Beranda / Pustaka Tafsir / Corak Kebangsaan dalam Tafsir Faid Al-Rahman: Lokalitas Kebudayaan, Perlawanan Kolonial, dan Transformasi Aksara Pegon Jawi

Corak Kebangsaan dalam Tafsir Faid Al-Rahman: Lokalitas Kebudayaan, Perlawanan Kolonial, dan Transformasi Aksara Pegon Jawi

Dalam sejarah kajian tafsir di Nusantara, banyaknya ragam tafsir yang tersebar di berbagai wilayah di Nusantara selalu menyimpan daya tarik historis-epistemologis yang mendalam. Al-Qur’an sebagai teks wahyu yang universal tidak pernah hadir di ruang hampa ketika berhadapan dengan realitas kemanusiaan. Di tanah Jawa, salah satu monumen intelektual Islam yang paling representatif dalam menggambarkan dialektika antara teks suci dan realitas pribumi adalah Tafsir Faid al-Rahman fi Tafsir Kalam Malik al-Dayyan karya KH. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani (lebih dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat).

Ditulis pada akhir abad ke-19, tafsir ini bukan sekadar upaya transmisi makna ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bahasa lokal, melainkan sebuah gerakan kultural dan politis yang masif. Namun apa yang penting dari adanya tafsir Faid al-Rohman sebagai tafsir dengan lokalitas kebudayaan Jawa yang melekat di dalamnya, manifestasi perlawanan terselubung terhadap hegemoni kolonial Hindia Belanda, serta fungsi strategis aksara Pegon Jawi sebagai medium transformasi sosial-keagamaan. Melalui penelusuran ini, kita akan melihat bagaimana tafsir pertama di Asia Tenggara yang ditulis dalam aksara Pegon ini menjadi ruang hibridasi tempat agama, budaya, dan politik bersinggungan secara dinamis (Mustaqim, 2018).

Pribumisasi Islam Ala Mbah Sholeh Darat

Nilai-nilai lokalitas dalam Tafsir Faid al-Rahman bukan sekadar masalah penerjemahan bahasa dari bahasa Arab ke bahasa Jawa, melainkan sebuah proses “pribumisasi Islam” (the indigenization of Islam). Mbah Sholeh Darat sangat memahami struktur kognitif, psikologis, dan kultural masyarakat Jawa pada zamannya. Pemahaman ini tecermin dalam pemilihan kosakata, adaptasi kosmologi, dan kontekstualisasi hukum Islam yang disesuaikan dengan lanskap sosiologis Jawa.

Dari segi linguistik, Mbah Sholeh Darat menggunakan bahasa Jawa Krama formal yang dipadukan dengan istilah-istilah mistisisme Islam-Jawa (tasawuf). Penggunaan konsep seperti kawulo (hamba) dan Gusti (Tuhan) tidak sekadar menerjemahkan kata ‘abd dan Rabb, melainkan menyerap kedalaman rasa hormat dan hierarki spiritual yang dipahami dalam tradisi keraton dan masyarakat Jawa pada umumnya. Corak tafsir ini didominasi oleh pendekatan syariat-sufistik (isyari), yang sangat kompatibel dengan masyarakat Jawa yang saat itu masih lekat dengan tradisi mistisisme kejawen atau naskah-naskah suluk (Shokheh, 2011).

Lebih jauh, lokalitas ini tampak ketika Mbah Sholeh menjelaskan konsep-konsep eskatologis atau moral. Beliau sering kali meminjam tamsil (perumpamaan) yang akrab dengan kehidupan agraris masyarakat Jawa. Misalnya, dalam menjelaskan hubungan antara amal perbuatan di dunia dan balasan di akhirat, metafora menanam padi dan menyiangi rumput liar di sawah sering kali dianalogikan untuk mempermudah pemahaman. Dengan cara ini, Al-Qur’an tidak lagi dirasakan sebagai teks asing dari padang pasir, melainkan kitab panduan hidup yang berbunyi dan berakar dalam kebudayaan Jawa sehari-hari.

Perlawanan Kolonial Berbalut Tafsir Keagamaan

Meskipun tafsir Faid al-Rohman termasuk tafsir yang lekat dengan kebudayaan, siapa sangka Mbah Soleh Darat justru menulis tafsir ini di pesisir utara Jawa (Semarang) sebagai sebuah tindakan perlawanan politik masa kolonial. Pemerintah kolonial Hindia Belanda, terutama melalui kebijakan pengawasan ketat terhadap aktivitas keagamaan (yang kemudian diformulasikan secara akademis oleh Snouck Hurgronje), sangat mencurigai gerakan Islam syafiiyah-petani yang dianggap sebagai sumbu potensial pemberontakan. Dalam konteks represif inilah Tafsir Faid al-Rahman lahir sebagai bentuk perlawanan kultural (cultural resistance).

Mbah Sholeh Darat menyadari bahwa perlawanan fisik yang frontal sering kali berujung pada kekalahan parah bagi pribumi, sebagaimana berkaca pada Perang Diponegoro (1825–1830). Oleh karena itu, beliau memilih jalur subversi epistemologis. Perlawanan kolonial dalam tafsir ini tidak selalu mewujud dalam instruksi angkat senjata secara vulgar, melainkan melalui penguatan identitas Muslim pribumi dan pembongkaran mentalitas inferioritas (inferiority complex) akibat penjajahan (Mustaqim, 2018, h.48).

Salah satu strategi subversif Mbah Sholeh adalah pelarangan meniru gaya hidup, etika, dan cara pandang kaum kolonialis (konsep tasyabbuh). Ketika menafsirkan ayat-ayat tentang kepemimpinan, loyalitas (wala’ wal bara’), atau keadilan sosial, beliau memberikan penekanan implisit bahwa tunduk secara membabi buta pada penguasa *kafar (dalam konteks ini, penjajah Belanda) yang bertindak zalim dan merusak tatanan moral masyarakat adalah hal yang mencederai iman.

Selain itu, dengan menyebarkan ilmu tafsir kepada masyarakat awam, Mbah Sholeh Darat meruntuhkan monopoli pengetahuan yang sengaja diciptakan oleh Belanda. Kebijakan kolonial yang membatasi akses pendidikan formal bagi pribumi non-bangsawan dilawan dengan menjadikan serambi-serambi masjid dan pesantren sebagai ruang pengetahuan alternatif yang emansipatif. Tafsir ini mendidik masyarakat untuk menjadi manusia mandiri secara spiritual dan intelektual, yang pada gilirannya menjadi fondasi penting bagi lahirnya kesadaran nasionalisme di awal abad ke-20.

Aksara Pegon Jawi Sebagai Jembatan Emansipasi Intelektual

Puncak kejeniusan strategi kultural Mbah Sholeh Darat terletak pada keputusannya menggunakan aksara Pegon Jawi aksara berbahasa Jawa namun ditulis menggunakan huruf Arab. Sebelum abad ke-19, kajian tafsir Al-Qur’an di Nusantara umumnya ditulis dalam bahasa Arab atau bahasa Melayu (seperti Tarjuman al-Mustafid karya Aburrauf al-Singkili) yang hanya bisa diakses oleh kalangan elite ulama atau masyarakat Sumatra dan pesisir semenanjung. Masyarakat pedalaman Jawa yang tidak menguasai bahasa Arab maupun Melayu otomatis terisolasi dari pemahaman langsung kitab suci mereka.

Belanda memanfaatkan situasi ini dengan melarang penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa Latin, dengan ketakutan bahwa pemahaman keagamaan yang mendalam akan memicu radikalisme Islam. Disinilah Mbah Sholeh Darat mendobrak barikade sosiolinguistik ini, dan aksara Pegon dipilih karena memiliki fungsi ganda yang sangat strategis. Di hadapan intelijen kolonial. Para pegawai Belanda dan orientalis sekuler umumnya hanya menguasai bahasa Jawa beraksara Carakan (Hanacaraka) atau Latin, serta tidak familier dengan modifikasi huruf Arab untuk fonem Jawa (seperti huruf ca, dha, tha, nga, gha, nya) (Masrur, 2012).

Akibatnya, naskah ini luput dari sensor ketat kolonial dan dapat digandakan serta disebarkan secara gerilya di kalangan santri. Selain itu, adanya Pegon juga mengikis batas antara kaum elitis-pesantren yang bisa berbahasa Arab (kaum khawas) dengan masyarakat petani awam (kaum awam). Al-Qur’an kini dapat dibaca, didengar, dan diresapi oleh mereka yang sehari-hari bertelanjang kaki di sawah. Pemilihan aksara ini memicu transformasi sosial yang luar biasa: ia melek-hurufkan masyarakat bawah sekaligus melakukan demokratisasi pengetahuan agama.

Transformasi aksara ini juga mengukuhkan identitas hibrida Muslim-Jawa. Di satu sisi, mereka tetap mempertahankan ke Jawa-an mereka melalui bahasa ibu, namun di sisi lain, mereka mengikatkan diri pada kosmopolitanisme Islam global melalui penggunaan karakter Arab modified tersebut. Pegon menjadi simbol perlawanan estetik terhadap pembaratan (westernisasi) yang dipaksakan oleh sekolah-sekolah modern Belanda.

Maka dari itu, Tafsir Faid al-Rahman karya KH. Sholeh Darat bukan sekadar artefak masa lalu, melainkan sebuah manifesto intelektual yang visioner. Di dalamnya, lokalitas kebudayaan Jawa tidak dipandang sebagai bid’ah yang harus diberangus, melainkan sebagai wadah yang sah untuk mengaktualisasikan nilai-nilai universal Al-Qur’an. Melalui pendekatan sufistik-kontekstualnya, naskah ini berhasil melakukan pribumisasi Islam secara harmonis.

Di saat yang sama, tafsir ini mengobarkan perlawanan kolonial yang cerdas dan mapan. Mbah Sholeh Darat memilih jalan perang pemikiran (ghazwul fikr) dan penguatan basis moral-mental masyarakat ketimbang konfrontasi fisik yang destruktif. Semua gerakan subversif ini dikemas dengan sangat rapi melalui transformasi aksara Pegon Jawi, yang bertindak sebagai medium emansipasi kultural, peruntuh sekat kelas sosial, sekaligus benteng linguistik dari engsel-engsel sensor pemerintah Hindia Belanda.

Pada akhirnya, Tafsir Faid al-Rahman membuktikan bahwa tafsir Al-Qur’an di tangan ulama Nusantara mampu bertransformasi menjadi teologi pembebasan sebuah produk intelektual yang tidak hanya mengantarkan pembacanya pada kesalehan ritual di hadapan Tuhan, tetapi juga menuntun pada kesadaran sosial-politik untuk merdeka di hadapan sesama manusia

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *