Sering kali kita mendengar istilah mental health atau kesehatan mental. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah lingkungan sekitar. Hubungan dalam keluarga, pertemanan, pasangan, serta tuntutan pendidikan maupun pekerjaan dapat menjadi sumber tekanan yang mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Apabila tekanan tersebut tidak dikelola dengan baik, kesehatan mental seseorang dapat terganggu.
Islam melalui Al-Qur’an memberikan panduan bagi manusia dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Selain mendorong manusia untuk berusaha (ikhtiar), Al-Qur’an juga mengajarkan pentingnya berserah diri (tawakal) kepada Allah Swt. Kedua sikap tersebut saling melengkapi dalam membantu seseorang menjaga ketenangan jiwa. Oleh karena itu, pembahasan ini akan mengulas bagaimana Al-Qur’an memandang kesehatan mental melalui keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
1. Al-Qur’an dan Pengakuan atas Luka Batin Manusia
Sebagian orang beranggapan bahwa rasa sedih, cemas, atau kecewa menunjukkan lemahnya keimanan. Padahal, Al-Qur’an menjelaskan bahwa berbagai emosi tersebut merupakan bagian dari fitrah manusia. Kisah para nabi menunjukkan bahwa mereka juga pernah mengalami kesedihan dan berbagai ujian hidup. Perbedaannya terletak pada cara mereka menyikapi keadaan tersebut, yaitu dengan mendekatkan diri dan memohon pertolongan kepada Allah Swt.
Sebagaimana firman Allah dalam QS.Yusuf: 86 (Nabi Ya’qub mengadukan kesedihannya kepada Allah).
قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Ayat tersebut menggambarkan bahwa Nabi Ya’qub memilih mencurahkan segala kesedihannya kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa mengakui dan mengungkapkan perasaan sedih bukanlah bentuk kelemahan, melainkan cara yang dibenarkan selama tetap mengarahkan hati kepada Allah.
Dan dalam QS. Ar-Ra’d: 28 (hati menjadi tenteram dengan mengingat Allah).
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan batin dapat diraih melalui zikir dan kedekatan kepada Allah. Oleh sebab itu, memperkuat hubungan spiritual menjadi salah satu cara yang diajarkan Al-Qur’an dalam menjaga kesehatan mental.
Selain itu, Allah Swt. juga menegaskan bahwa setiap ujian yang diberikan kepada manusia tidak akan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat ini memberikan harapan bahwa setiap kesulitan yang dihadapi manusia pasti dapat dilalui dengan pertolongan Allah. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu berputus asa ketika menghadapi tekanan hidup, melainkan terus berusaha dan meyakini bahwa Allah mengetahui kemampuan setiap hamba-Nya.
2. Ikhtiar dalam Menjaga Kesehatan
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia perlu melakukan ikhtiar sebelum bertawakal. Dalam menjaga kesehatan mental, ikhtiar dapat diwujudkan melalui berbagai langkah, seperti menghargai diri sendiri, mengelola stres dengan baik, menerima dan mengendalikan emosi negatif, menetapkan tujuan yang realistis, menjaga kesehatan fisik dengan pola hidup sehat, membangun hubungan sosial yang positif, serta berbuat baik kepada sesama. Berbagai upaya tersebut membantu seseorang menghadapi tekanan hidup dengan lebih bijaksana. Dengan melakukan ikhtiar secara maksimal, seseorang tidak hanya berusaha menjaga kesehatan mentalnya, tetapi juga melaksanakan tanggung jawab untuk merawat diri sebagai amanah dari Allah Swt.
3. Tawakal sebagai Jalan Menuju Ketenangan Jiwa
Tawakal merupakan sikap menyerahkan hasil segala usaha kepada Allah Swt. setelah melakukan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Tawakal tidak berarti menyerah tanpa usaha, tetapi menunjukkan keyakinan bahwa segala ketentuan terbaik berada dalam kehendak Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 159:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” Ayat tersebut menegaskan bahwa usaha harus dilakukan terlebih dahulu, kemudian disempurnakan dengan tawakal.
Hal ini juga diperkuat dalam QS. At-Talaq ayat 3:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan sekadar sikap pasrah, melainkan keyakinan penuh bahwa Allah akan memberikan pertolongan dan jalan terbaik bagi hamba-Nya yang telah berusaha dengan sungguh-sungguh.
Sikap tawakal mampu menghadirkan ketenangan hati karena seseorang meyakini bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung dan penolong. Setelah berusaha semaksimal mungkin, seseorang akan lebih mampu menerima apa pun hasil yang diberikan Allah tanpa dikuasai rasa cemas yang berlebihan. Dengan demikian, ikhtiar dan tawakal merupakan dua sikap yang saling melengkapi dalam menjaga kesehatan mental menurut perspektif Al-Qur’an.
Penutup
Kesehatan mental merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia yang perlu dijaga, baik melalui usaha lahir maupun penguatan spiritual. Al-Qur’an mengajarkan bahwa ikhtiar dan tawakal bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi saling melengkapi. Dengan berusaha semaksimal mungkin, menjaga hubungan dengan sesama, serta menyerahkan hasil kepada Allah Swt., seseorang dapat memperoleh ketenangan hati dan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Referensi:
Roimun. (2025). Kesehatan mental dalam perspektif Al-Qur’an dan hukum kesehatan jiwa di Indonesia. Hamalatul Qur’an: Jurnal Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, 6(2), 155–165.
Khuswatun Noor Khassanah. 2006. Tawakal dalam Perspektif Kesehatan Mental. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Dr. Marianti. 2026. “Cara Menjaga Kesehatan Mental”. Diperbarui 22 April 2026.
Syahbana Daulay(Anggota Majlis PW Muhammadiyah). 2023. “Tawakal dan Ketenangan Jiwa”. Suara Muhammadiyah.









