kepada anak-anaknya tentang harta yang akan ia warisi, kedudukan, atau kehidupan dunia setelah beliau wafat. Pertanyaan yang beliau lontarkan justru menyentuh perkara paling penting “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”

Pertanyaan itu menunjukkan bahwa kecemasan terbesar sebagai seorang ayah bukan sekadar apakah anaknya sukses duniawi, tetapi apakah anaknya tetap berada di jalan iman ketika orang tua sudah tidak lagi mendampingi mereka di dunia. Nabi Ya‘qub memahami bahwa harta dapat diwariskan, ilmu dapat diajarkan, tetapi iman harus dijaga dan diwariskan melalui pendidikan, keteladanan, dan doa.

Kisah ini memberikan pelajaran penting dalam parenting Qur’ani yaitu keberhasilan orang tua bukan hanya ketika anak memiliki pendidikan tinggi, pekerjaan yang baik, atau kehidupan yang mapan, ketika setelah orang tua tiada, apakah anak masih mampu menjaga hubungan-Nya dengan Allah. Kisah Nabi Ya‘qub menjadi pelajaran bagi kita bahwa menjadi orang tua berarti mempersiapkan anak untuk tetap berjalan kepada Allah ketika tangan orang tua sudah tidak lagi mampu menggandengnya.

4. Nabi Muhammad SAW: Parenting dengan cinta dan Kasih Sayang 

Salah satu teladan terbaik dalam menjalankan peran parenting adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak hanya dikenal sebagai Rasulullah, tetapi juga sebagai sosok yang memiliki kelembutan luar biasa dalam berinteraksi dengan anak-anak. Nabi Muhammad SAW. merupakan figur utama yang dapat dijadikan rujukan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Keteladanan tersebut ditegaskan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW merupakan uswah hasanah atau teladan yang baik bagi umat Islam. Keteladanan Rasulullah tidak hanya tercermin dalam aspek ibadah dan kehidupan sosial, tetapi dalam cara membangun hubungan dengan anak-anak. Salah satu bentuk kasih sayang yang ditunjukkan Nabi SAW adalah kebiasaan beliau mencium anak-anak. Dalam sebuah riwayat, al-Aqra‘ bin Habis beliau melihat Nabi SAW mencium cucunya al-Hasan bin Ali r.a. al-Aqra’ kemudian menyampaikan bahwa dirinya memiliki sepuluh orang anak, tetapi tidak pernah mencium salah seorang pun dari mereka. Mendengar pernyataan tersebut, Nabi Rasulullah bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, keteladanan Nabi Muhammad ﷺ menunjukkan bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya dilakukan melalui pemberian nasihat, aturan, dan tuntutan, tetapi perlu dibangun melalui kasih sayang yang nyata. Anak yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang akan memiliki ruang yang lebih baik untuk membangun kepercayaan kepada orang tua sehingga proses penyampaian nilai-nilai keagamaan dan moral dapat berlangsung secara lebih efektif. Kasih sayang dalam parenting Islam bukan sekadar bentuk kelembutan emosional, akan tetapi merupakan salah satu prinsip pendidikan yang mendukung pembentukan kepribadian, akhlak, dan keimanan anak.

5. Abdullah bin Abbas: Mendidik Anak dengan Doa dan Kedekatan

Di antara sahabat yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan Rasulullah ﷺ adalah Abdullah bin Abbas رضي الله عنه. Beliau dikenal sebagai seorang sahabat yang memiliki pemahaman ilmu yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ juga selalu mendoakan Abdullah bin Abbas agar memperoleh pemahaman agama dan ilmu. Kedekatan dengan Nabi sejak usia muda menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan intelektual Abdullah bin Abbas.

Disini kita mendapat pelajaran:Anak tidak hanya membutuhkan instruksi; anak membutuhkan kedekatan dengan orang-orang yang menyayanginya .Orang tua yang menginginkan anak mencintai ilmu Orang tua harus menciptakan suasana rumah yang mencintai ilmu juga .Jika ingin anak mencintai Al-Qur’an, jangan hanya menyuruhnya membaca Al-Qur’an. Tetapi jadilah orang tua teladan yang menjaga Al Qur’an dan Biarkan ia melihat orang tuanya membaca Al-Qur’an.

6. Sirah Nu‘man bin Basyir: Jangan Membandingkan Anak

Di dalam kehidupan berkeluarga, membandingkan anak sering kali dianggap sebagai cara untuk memotivasi. Orang tua sering kali kali melontarkan kata kata “coba lihat kakakmu, kenapa kamu tidak bisa seperti dia?” atau “ coba lihat Temanmu, kenapa kamu tidak bisa seperti dia ?” Kalimat semacam ini tampak biasa saja, tetapi jika dilakukan berulang kali dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Anak dapat merasa kurang dihargai, bahkan menganggap kasih sayang orang tua bergantung pada pencapaian tertentu. Islam justru mengajarkan prinsip keadilan dan kasih sayang dalam memperlakukan anak. Salah satu peristiwa yang menggambarkan prinsip tersebut terdapat dalam sirah sahabat Nu‘man bin Basyir r.a.

Nu‘man bin Basyir r.a. beliau merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang meriwayatkan sejumlah hadis. Ayah Nu‘man adalah Basyir bin Sa‘d, beliau pernah memberikan sesuatu kepada Nu‘man, kemudian ibunya, ‘Amrah binti Rawahah, meminta agar pemberian tersebut disaksikan dan mendapatkan persetujuan Rasulullah SAW. Basyir kemudian datang kepada Nabi SAW dan meminta beliau menjadi saksi atas pemberian tersebut. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Nabi SAW bertanya apakah seluruh anak Basyir mendapatkan pemberian yang sama. Ketika basyir menjawab tidak, Nabi SAW bersabda:

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap anak-anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memberikan perhatian serius terhadap persoalan keadilan dalam keluarga. Walaupun secara lahiriah peristiwa tersebut berkaitan dengan pemberian kepada anak, prinsip yang terkandung di dalamnya memiliki makna yang lebih luas dalam pengasuhan. Anak membutuhkan perlakuan yang adil agar tidak tumbuh dalam suasana persaingan yang dibentuk oleh orang tuanya sendiri. Keadilan bukan berarti semua anak harus diperlakukan secara sama dalam setiap keadaan, tetapi setiap anak perlu diperlakukan dengan penuh pertimbangan, penghormatan, dan tanpa perlakuan yang menimbulkan ketidakadilan.

Referensi:

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.

Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.

Ibn Katsir, Ismail bin Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azim. Riyadh: Dar Tayyibah li al-Nasyr wa al-Tauzi‘.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *