Beranda / Tafsir Kontekstual / Ketika Simbol Menjadi Ukuran Kesalehan: Kritik Al-Qur’an terhadap Formalisme Keberagamaan

Ketika Simbol Menjadi Ukuran Kesalehan: Kritik Al-Qur’an terhadap Formalisme Keberagamaan

Dalam kehidupan manusia, bentuk dan simbol merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai aktivitas sosial. Hal-hal yang tampak secara lahiriah biasanya lebih mudah dikenali dan menjadi dasar penilaian awal terhadap seseorang. Padahal, apa yang terlihat belum tentu sepenuhnya menggambarkan nilai dan kualitas keberagamaan yang sesungguhnya.

Agama pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada aspek yang bersifat lahiriah dan formal, karena setiap ajaran dan praktik keagamaan memiliki nilai, tujuan, serta pesan moral yang hendaknya diwujudkan dalam kehidupan, sehingga ibadah tidak semestinya dipahami hanya sebagai rangkaian ucapan dan gerakan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan ketakwaan dan akhlak.

Permasalahan muncul ketika perhatian terhadap bentuk keagamaan justru menggeser perhatian terhadap nilai yang menjadi tujuan di baliknya. Seseorang dapat sangat menonjolkan simbol dan praktik keagamaan, tetapi kurang menghadirkan kejujuran, keadilan, dan kepedulian dalam kehidupan sosial.

Demikian pula, pelaksanaan ritual secara lahiriah dapat terlihat sempurna tanpa diikuti perubahan moral dalam perilaku sehari-hari. Kondisi semacam ini menunjukkan adanya kecenderungan keberagamaan yang berhenti pada aspek formal dan simbolik. Agama akhirnya tampak kuat dalam bentuk, tetapi belum tentu kuat dalam nilai dan pengaruh moralnya.

Al-Qur’an memberikan perhatian terhadap pentingnya memahami nilai yang berada di balik praktik keagamaan. Dalam QS. al-Ḥajj [22]: 37, Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah kurban, melainkan ketakwaan dan rasa syukur manusia, demikian penjelasan Ibnu Asyur dalam tafsirnya “At-Tahrir Wa At-Tanwir” (Ibnu Asyur, 1984, vol.17: h.627). Pesan tersebut menunjukkan bahwa dimensi lahiriah ibadah harus memiliki keterkaitan dengan nilai batin yang menjadi tujuan pelaksanaannya.

Hal serupa terlihat dalam QS. al-Baqarah [2]: 177 yang tidak membatasi kebajikan pada persoalan arah menghadap semata. Ayat tersebut justru menekankan keimanan, kepedulian sosial, menepati janji, kesabaran, dan berbagai nilai kebajikan lainnya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Maraghi bahwa iman kepada Allah (yang bersifat batiniah) itulah yang menjadi dasar dari kebajikan (yang bersifat lahiriah), sehingga al-Birr (kebajikan) tidak hanya berupa tindakan lahiriah, tetapi berawal dari iman yang kokoh dan berpengaruh pada sikap batin (Al-Maraghi, 1946, vol.2, h.54)

Dalam QS. Fatir [35]: 28, Al-Qur’an tidak sekadar menyebut al-‘ulama’ sebagai sebuah identitas atau gelar, tetapi justru menghadirkan khasy-yah sebagai karakter yang menjadi ukuran utama seorang ulama. Secara struktur, ayat ini menggunakan jumlah fi‘liyyah untuk memberikan penekanan bahwa yang menjadi perhatian bukan semata-mata siapa yang disebut sebagai ulama, melainkan sifat dan kualitas yang seharusnya melekat pada sosok tersebut (Ahmad Husnul Hakim, 2022, h.184).

Dengan demikian, ayat ini menggeser ukuran kemuliaan dari bentuk menuju substansi. Bentuknya adalah status seseorang sebagai ulama, keluasan ilmu, gelar akademik, banyaknya karya, atau kedudukannya di tengah masyarakat. Namun, substansinya terletak pada sejauh mana ilmu tersebut melahirkan khasy-yah, yaitu kesadaran mendalam terhadap kebesaran Allah yang tercermin dalam sikap tunduk, hati-hati, dan bertanggung jawab dalam menjalankan kehidupan.

Perbincangan mengenai bentuk dan substansi tidak berarti bahwa salah satunya harus ditinggalkan. Bentuk tetap diperlukan karena menjadi media untuk mengekspresikan dan merealisasikan ajaran agama dalam kehidupan nyata. Namun, bentuk akan kehilangan makna apabila tidak disertai pemahaman dan penghayatan terhadap substansi yang melandasinya.

Sebaliknya, nilai-nilai substansial membutuhkan bentuk agar dapat diwujudkan secara konkret dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, persoalan yang perlu dihindari adalah ketika bentuk diperlakukan sebagai tujuan akhir sementara nilai yang dikandungnya justru diabaikan. Karena itu, perhatian terhadap substansi menjadi penting dalam membangun pola keberagamaan yang lebih matang dan bermakna. Sehingga dalam banyak hal, agama lebih menetapkan subtansi, bukan pada bentuknya. (M. Quraish Shihab dan Najwa Shihab, 2019, h. 2).

Pada akhirnya, pembahasan mengenai bentuk dan substansi menunjukkan bahwa keberagamaan tidak semestinya diukur hanya berdasarkan apa yang tampak secara lahiriah. Simbol, ritual, identitas, gelar, dan berbagai bentuk keberagamaan memang memiliki kedudukan penting sebagai sarana untuk mengekspresikan ajaran agama.  Namun, semua itu bukanlah tujuan akhir. Di balik setiap bentuk terdapat nilai dan tujuan yang menjadi substansi, sehingga keberagamaan akan kehilangan maknanya apabila bentuk tidak lagi berorientasi pada nilai yang dikandungnya.

Dengan demikian, pesan utama yang dapat ditarik adalah bahwa Al-Qur’an mengajarkan keberagamaan yang tidak berhenti pada bentuk, tetapi menembus kepada makna. Identitas harus dibuktikan dengan karakter, ilmu harus melahirkan ketundukan, ibadah harus membentuk akhlak, dan simbol harus merepresentasikan nilai yang dikandungnya.

Ukuran keberagamaan yang matang bukan semata-mata seberapa kuat seseorang menampilkan agamanya, melainkan seberapa jauh agama tersebut membentuk dirinya menjadi manusia yang bertakwa, berintegritas, adil, dan bermanfaat bagi kehidupan. Pada titik inilah substansi menjadi ruh dari setiap bentuk, sebab bentuk menunjukkan apa yang tampak, sedangkan substansi menunjukkan nilai yang sesungguhnya hidup di baliknya.

Daftar Pustaka:

Asyur, Ibnu (1984). At-Tahrir Wa At-Tanwir (Vol. 17). Dar at-Tunisiyyah

Hakim, Ahmad Husnul (2022). Kaidah Tafsir Berbasis Terapan (Pedoman Bagi Para Pengkaji al-Qur’an). Yayasan eLSiQ Tabarokarrahman.

Maraghi, Ahmad bin Musthafa (1946). Tafsir Al-Maraghi (Vol. 2). Syirkah Makhtabah Wa Matba’ah Musthafa al-Baabii al-Halbii.

Shihab, M. Quraish dan Najwa Shihab (2019) Shihab & Shihab: Bincang-Bincang Seputar Tema Populer  Terkait Ajaran Islam. Penerbit Lentera Hati.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *