Beranda / Tafsir Kontekstual / Dari Kepatuhan Menuju Pemahaman: Membangun Pembelajaran Agama yang Dialogis

Dari Kepatuhan Menuju Pemahaman: Membangun Pembelajaran Agama yang Dialogis

Apakah pernah terpikirkan pertanyaan mengapa banyak Masyarakat Islam yang susah untuk berfikir rasional dalam beragama? Pertanyaan itu mucul dalam pikiran penulis setelah melihat fenomena di sekitar yang kemudian ingin lebih mengrtahui bagaimana proses terbentuknya pola fikir seperti itu. Salah satu factor yang dapat memengaruhi fenomena tersebut dapat terletak pada bagaimana metode penyampaian ajaran islam kepada masyarakat.

Pengetahuan agama yang disampaikan kepada Masyarakat awam umumnya hanya terfokus pada apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sedangkan persoalan tentang bagaimana ajaran dipahami tidak banyak ditemui. Umumnya, masyarakat hanya menerima ajaran itu secara mentah-mentah dan tanpa mengetahui alasan dibaliknya. Hal itu dapat membuat kemampuan berpikir seseorang dalam beragama menjadi kurang berkembang.  Untuk mengatasai masalah sulitnya berpikir rasional dalam beragama tentunya diperlukan metode pembelajaran yang lebih dialogis, kontekstual dan mendorong pemahaman terhadap ajaran. 

Seharusnya Masyarakat diajarkan untuk mengenal lebih dulu tentang dasar-dasar agama, supaya keimanan mereka tertanam dengan kuat di hati. Setelah itu Masyarakat diajak untuk berpikir tentang mengapa agama memerintahkan hal seperti itu. Bukan langsung menyampaikan kepada mereka tentang apa yang harus di lakukan. Mereka juga harus diberi tahu tentang apa alasan di balik perintah itu.

Beberapa ayat di dalam Al-Qur’an juga tidak sedikit menggunakan ungkapan yang mendorong manusia untuk menggunakan akalnya, seperti: yandzurun (memerhatikan), yatafakkarun (brfikir), dan ya’qilun (memahami dengan akal). Dari sini kita mengetahui bahwa Al-Qur’an tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga disebutkan berkali-kali untuk mengajak manusia dalam menggunakan akalnya. Disebutkan juga pada QS Ali Imran 190-191:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ۝١٩٠ الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ۝١٩١

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka”. (QS Ali Imran: 190-191)

Ayat 190 terdapat lafal Ulul Albab yang diartikan oleh Ibn Katsir sebagai orang yang berakal. Pada ayat selanjutnya terdapat pula lafal Yatafakkarun yang menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk merenungkan kekuasaan Allah. Dari gambaran tersebut dapat diketahui jika berpikir secara mendalam bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan keimanan. Karena Al-Qur’an menggambarkan penggunaan akal merupakan bagian karakter dari orang beriman. 

Ketika kita mengoptimalkan fungsi otak untuk merenungkan penciptaan alam semesta, mencari lebih jauh lagi tentang keagungan Allah dan pada akhirnya mendapat suatu pengetahuan. Maka itu termasuk kekuasaan Allah yang telah memberikan akal sehingga kita  dapat menemukan hal baru dari hasil proses berfikir. Pada akhirnya keimanan kita pun mulai bertambah karena menyadari betapa luasnya kebesaran Allah. 

Dorongan untuk berfikir dan memahami ajaran islam juga dapat dilihat dari metode penyampaian nabi kepada sahabat. Salah satunya pada hadits yang menceritakan ketika malaikat Jibril menemui nabi Muhammad dalam wujud seorang laki-laki dan bertanya tentang beberapa persoalan mengenai islam, iman, ihsan dan hari akhir. Setelah nabi menjawab persoalan itu, beliau kemudian menyampaikan maknanya kepada para sahabat.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa dalam metode penyampaian ajaran, nabi menggunakan sarana dialog dan tanya jawab. Yang menunjukkan penyampaian tidak hanya disampaikan dari  satu arah.Selain mendorong manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya, Al-Qur’an juga menggambarkan pentingnya mendengar dan memilih pendapat yang paling baik. Dikatakan pula pada QS Az-Zumar 18: 

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝١٨

Artinya: (Yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah ululalbab (orang-orang yang mempunyai akal sehat). (QS Az-Zumar: 18)

Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa seseorang yang menggunakan akalnya tidak akan menerima suatu perkataan secara langsung. Mereka mendengarkan terlebih dahulu dan memilih mana yang dianggap lebih baik. Ini menunjukkan jika kita ingin menarik suatu kesimpulan, maka kita perlu untuk mendengar, memilah dan memilih.

Setelah mengetahui pesan dari beberapa ayat yang telah disebutkan diatas. Masyarakat perlu diberi kesempatan untuk mengetahui alasan dan tujuan dari apa yang diajarkan. Ketika hanya sebatas melakukan perintah tanpa mengetahui alasan dan konteksnya, maka akan menyebabkan pemahaman terhadap agama terbatas pada kepatuhan semata.

Jika masyarakat diajak untuk bertanya, mendengarkan, menemukan alasan dan memahami konteksnya. Maka dengan sendirinya akan memunculkan pemahaman keagamaan yang lebih mendalam. Inilah persoalan yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran terhadap masyarakat. Masalahnya bukan ada pada ajaran yang harus selalu dipertanyakan, tetapi pada bagaimana ajaran itu disampaikan dan dipahami. Tujuan dari pembelajaran agama bukan hanya sebatas untuk mengetahui nilai-nilai dalam agama, tetapi juga untuk memberikan pemahaman terhadap agama dengan baik.

Referensi

Fazrina, L., Delsi, N., & Fariq, W. M. (2025). Metode tanya jawab perspektif hadis. Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(6), 729–738.

Haerudin, U. M., & Inayah, A. (2022). Nilai pendidikan dalam perspektif al-Hadits Jibril. Jurnal Kelola: Jurnal Ilmu Sosial, 5(2), 124–131.

Hendrayadi, Syafruddin, & Rehani. (2023). Berpikir kritis dalam perspektif pendidikan Islam. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran (JRPP), 6(2), 2382–2391.

Nurfadilah, A., Fauziah, D. N., & Ulya, N. (2025). Konsep critical thinking berbasis Ulul Albab dalam Al-Qur’an dan implementasinya di Pesantren Asshiddiqiyah 3 Karawang. Al-Afkar: Journal for Islamic Studies, 8(3), 417–432.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *