Beranda / Al-Quran & Generasi Muda / Ilmu Tanpa Adab dalam Perspektif Al-Qur’an: Tafsir QS. al-Jumu‘ah [62]: 5 dan Relevansinya bagi Generasi Muda

Ilmu Tanpa Adab dalam Perspektif Al-Qur’an: Tafsir QS. al-Jumu‘ah [62]: 5 dan Relevansinya bagi Generasi Muda

Peristiwa miris terjadi di daerah OKU Selatan yang dilakukan seorang siswi kepada gurunya hingga meregang nyawa setelah ketahuan mencuri. Kontak fisik dan pencurian dilakukan siswi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bukankah sekolah adalah tempat belajar dan menuntut ilmu? bukankah sekolah adalah tempat dimana nilai-nilai moral dan keilmuan berjalan. Lantas kita sebagai generasi muda muslim, apa yang harus kita lakukan?

Sebelum membahas problematika ilmu yang tidak melahirkan adab, penting untuk kita memahami hakikat ilmu itu sendiri. Ibn Qayyim al-Jauziyya mengatakan bahwa ilmu adalah sesuatu yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah saw, sebagaimana ungkapannya:

العِلْمُ مَا قَامَ عَلَيْهِ الدَّلِيلُ، وَالنَّافِعُ مِنْهُ مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ ﷺ

Menurut beliau, hakikat ilmu bukan sekadar banyaknya pengetahuan atau keluasan wawasan, melainkan ilmu yang berlandaskan wahyu dan petunjuk Rasulullah saw. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan rasa takut kepada Allah, memperbaiki akhlak, serta mengantarkan seseorang kepada ketaatan dan kedekatan kepada-Nya. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, 1996)

Sejalan dengan itu, adab merupakan buah dari ilmu yang benar. Menurut Ibnu Manzur dalam Lisān al-‘Arab, adab adalah sesuatu yang dijadikan pedoman seseorang dalam berperilaku. Adab dinamakan demikian karena mengajak manusia kepada akhlak yang terpuji dan mencegah mereka dari perbuatan tercela. Selain itu, adab juga bermakna kesantunan, kehalusan budi dan perilaku yang baik sebagai bukti nyata dari nilai-nilai yang telah dipahami dan diamalkan. (Ibnu Manzur, 1414 H)

Di era modern, tingkat pendidikan, prestasi akademik, dan penguasaan ilmu pengetahuan sering digunakan untuk mengukur keberhasilan seseorang. Pembentukan adab dan akhlak, di sisi lain, sering terabaikan. Kondisi ini menyebabkan banyak masalah bagi generasi muda, termasuk budaya saling menghina di media sosial, penyebaran ujaran kebencian, kurangnya rasa hormat kepada guru dan orang tua, dan penyalahgunaan ilmu untuk tujuan yang bertentangan dengan etika.

Fenomena tersebut menunjukkan masalah ilmu yang tidak menghasilkan adab, yaitu ketika ilmu hanya berfokus pada kognitif tanpa mengikuti pengamalan dan pembentukan karakter. Akibatnya, ilmu kehilangan fungsi utamanya, yaitu menawarkan jalan kebaikan kepada manusia. Al-Qur’an sebenarnya menunjukkan masalah seperti ini melalui perumpamaan tentang orang-orang yang memiliki pengetahuan, tetapi tidak mengamalkan dan menjadikannya pedoman hidup, sebagaimana termaktub dalam QS. al-Jumu‘ah [62]: 5.

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Perumpamaan orang-orang yang dibebani tugas mengamalkan Taurat, kemudian tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab (tebal tanpa mengerti kandungannya). Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Dalam menafsirkan QS. al-Jumu‘ah [62]: 5, al-Qurṭubī menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perumpamaan yang ditujukan kepada Bani Israil yang meninggalkan pengamalan Taurat dan tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. Menurutnya, frasa (حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ) menunjukkan bahwa mereka tidak hanya diberikan Taurat sebagai kitab suci, tetapi juga dibebani tanggung jawab untuk memahami, menjaga, dan mengamalkan kandungannya. Karena kewajiban tersebut tidak dilaksanakan, Allah menyerupakan mereka dengan seekor keledai yang memikul kitab-kitab tebal (كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا) tanpa mengetahui isi maupun manfaatnya. Perumpamaan ini menggambarkan seseorang yang memiliki atau membawa ilmu, tetapi tidak memahami dan tidak mengamalkannya sehingga ilmu tersebut tidak memberikan manfaat bagi dirinya (al-Qurṭubī, 1964).

Pemaknaan terhadap QS. al-Jumu‘ah [62]: 5 juga dijelaskan oleh mufasir kontemporer, termasuk Wahbah az-Zuhaili. Menurut Wahbah dalam Tafsir al-Munir, perumpamaan tersebut ditujukan kepada kaum Yahudi yang telah diberi tugas untuk menegakkan dan mengamalkan Taurat tetapi tidak melakukannya. Mereka dibandingkan dengan keledai yang memikul buku-buku yang tebal tanpa memahami isi atau keuntungan dari buku-buku itu.

Menurut Wahbah, keadaan tersebut menggambarkan orang-orang yang hanya membawa atau menghafal pengetahuan, tetapi tidak berusaha memahami maknanya atau menerapkannya. Mereka bahkan menyimpang dari ajaran yang telah mereka pelajari dengan mengubah dan menyesatkan maknanya. Akibatnya, Wahbah menyatakan bahwa kondisi mereka lebih buruk daripada keledai.(Wahbah az-Zuḥailī, 1991).

Jika ditinjau dari aspek balaghah, ayat ﴿مثل الذين حملوا التوراة ثم لم يحملوها كمثل الحمار يحمل أسفارا﴾ mengandung gaya bahasa tasybih tamtsili, yaitu perumpamaan yang wajh al-syabah-nya dibangun dari beberapa unsur sehingga membentuk satu gambaran yang utuh. Dalam ayat tersebut, orang-orang mendapatkan pengetahuan tetapi tidak memahami dan mengamalkan diserupakan seekor keledai yang memikul kitab-kitab tebal tanpa mengetahui dan mengamalkan.

Perbandingan penafsiran al-Qurṭubī dan Wahbah az-Zuḥailī, menunjukkan perbedaan penekanan yang saling menguatkan. Al-Qurṭubī lebih menyoroti asbāb al-nuzūl untuk menjelaskan konteks perumpamaan yang ditujukan kepada Bani Israil, sedangkan Wahbah az-Zuḥailī, lebih menekankan makna kebahasaan dengan menguraikan simbol keledai sebagai gambaran orang yang memiliki ilmu, tetapi tidak memahami dan mengamalkannya.

Sebagai solusi atas problematika ilmu tanpa adab, generasi muda perlu menempatkan adab sebagai fondasi dalam menuntut ilmu melalui penghormatan kepada guru, pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an, dan pemanfaatan ilmu untuk kemaslahatan. Pesan ini sejalan dengan QS. al-Jumu‘ah [62]: 5 yang sebagaimana dijelaskan al-Qurṭubī dan Wahbah az-Zuḥailī, menegaskan bahwa ilmu yang tidak dipahami dan diamalkan akan kehilangan nilai dan manfaatnya. Oleh karena itu, keberhasilan generasi muda tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuannya menjadikan ilmu sebagai landasan pembentukan akhlak, integritas, dan tanggung jawab sosial.

Daftar Pustaka

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Miftāḥ Dār al-Sa‘ādah wa Mansyūr Wilāyat al-‘Ilm wa al-Irādah. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, (1996 M).

Ibn Manẓūr, Muḥammad ibn Mukarram. Lisān al-‘Arab. Ed. ke-3. 15 jilid. Beirut: Dār Ṣādir, 1414 H.

Al-Qurṭubī, Muḥammad ibn Aḥmad al-Anṣārī. Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Diedit oleh Aḥmad al-Bardūnī dan Ibrāhīm Aṭfaysh. Ed. ke-2. 20 jilid dalam 10 volume. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1384 H/1964 M.

Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī’ah wa al-Manhaj (Damaskus: Dār al-Fikr, 1991).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *