Tepat pada pukul sepuluh tengah malam, ketika dinding kamar menyempit dan keheningan mendadak bising, sebuah generasi sedang bertarung dengan kepalanya sendiri. Dalam istilah psikologi modern, mereka menyebutnya Quarter Life Crisis (QLC) sebuah fase krusial di mana masa depan mendadak berubah menjadi monster yang mengintimidasi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul selalu seragam, berputar pada poros yang sama: “Umurku sudah segini, kok masih belum sukses?” “Jodohku siapa?” “Bagaimana kalau di cap gagal?”
Coba periksa apa saja isi kepala kita saat sedang overthinking malam-malam. Secara ontologis, semua jawaban dari pertanyaan itu berada di wilayah ghaib. Belum terjadi. Misteri total. seluruh kecemasan tersebut bermuara pada satu titik, ketakutan akut pada “The Unseen” yakni hal ghaib, yang belum mewujud, yang masih terkunci rapat di balik tembok waktu. Mengenai wilayah misteri ini, Al-Qur’an telah memberikan garis tegas dalam Surah Al-An’am ayat 59:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”
Menariknya, peradaban Islam memiliki satu monumen teologis yang juga berurusan dengan wilayah ghaib ini yaitu Peristiwa Isra Mi’raj. Di sinilah letak ironi eksistensial kita hari ini. Bedanya hanya pada respons kita. Dalam Isra Mi’raj, kita diminta untuk percaya pada yang ghaib. Sementara dalam QLC, kita justru terjebak dalam ketakutan yang luar biasa pada yang ghaib.
Titik rapuh anak muda hari ini terletak pada ambisi yang keliru arah, sebab mereka memaksa menyisir wilayah ghaib masa depan dengan sisir logika yang patah. Kita kerap bertindak seolah-olah menjadi peramal bagi nasib kita sendiri. Kita menghitung peluang, mengkalkulasi probabilitas kesuksesan, lalu menyusun simulasi kegagalan di kepala secara rapi.
Hasilnya? Tentu saja error.
Akal manusia dirancang murni sebagai instrumen untuk berencana (ikhtiar) di hari ini, serta terbatas pada ruang waktu saat ini tanpa kemampuan mengontrol hasil di hari esok. Ketika akal yang terbatas ini dipaksa memikul beban tanpa batas, yang lahir adalah kelelahan mental yang akut. Kita terjebak dalam delusi kontrol, seolah-olah seluruh garis hidup ini ditentukan oleh ketukan jari kita di atas meja kalkulasi.
Di titik inilah, Isra Mi’raj hadir seperti sebuah tamparan keras bagi kedigdayaan logika manusia.
Ujian Akal di Sidratul Muntaha
Perjalanan lintas dimensi dari Makkah ke Palestina, lalu menembus tujuh lapis langit menuju Sidratul Muntaha hanya dalam waktu semalam adalah sebuah kegilaan bagi hukum fisika abad ke-7. Secara rasio, itu adalah kemustahilan.
Sebab itu, ujian terbesar dari peristiwa Isra Mi’raj bagi masyarakat Quraisy kala itu sepenuhnya bertumpu pada ketundukan akal, mengesampingkan kalkulasi kekuatan fisik. Apakah manusia bersedia menurunkan ego rasionya di hadapan Kuasa yang Maha Absolut? Atau mereka memilih menjadi sombong, menolak sebuah kebenaran universal hanya karena kapasitas otaknya tidak mampu menjangkau ruang kejadian?
Sejarah kemudian mencatat respons radikal dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tanpa berbelit-belit memikirkan teknis transportasi atau kecepatan mekanis, ia langsung berucap: “Jika Ia yang mengatakannya, maka aku percaya.”
Abu Bakar berhasil melompati perdebatan teknis karena dia telah selesai dan kokoh pada jawaban atas pertanyaan “Who” (Siapa yang menggerakkan perjalanan tersebut), sekaligus mengabaikan riuh rendah pertanyaan “How”.
Mengistirahatkan Akal, Mem-Mi’raj-kan Hati
Pelajaran berharga bagi manusia-manusia modern yang sedang babak belur dihantam cemas adalah menggeser fokus dari “How” menuju “Who”.
Kecemasan kita meledak karena kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya sukses, bagaimana caranya bertahan hidup, atau bagaimana caranya mengamankan masa depan di tengah ketidakpastian global. Kita lupa bahwa jika Allah mampu mengatur lalu lintas dimensi makro dalam Isra Mi’raj dengan presisi yang tanpa cacat, maka sangat naif jika kita menganggap-Nya akan keteteran hanya untuk merajut jalan karier dan rezeki seorang hamba.
Obat dari Quarter Life Crisis ternyata adalah sebuah seni spiritual yang tinggi dengan menudung logika dan mengistirahatkan akal dari tugas di luar kapasitas porsinya. Biarkan takdir menjadi takdir. Biarkan urusan masa depan tetap menjadi milik Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Tugas kita sepenuhnya terbatas pada merawat proses dengan sebaik-baiknya sujud dan ikhtiar, menyerahkan kepastian hasil kepada Pemilik Semesta.
Ketika malam kembali larut dan cemas itu mulai mengetuk pintu pikiran, cobalah untuk “mem-mi’raj-kan” frekuensi hati kita. Naikkan getarannya dari logika yang penuh ketakutan menuju iman yang penuh kepasrahan. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Jangan pernah berlagak menjadi Tuhan dengan mencoba mengambil alih tugas-Nya dalam menentukan takdir akhir.
Kita hanyalah hamba yang diperintah untuk meminta, sementara posisi penjamin dari doa-doa yang kita luhurkan sepenuhnya berada di tangan-Nya. Lepaskan kendali yang memang tak pernah berada di genggamanmu, sebab masa depanmu boleh jadi ghaib, namun Penjamin masa depanmu adalah sebuah Kenyataan yang Mutlak.









