Beranda / Al-Qur'an & Lingkungan Hidup / Erupsi Anak Krakatau: Tafsir Saintifik atas Ayat-Ayat tentang Gunung

Erupsi Anak Krakatau: Tafsir Saintifik atas Ayat-Ayat tentang Gunung

Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada Ahad, 6 September 2026, pukul 03.53 WIB. Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi 30 detik. Sebelumnya, BMKG mengungkapkan bahwa sebaran abu vulkanik akibat erupsi Anak Krakatau telah mencapai wilayah Lampung hingga sebagian wilayah Jakarta. Sebaran abu tersebut mencapai ketinggian hingga 20.000 kaki ke arah timur laut, meliputi Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Terkini, sebaran abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, hingga Bengkulu. Informasi tersebut berdasarkan data PVMBG dan VAAC, serta analisis citra satelit Himawari-9. Dengan sebaran abu yang dapat mencapai wilayah jauh dari sumber erupsi, masyarakat perlu segera melakukan antisipasi agar dapat meminimalkan dampak yang mungkin ditimbulkan.

Berbicara mengenai erupsi, fenomena tersebut tentunya merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Swt. Allah telah mengatur sedemikian rupa bentuk alam semesta yang kompleks. Salah satu fenomena alam yang termuat dalam Al-Qur’an adalah keberadaan gunung. Berkaitan dengan hal tersebut, penafsiran mengenai gunung dapat dimulai dari kerangka yang mengontrol dan membentuknya.

Gunung terbentuk melalui proses tektonik yang sangat kuat akibat pertemuan antara lempeng-lempeng tektonik, yang meliputi Lempeng Eurasia, Afrika, Pasifik, Indo-Australia, Amerika Utara dan Selatan, serta Antartika. Terdapat ayat yang berkaitan dengan prinsip dasar tektonik lempeng yang saling menjauhi, mendekati, bahkan bertabrakan. Lempeng-lempeng di Bumi terus bergerak secara dinamis. Hal tersebut sebagaimana firman Allah:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْٓ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَفْعَلُوْنَ ٨٨

Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Naml/27: 88)

Ayat ini merupakan salah satu tanda kebesaran Allah, yaitu berjalannya gunung. Gunung dapat dilihat seakan-akan teguh dan tetap pada tempatnya, sementara pada kenyataannya ia berjalan dan berpindah dengan cepat dari tempatnya. Gunung berjalan sebagaimana awan yang digerakkan oleh angin. Hal tersebut terjadi karena benda yang besar dapat bergerak secara berirama dan tidak selalu tampak oleh penglihatan manusia. (Wahbah al-Zuḥaylī, 2005: 334)

Ayat tersebut membicarakan keadaan gunung pada hari kemudian. Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa Allah menegaskan dalam firman-Nya:

وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ ٢٠

Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. al-Nabā’/78: 20)

Maksud dari ungkapan “dan gunung-gunung pun dijalankan” adalah bahwa gunung-gunung hilang dari tempatnya dan kemudian bertebaran di udara seperti debu. Term sarābān menggambarkan keadaan gunung yang seperti fatamorgana, yaitu terlihat seperti gunung, tetapi pada hakikatnya hanya berupa hamparan debu. (Wahbah al-Zuḥaylī, 2005: 336–337) Proses tersebut dilihat seperti awan yang berjalan.

Hal itu merupakan perumpamaan dengan awan dalam arti keadaan gunung tersebut bagaikan awan yang bagian-bagiannya terpencar dan sesuatu yang dihambur-hamburkan. Hal tersebut serupa dengan firman-Nya: (Quraish Shihab, 2002: 286–287)

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ ٥

“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. al-Qāri‘ah/101: 5)

Gunung-gunung menjadi seperti bulu yang memiliki warna bermacam-macam dan berhamburan. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Takwīr ayat 3 bahwa tanda-tanda kiamat yang telah disebutkan merupakan peringatan tentang ancaman keras bagi manusia yang membangkang terhadap ajaran Allah. Oleh karena itu, Allah menyebutkan mereka sebagai kaum yang durhaka kepada-Nya. (Wahbah al-Zuḥaylī, 2005: 648–649)

Allah mengajak manusia untuk berpikir: “Engkau mengira gunung itu tetap pada tempatnya, padahal gunung tersebut berjalan bagaikan awan.” Jadi, benarkah gunung itu bergerak? Jika kembali menangkap makna tersurat dalam ayat tersebut, kita memperoleh isyarat bahwa gunung yang terlihat tetap ternyata bergerak bagaikan awan. Gunung bergerak melalui lempeng-lempeng tektonik bagaikan kapal-kapal yang mengapung di lautan.

Allah menegaskan dalam Al-Qur’an. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam firman-Nya:

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الْجَوَارِ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِ ۗ ٣٢

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung.(QS. al-Syūrā/42: 32)

Ayat tersebut mengibaratkan kapal-kapal yang berlayar seperti gunung. Makna yang terkandung di dalamnya adalah pertanyaan mengenai mengapa kapal layar yang bergerak diibaratkan seperti gunung yang secara kasatmata tampak tidak bergerak dari tempatnya. Apakah isyarat tersembunyi tersebut menunjukkan bahwa sejatinya gunung juga bergerak? Kita kembali pada fenomena gunung di dasar samudra yang telah diisyaratkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah:

وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِۙ ٦ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌۙ ٧ مَّا لَهٗ مِنْ دَافِعٍۙ ٨ يَّوْمَ تَمُوْرُ السَّمَاۤءُ مَوْرًاۙ ٩ وَّتَسِيْرُ الْجِبَالُ سَيْرًاۗ ١٠

“Demi lautan yang penuh gelombang. Sungguh, azab Tuhanmu pasti terjadi. Tidak sesuatu pun yang dapat menolaknya. Pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya. Dan gunung berjalan (berpindah-pindah).” (QS. al-Ṭūr/52: 6–10)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah bersumpah dengan sejumlah ciptaan-Nya, terutama lautan, dan menegaskan bahwa sesungguhnya azab akhirat pasti terjadi serta menimpa orang-orang yang berhak dan pantas mendapatkannya, yaitu dari kalangan orang-orang kafir maupun para pembangkang yang suka mendustakan para nabi dan rasul. Tidak seorang pun yang dapat menolak azab tersebut.

Sesungguhnya azab tersebut pasti terjadi pada hari ketika langit berguncang, bergetar, dan bergejolak dengan dahsyat. Pada saat itu, gunung-gunung bergerak dari tempatnya seperti bergeraknya awan dan berubah menjadi debu yang beterbangan. (Wahbah al-Zuḥaylī, 2005: 88) Sains mencatat adanya aktivitas vulkanik aktif yang bersuhu sangat tinggi.

Term al-masjūr berarti mengobarkan api. Makna tersebut dikuatkan oleh firman Allah dalam QS. al-Takwīr ayat 6, yaitu “dan apabila lautan dipanaskan.” Makna tersebut dibuktikan oleh kenyataan bahwa lautan dipenuhi air. Dalam konteks ayat tersebut, hal itu juga berkaitan dengan peristiwa ketika Allah Swt. menenggelamkan Raja Fir‘aun. (Quraish Shihab, 2002: 571)

Pendekatan Saintifik: Refleksi atas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Langit kembali bergemuruh ketika semburan lava berwarna merah menyala dan abu vulkanik bertebaran di wilayah sekitarnya. Fenomena tersebut mengingatkan manusia akan kekuasaan Allah Yang Maha Besar. Fenomena alam ini bukan sekadar peristiwa geologis, tetapi juga merupakan tanda kebesaran Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ٣

“Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. al-Ra‘d/13: 3)

Gunung Anak Krakatau merupakan ciptaan Allah yang tunduk pada kekuasaan-Nya. Allah menahan Bumi agar tidak berguncang. Allah pula yang menghendaki gunung tersebut meletus dengan kekuatan dahsyat. Air mancur lava setinggi ratusan meter, dentuman yang terdengar hingga Banten, Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung, semuanya menjadi bukti nyata bahwa Allah Mahakuasa dan tidak ada satu pun makhluk yang mampu menghentikannya.

Fenomena tersebut menjadi pelajaran berharga tentang kelemahan dan ketidakberdayaan manusia. Manusia sering kali merasa sombong dan berkuasa di muka Bumi, tetapi tiba-tiba menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk lemah di hadapan kekuasaan Sang Pencipta. Ketika terdengar gunung bergemuruh, manusia hanya dapat berpasrah dan bertawakal. Hal ini menjadi momentum bagi kita untuk segera bertaubat dan memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Referensi

Maulana, Hasbi. “Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau Menyebar ke Jawa Barat, Ini Cara Melindungi Diri.” Kontan.co.id, Kontan, 5 September 2026. Diakses 6 September 2026.

Rahayu, Lisye Sri. “Anak Krakatau Erupsi Lagi dengan Durasi 30 Detik, Jauhi Radius 3 Km.” Detiknews, 6 September 2026. Diakses 6 September 2026.

RI, Kemenag. 2016. Gunung dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta: Kementerian Agama RI.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsīr Al-Miṣbāḥ: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jilid XIV. Jakarta: Lentera Hati.

Tsani, Ali Farkhan. “Hikmah di Balik Erupsi Gunung Anak Krakatau: Tanda Kekuasaan Allah dan Pengingat bagi Manusia.” Minanews.net, 6 September 2026. Diakses 7 September 2026.

Al-Zuḥaylī, Wahbah. 2005. Al-Tafsīr Al-Munīr fī Al-‘Aqīdah wa Al-Syarī‘ah wa Al-Manḥaj. Jilid X dan XIV. Cet. ke-8. Damaskus: Dār al-Fikr.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *