Pernahkah Anda membuka smartphone di malam hari hanya untuk mengecek apakah ada momen yang terlewat? Pernahkah dada terasa sesak saat melihat foto perjalanan teman di Instagram, sementara Anda duduk di kamar dengan rutinitas yang itu-itu saja? Perasaan itu bukan sekadar iri hati yang lewat begitu saja. Dalam kajian psikologi, kondisi semacam ini telah dikenali sebagai gangguan kecemasan modern yang nyata dan terukur.
FOMO atau Fear of Missing Out adalah kekhawatiran mendalam bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman berharga yang tidak kita ikuti. Przybylski, Murayama, DeHaan, dan Gladwell mendefinisikannya sebagai ketakutan pervasif bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman yang lebih memuaskan di saat kita tidak hadir, yang kemudian mendorong keinginan kompulsif untuk selalu terhubung dengan aktivitas orang lain (Sania, 2026). Definisi ini bukan sekadar deskripsi emosi, melainkan peta dari kondisi jiwa modern yang semakin mengkhawatirkan.
Mekanisme Psikologis FOMO dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
Untuk memahami mengapa FOMO begitu merusak, perlu dipahami terlebih dahulu bagaimana ia bekerja di dalam pikiran. Ketika seseorang melihat konten kehidupan orang lain di media sosial, otak secara otomatis melakukan social comparison perbandingan sosial yang menempatkan diri sendiri di sisi yang lebih rendah. Proses ini berlangsung cepat, hampir tanpa disadari, dan meninggalkan jejak emosional berupa rasa tidak cukup, tidak layak, dan tertinggal (Salamah, 2025).
Dampak psikologisnya tidak ringan. Penelitian klinis menunjukkan bahwa individu dengan tingkat FOMO tinggi secara signifikan lebih rentan mengalami gejala kecemasan, depresi, dan stres dibandingkan mereka yang tidak. Dalam sebuah studi di kalangan pelajar SMA di Cirebon, ditemukan korelasi yang kuat antara intensitas FOMO dengan gangguan tidur, penurunan konsentrasi, dan perasaan tidak berharga yang persisten (Rosida, Harahap, Alfiyanti, Wattimury, & Pratiwi, 2021). Ini bukan lagi sekadar soal “drama anak muda” ini adalah persoalan kesehatan jiwa yang membutuhkan perhatian serius.
Yang memperparah keadaan adalah sifat FOMO yang self-reinforcing. Kajian longitudinal menemukan bahwa semakin tinggi FOMO seseorang, semakin intens ia menggunakan media sosial sebagai upaya meredakannya namun paparan tersebut justru memperburuk FOMO lebih lanjut. Siklus ini berputar tanpa henti, menggerus kesejahteraan psikologis dari dalam secara perlahan. Dalam banyak kasus, individu bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak di dalamnya.
Akar Psikologis: Ketika Kebutuhan Dasar Tidak Terpenuhi
FOMO tidak muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh di atas tanah yang subur: kebutuhan psikologis dasar manusia yang tidak terpenuhi. Manusia secara alamiah mendambakan rasa memiliki, pengakuan, dan koneksi yang bermakna. Ketika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi dalam kehidupan nyata, media sosial hadir sebagai tawaran pengganti yang semu likes menggantikan apresiasi tulus, followers menggantikan persahabatan sejati, dan momen viral menggantikan makna hidup yang sesungguhnya (Yogiswara & Fitria, 2023).
Di titik inilah FOMO berubah dari sekadar kecemasan situasional menjadi kondisi yang mengakar. Seseorang yang sudah terbiasa mengukur nilai dirinya dari respons dunia maya akan mengalami krisis identitas setiap kali ada momen yang terlewat. Penelitian yang dipublikasikan di Insaniyat: Journal of Islam and Humanities menegaskan bahwa pola ini khususnya intens pada kelompok usia muda yang sedang dalam proses pembentukan identitas diri (Groenestein, Willemsen, Koningsbruggen, & Kerkhof, 2025).
Penting untuk dicatat bahwa FOMO bukan semata persoalan lemahnya karakter seseorang. Ia adalah respons psikologis yang terbentuk dari interaksi kompleks antara desain platform digital yang memang dirancang untuk menciptakan ketergantungan, tekanan sosial yang nyata, dan kerentanan psikologis individu. Memahami FOMO sebagai kondisi yang memiliki akar struktural bukan hanya kelemahan pribadi adalah langkah pertama menuju penanganan yang tepat dan tidak menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.
Q.S. Al-Hadid [57]: 23: Diagnosis Qur’ani atas Kecemasan Modern
Menariknya, jauh sebelum psikologi modern merumuskan FOMO sebagai konstruk ilmiah, Al-Qur’an telah lebih dulu mengidentifikasi kondisi jiwa ini dan menawarkan jalan keluarnya. Allah berfirman:
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S. Al-Hadid [57]: 23)
Kata tas-au (تَأْسَوْا) dalam ayat ini berasal dari akar kata asa yang merujuk pada duka cita mendalam atas sesuatu yang hilang atau tidak tercapai kondisi jiwa yang merana karena terpaku pada apa yang tidak ada. Jika FOMO didefinisikan sebagai ketakutan atas pengalaman yang terlewat, maka tas-au adalah padanan spiritualnya yang lebih tua dan lebih dalam. Keduanya menggambarkan kondisi batin yang sama: hati yang tidak mampu berdamai dengan kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak kita dapatkan.
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa larangan dalam ayat ini bukan perintah untuk tidak merasakan kesedihan sama sekali emosi itu manusiawi. Yang dilarang adalah kesedihan yang melampaui batas kewajaran, yang membuat seseorang tidak mampu bangkit dan terperangkap dalam penyesalan yang tidak produktif (Gupta & Sharma, 2021). Dalam bahasa psikologi klinis, kondisi yang dilarang ini persis seperti rumination pola pikir berulang yang destruktif dan menjadi salah satu faktor risiko utama depresi.
Zuhud dan Qanaah sebagai Terapi Jiwa
Ayat ini juga secara implisit memperkenalkan dua nilai yang dalam tradisi Islam berfungsi sebagai terapi jiwa: zuhud dan qanaah. Kementerian Agama RI dalam tafsir resminya menegaskan bahwa zuhud yang dimaksud bukan berarti membenci kehidupan dunia, melainkan tidak membiarkan dunia menjadi penguasa hati tidak larut dalam kesedihan saat kehilangan, tidak pula hanyut dalam kegembiraan berlebihan saat memperoleh (Gupta & Sharma, 2021).
Qanaah kepuasan dan kecukupan hati adalah kelanjutan dari zuhud dalam praktik sehari-hari. Seseorang yang qanaah mampu bersemangat mengejar tujuan tanpa menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran harga dirinya. Ia bisa melihat momen orang lain tanpa merasa dirinya kurang. Ini bukan kepasifan ini adalah kedewasaan psikologis yang dalam kajian kontemporer dikenal sebagai equanimity: ketenangan batin yang tidak mudah tergoyahkan oleh fluktuasi eksternal. Kemampuan ini terbukti berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis jangka panjang.
Menemukan Kembali Ketenangan yang Hilang
FOMO pada akhirnya adalah cermin dari jiwa yang kehilangan jangkar. Ketika standar kebahagiaan diserahkan kepada algoritma media sosial dan validasi dari orang asing di internet, maka kecemasan menjadi keniscayaan. Q.S. Al-Hadid [57]: 23 hadir bukan untuk melarang manusia memiliki keinginan, melainkan untuk mengembalikan jangkar itu ke tempatnya semula: keyakinan bahwa apa yang luput bukan bencana, dan apa yang ada adalah cukup untuk disyukuri.
Dalam bahasa psikologi, ini adalah acceptance penerimaan aktif atas realitas tanpa penolakan yang melelahkan yang terbukti menjadi salah satu strategi paling efektif dalam mengelola kecemasan modern, termasuk FOMO (Iqbal, 2025). Al-Qur’an tidak pernah ketinggalan zaman. Ia hanya menunggu manusia yang mau membacanya dengan hati yang jujur dan pikiran yang terbuka.
Referensi
Groenestein, E., Willemsen, L., Koningsbruggen, G. M. Van, & Kerkhof, P. (2025). Fear of missing out and social media use : A three-wave longitudinal study on the interplay with psychological need satisfaction and psychological well-being. 1105. https://doi.org/10.1177/14614448241235935
Gupta, M., & Sharma, A. (2021). Fear of missing out: A brief overview of origin, theoretical underpinnings and relationship with mental health. 9(19), 4881–4890. https://doi.org/10.12998/wjcc.v9.i19.4881
Iqbal, I. M. (2025). Penafsiran Tabayyun Dalam Al-Qur’an. Urnal Ilmu Sosial & Hukum Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial & Hukum, 4523–4532.
Rosida, I., Harahap, A. N., Alfiyanti, E., Wattimury, Y. A., & Pratiwi, S. (2021). Exploring the Phenomenon of Fear of Missing Out (FoMO): The Emergence, Practice, and its Impact on Social Media User. Insaniyat: Journal of Islam and Humanities, 105–115.
Salamah, I. H. (2025). Fomo Dan Krisis Eksistensi: Membongkar Kecemasan Modern Melalui Lensa Eksistensialisme Dan Solusi Al- Qur’an. 9, 355–366.
Sania, S. M. (2026). Dilema Eksistensi di Era Digital : Analisis Fenomena Flexing di Media Sosial dalam Perspektif Psikologi Sosial dan Islam kebutuhan psikologis dan intensitas penggunaan media sosial . Penelitian Nurwatie et al . ( 2016 ). 4(April).
Yogiswara, J., & Fitria, N. (2023). Gambaran Tingkat Depresi, Kecemasan, Dan Stres Terhadap Fear Of Missing Out (Fomo) Media Sosial Di Sman 1 Kota Cirebon. 16.









