Beranda / Metodologi Tafsir / Membongkar Epistemologi Kritik Stefano Bigliardi: Dekonstruksi Klaim Pseudosains dalam Tafsīr ‘Ilmī dan Iʿjāz ‘Ilmī

Membongkar Epistemologi Kritik Stefano Bigliardi: Dekonstruksi Klaim Pseudosains dalam Tafsīr ‘Ilmī dan Iʿjāz ‘Ilmī

Fenomena tafsīr ‘ilmī (tafsir ilmiah) dan i‘jāz ‘ilmī (kemukjizatan ilmiah al-Qur’an) telah menjadi salah satu wacana paling kontroversial dalam studi Islam kontemporer. Di satu sisi, ia menawarkan jembatan antara teks suci dan temuan sains modern; di sisi lain, ia dituding sebagai bentuk distorsi epistemologis yang mengorbankan integritas wahyu demi validasi sains. Di sinilah Stefano Bigliardi, filsuf sains Italia yang kini mengajar di Al Akhawayn University, Maroko, tampil sebagai kritikus paling sistematis.

Melalui karya-karyanya, terutama artikel seminal “The ‘Scientific Miracle of the Qur’ān,’ Pseudoscience, and Conspiracism” (2017)(Bigliardi, 2017: 146-171) dan monograf Islam and Pseudoscience (2025), (Bigliardi, 2025: 34) Bigliardi melancarkan serangan epistemologis yang tajam terhadap klaim-klaim ilmiah dalam tafsir . Ia tidak sekadar menolak i‘jāz ‘ilmī, tetapi membongkar fondasi logika, metodologi, dan psikologi sosial di baliknya—sebuah dekonstruksi yang mengguncang keyakinan banyak kalangan Muslim bahwa al-Qur’an “mengandung” seluruh pengetahuan ilmiah modern.

Memetakan Lanskap: Definisi, Sejarah, dan Kritik atas I‘jāz ‘Ilmī

Bigliardi memulai proyek kritisnya dengan memetakan secara cermat lanskap i‘jāz ‘ilmī, menelusuri akar historisnya hingga ke karya Maurice Bucaille—dokter Prancis yang bukunya La Bible, le Coran et la Science (1976) menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam gerakan ini. Ia mengidentifikasi beberapa tokoh kunci lainnya seperti Zaghloul El-Naggar dan Harun Yahya, yang ia sebut sebagai “produsen” utama klaim-klaim mukjizat ilmiah.(Bigliardi, 2017: 150)

Bigliardi tidak hanya mendeskripsikan fenomena ini; ia mengklasifikasikannya secara tipologis, membedakan antara i‘jāz yang bersifat apologetik (membela kebenaran al-Qur’an melalui sains) dan yang bersifat propagandistik (menggunakan sains sebagai alat dakwah). Yang lebih penting, ia menunjukkan bagaimana i‘jāz ‘ilmī sering kali bersinggungan dengan teori konspirasi—misalnya klaim bahwa penemuan ilmiah modern “sengaja disembunyikan” oleh Barat karena mengandung bukti kebenaran Islam.(Bigliardi, 2017: 162) Di sinilah kritik Bigliardi menjadi menggigit: ia menuduh bahwa i‘jāz ‘ilmī bukan sekadar penafsiran yang keliru, tetapi bagian dari ekosistem pemikiran yang secara sistematis memusuhi metode ilmiah itu sendiri.

Anatomi Pseudosains: Lima Cacat Epistemologis I‘jāz ‘Ilmī

Sumbangan paling signifikan Bigliardi adalah identifikasinya atas cacat-cacat fundamental dalam epistemologi i‘jāz ‘ilmī. Dalam Islam and Pseudoscience, ia menguraikan lima kelemahan utama: (1) cacat epistemologis—mengklaim bahwa kemunculan penemuan ilmiah dalam teks kuno adalah bukti kebenaran ilahi, padahal ini adalah post-hoc rationalization;(Bigliardi, 2025: 52) (2) cacat informasional—mengabaikan kontradiksi antara temuan sains dan teks;(Bigliardi, 2025: 58) (3) cacat interpretatif—membaca makna anakronistis ke dalam kata-kata Arab kuno; (4) cacat teologis—mereduksi kemukjizatan al-Qur’an dari aspek bahasanya yang tak tertandingi (i‘jāz bayānī) menjadi sekadar “kecocokan” dengan sains; dan (5) cacat institusional—para pendukungnya seringkali tidak memiliki kompetensi ilmiah yang memadai.(Bigliardi, 2025: 71-79)

Bigliardi menegaskan bahwa kelemahan-kelemahan ini membuat i‘jāz ‘ilmī memenuhi kriteria pseudosains: ia tampak ilmiah tetapi melanggar prinsip-prinsip dasar verifikasi eksperimental, peer review, dan falsifiabilitas.(Cusack, 2025: 112) Dengan demikian, ia menempatkan i‘jāz ‘ilmī dalam kategori yang sama dengan kreasionisme Islam, pengobatan kenabian yang diklaim ilmiah, dan penolakan terhadap teori evolusi .

Kritik yang Menggugat: Ketika Bigliardi Diserang Balik

Namun, dekonstruksi Bigliardi tidak luput dari kritik balik yang tajam. Salah satu respons paling frontal datang dari Andreas Tzortzis, penulis The Divine Reality, yang menuduh Bigliardi melakukan misrepresentasi dan kekurangan rigor analitis. (Tzortzis, 2025)Tzortzis menegaskan bahwa kritik Bigliardi terhadap “pengingkaran sains” dalam bukunya adalah kesalahpahaman; Tzortzis mengklaim bahwa ia tidak menolak sains, melainkan scientism—keyakinan berlebihan bahwa sains adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran.

Dalam tanggapannya yang terbit di Zygon (2025), Tzortzis menunjukkan bahwa Bigliardi gagal membedakan antara kritik terhadap sains sebagai metode dan kritik terhadap sains sebagai ideologi. Ia juga menyoroti bahwa Bigliardi mengabaikan diskusi tentang evolutionary reliabilism yang menjadi salah satu argumen sentral dalam bukunya—yakni bahwa evolusi tidak dapat menjelaskan secara memadai bagaimana akal manusia mencapai kebenaran .

Tuduhan ini menunjukkan bahwa meskipun kritik Bigliardi terhadap i‘jāz ‘ilmī kuat secara filosofis, ia mungkin terlalu cepat dalam menggolongkan semua bentuk skeptisisme terhadap sains sebagai pseudosains, tanpa memberikan ruang bagi nuansa teologis dan epistemologis yang lebih halus.

Implikasi Pedagogis: Melawan I‘jāz ‘Ilmī Tanpa Menghancurkan Iman

Salah satu aspek paling konstruktif dari proyek Bigliardi adalah rekomendasi pedagogisnya. Ia menyadari bahwa i‘jāz ‘ilmī tidak akan hilang dalam waktu singkat, mengingat daya tariknya yang besar bagi publik Muslim yang haus akan pembenaran ilmiah atas imannya. Oleh karena itu, ia mengusulkan strategi edukasi yang cerdas: pertama, menekankan bahwa sains adalah proses berbasis model matematis, eksperimen, dan peer review, bukan produk “genius individu” atau intuisi.(Bigliardi, 2025: 140)

Kedua, mengajarkan bahwa kekaguman terhadap mukjizat (i‘jāz) bukanlah hal yang sama dengan pembuktian ilmiah—keduanya berada pada ranah epistemik yang berbeda. Ketiga, menyediakan sumber-sumber alternatif bagi mereka yang terpapar i‘jāz tetapi masih ragu-ragu, seperti situs web yang mengoreksi klaim-klaim pseudosains dalam Islam secara ensiklopedis, tanpa menyebutkan nama “produsen” klaim tersebut agar tidak memberi mereka publisitas. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Bigliardi bukan sekadar “pembongkar” yang sinis, tetapi juga seorang pendidik yang peduli pada masa depan pemikiran kritis di dunia Islam.

Kesimpulan: Dekonstruksi yang Belum Selesai

Kritik Stefano Bigliardi terhadap tafsīr ‘ilmī dan i‘jāz ‘ilmī adalah salah satu upaya paling serius dalam filsafat sains kontemporer untuk membongkar klaim-klaim pseudosains yang berbalut agama. Dengan pisau analisis yang tajam, ia berhasil menunjukkan bahwa i‘jāz ‘ilmī memiliki cacat epistemologis, metodologis, dan teologis yang mendasar, serta rentan terhadap konspirasi dan distorsi .

Namun, kritik balik dari para pembela seperti Tzortzis mengingatkan kita bahwa perdebatan ini tidak sederhana: ada garis tipis antara mengkritik sains yang keliru (bad science) dan mengkritik sains sebagai proyek total (scientism), dan Bigliardi terkadang dianggap melampaui batas itu . Apa yang jelas adalah bahwa perdebatan ini telah membuka ruang diskursif yang lebih kaya dan lebih kritis tentang hubungan Islam dan sains.

Bigliardi telah berhasil memaksa para pemikir Muslim untuk mempertanggungjawabkan klaim-klaim mereka secara lebih ketat—dan itu, pada akhirnya, adalah kontribusi yang tak ternilai bagi kesehatan intelektual umat. Dekonstruksinya mungkin belum selesai, tetapi ia telah mengubah lanskap perdebatan selamanya.

DAFTAR PUSTAKA

Bigliardi, S. (2017). The “Scientific Miracle of the Qur’ān,” Pseudoscience, and Conspiracism. Zygon: Journal of Religion and Science, 52(1).

Bigliardi, S. (2025). Islam and Pseudoscience. Cambridge University Press.

Cusack, C. M. (2025). Review of Islam and Pseudoscience, by Stefano Bigliardi. International Journal for the Study of New Religions, 16(1).

Tzortzis, H. A. (2025). A Response to Stefano Bigliardi’s Assessment of Science in Andreas Tzortzis’s The Divine Reality. Zygon: Journal of Religion and Science.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *