Beranda / Tafsir Kontekstual / Siapa yang Kita Jadikan Sandaran? Refleksi Qur’ani melalui Film Spider-Man: Brand New Day

Siapa yang Kita Jadikan Sandaran? Refleksi Qur’ani melalui Film Spider-Man: Brand New Day

Manusia adalah makhluk yang membutuhkan sandaran. Ketika menghadapi masalah, kita mencari seseorang untuk bercerita. Ketika berada dalam kesulitan, kita berharap ada orang yang membantu. Bahkan, tanpa disadari, kita sering menggantungkan kebahagiaan kepada orang tertentu. Namun, apa yang terjadi ketika manusia yang kita jadikan sandaran ternyata pergi, mengecewakan, atau tidak mampu memenuhi harapan kita?

Pertanyaan tersebut menarik jika dibaca melalui perjalanan Peter Parker dalam film Spider-Man. Di balik sosok superhero yang mempunyai kekuatan luar biasa, Peter Parker tetaplah manusia yang mengalami kehilangan, kesepian, kekecewaan, dan keterbatasan. Perjalanan tersebut terlihat dalam beberapa film Spider-Man sebelum akhirnya sampai pada Spider-Man: Brand New Day.

Dalam Spider-Man: Homecoming (2017), Peter masih berada dalam tahap belajar menjadi Spider-Man. Ia mendapatkan arahan dari Tony Stark yang menjadi figur mentor baginya. Peter tidak hanya membutuhkan perlengkapan dan bantuan, tetapi juga membutuhkan pengakuan dari seseorang yang lebih berpengalaman. Tony menjadi salah satu figur yang membuat Peter merasa memiliki tempat untuk belajar dan berkembang.

Namun, sandaran tersebut tidak berlangsung selamanya. Dalam Spider-Man: Far from Home (2019), Peter harus menghadapi kehilangan Tony Stark. Ia kemudian bertemu Quentin Beck atau Mysterio, seseorang yang pada awalnya tampak dapat dipercaya. Peter kembali menaruh harapan kepada manusia. Akan tetapi, kepercayaan tersebut justru dimanfaatkan oleh Mysterio.

Di sini muncul persoalan penting, manusia dapat menjadi tempat berharap, tetapi manusia juga memiliki kemungkinan untuk mengecewakan. Perjalanan Peter semakin berat dalam Spider-Man: No Way Home (2021). Peter meminta bantuan Doctor Strange untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya. Namun, keadaan justru berkembang menjadi lebih kompleks. Pada akhirnya, Peter mengambil keputusan besar yang membuat orang-orang terdekatnya tidak lagi mengingat dirinya. Ia harus menerima kehilangan demi menyelamatkan orang lain.

Jika perjalanan tersebut dibaca secara keseluruhan, terlihat sebuah perubahan. Dalam Homecoming, Peter mencari mentor. Dalam Far From Home, ia belajar bahwa kepercayaan kepada manusia dapat berujung pada kekecewaan. Dalam No Way Home, ia harus menerima kehilangan orang-orang yang selama ini menjadi bagian penting kehidupannya.

Kemudian hadir Spider-Man: Brand New Day (2026). Marvel menggambarkan Peter Parker sebagai sosok yang menjalani kehidupan sebagai Spider-Man secara penuh waktu di dunia yang tidak lagi mengingat dirinya. Ia tetap berjuang memberantas kejahatan meskipun harus menghadapi tekanan kehidupan yang semakin berat.

Dari sini, perjalanan Spider-Man dapat dibaca bukan hanya sebagai kisah tentang superhero, tetapi juga sebagai gambaran manusia yang berkali-kali berhadapan dengan persoalan sandaran. Peter pernah memiliki mentor, sahabat, dan orang-orang yang mengenalnya. Namun, semuanya memiliki batas. Lalu muncul pertanyaan, ketika sandaran manusia memiliki batas, kepada siapa manusia seharusnya menggantungkan harapannya? Pertanyaan tersebut menemukan jawabannya dalam Al-Qur’an melalui konsep al-Shamad. Allah berfirman:

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah tempat bergantung.”

Firman tersebut terdapat dalam Q.S. Al-Ikhlas [112]: 2. Kata al-Shamad menunjukkan Allah sebagai tempat bergantung seluruh makhluk. Manusia membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk. Konsep tersebut menjadi menarik ketika dibaca bersama perjalanan Peter Parker. Spider-Man memang dapat menjadi tempat orang lain meminta pertolongan. Ia datang ketika orang lain berada dalam bahaya. Akan tetapi, dirinya sendiri tetap mempunyai keterbatasan. Ia dapat menyelamatkan orang lain, tetapi tidak selalu mampu menyelamatkan segala sesuatu yang ia cintai. Dengan demikian, manusia tidak mungkin menjadi sandaran mutlak bagi manusia lainnya.

Hal ini bukan berarti Islam melarang manusia berharap kepada manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia justru saling membutuhkan. Anak membutuhkan orang tua, murid membutuhkan guru, dan seseorang yang sedang mengalami kesulitan boleh meminta bantuan kepada orang lain. Manusia dapat menjadi perantara datangnya pertolongan. Persoalannya adalah ketika manusia menjadikan manusia lain sebagai sandaran mutlak. Ketika seluruh kebahagiaan dan masa depan digantungkan kepada satu manusia, kita sedang memberikan beban yang sebenarnya tidak mampu ditanggung oleh manusia tersebut.

Hal ini berkaitan dengan konsep tawakkal. Miswar dalam artikel “Konsep Tawakkal dalam Al-Qur’an” menjelaskan bahwa tawakkal bukanlah sikap pasif atau berhenti berusaha. Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, tawakkal berkaitan dengan keteguhan hati setelah manusia mengambil keputusan dan melakukan usaha. Artinya, bergantung kepada Allah tidak berarti manusia harus berhenti meminta bantuan kepada sesamanya. Manusia tetap melakukan ikhtiar, menggunakan sebab, dan meminta pertolongan ketika diperlukan. Namun, hati tidak menjadikan manusia sebagai tempat bergantung secara mutlak.

Di titik ini, Spider-Man menjadi refleksi yang menarik. Peter Parker dikenal sebagai sosok yang menyelamatkan orang lain, tetapi ia sendiri tetap membutuhkan sandaran. Ia mempunyai kekuatan, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengendalikan semua keadaan. Ia dapat menjadi tempat orang lain berharap, tetapi dirinya sendiri tetap menghadapi kehilangan dan kesepian. Hal tersebut sebenarnya dekat dengan kehidupan kita. Ada orang yang selalu terlihat kuat karena menjadi tempat orang lain meminta bantuan. Ada orang yang selalu mendengarkan masalah teman-temannya, tetapi dirinya sendiri sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan. Ada pula orang yang selalu memberikan semangat kepada orang lain, tetapi sebenarnya sedang berjuang dengan masalahnya sendiri.

Karena itu, pertanyaan tentang sandaran bukan hanya persoalan Peter Parker. Ia merupakan persoalan manusia secara umum. Salah satu penelitian tentang Spider-Man: Across the Spider-Verse menunjukkan bahwa film Spider-Man dapat dibaca melalui nilai-nilai kepahlawanan. Arupanjalu, Rhizky, dan Arifina menemukan nilai membantu, melindungi, keberanian, pengorbanan, dan integritas moral melalui analisis semiotika Roland Barthes.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa film Spider-Man memang dapat menjadi objek kajian nilai. Namun, pembacaan mengenai persoalan sandaran manusia dan ketergantungan kepada Allah masih membuka ruang kajian lain. Di sinilah film Spider-Man: Brand New Day dapat dibaca melalui perspektif Al-Qur’an. Peter Parker mungkin menjadi penyelamat bagi banyak orang. Namun, ia bukanlah sosok yang tidak terbatas. Ia tetap manusia yang dapat kehilangan, gagal, dan merasa sendirian. Kekuatan yang dimilikinya tidak membuat dirinya terbebas dari kebutuhan.Al-Qur’an mengingatkan dalam Q.S. Fatir [35]: 15:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.”

Ayat tersebut memperlihatkan posisi manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah. Sebesar apa pun kemampuan manusia, tetap ada batas yang tidak dapat dilewatinya. Maka, perjalanan Spider-Man dapat menjadi refleksi bahwa manusia boleh berharap kepada manusia, tetapi jangan menjadikan manusia sebagai sandaran mutlak. Kita boleh mencintai orang tua, mempercayai sahabat, meminta bantuan guru, dan menerima pertolongan orang lain. Namun, semua itu tetap berada dalam kesadaran bahwa manusia memiliki batas.

Pada akhirnya, Spider-Man: Brand New Day bukanlah tafsir terhadap Al-Qur’an. Film tersebut adalah fenomena budaya populer yang dapat menjadi pintu masuk untuk merefleksikan pesan Al-Qur’an tentang manusia dan sandarannya. Pertanyaan yang muncul setelah mengikuti perjalanan Peter Parker bukan hanya, “Siapa yang akan menyelamatkan kita?” Lebih jauh dari itu: “Ketika seluruh sandaran manusia memiliki batas, kepada siapa hati kita akhirnya bergantung?” Al-Qur’an memberikan jawaban yang sederhana, tetapi mendalam:

Daftar Pustaka

Miswar, “Konsep Tawakkal dalam Al-Qur’an,” Ihya al-Arabiyah: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Arab, Vol. 4, No. 1 (2018). DOI: 10.30821/ihya.v4i1.1497.

Gabriel Lintang Jati Arupanjalu, Deani Prionazvi Rhizky, dan Anisa Setya Arifina, “Heroism Representation of the Antagonist Character in the Film Spider-Man Across the Spider-Verse,” Journal of Communication, Media, and Development Studies (COMMEDIES), Vol. 2, No. 2 (2025), hlm. 1–9.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, pembahasan Q.S. Al-Ikhlas [112]: 2.

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, pembahasan Q.S. Al-Ikhlas [112]: 2.

Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, pembahasan Q.S. Al-Ikhlas [112]: 2 dan Q.S. Fatir [35]: 15.

Marvel, informasi resmi Spider-Man: Brand New Day.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *