Beranda / Metodologi Tafsir / Reorientasi Epistemis: Gugatan atas Hegemoni Metodologi Tafsir Kontemporer

Reorientasi Epistemis: Gugatan atas Hegemoni Metodologi Tafsir Kontemporer

Artikel ini menawarkan pembacaan kritis terhadap posisi metodologis tafsir al-Qur’an kontemporer di tengah tantangan era post-truth dan otomatisasi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Penulis berargumen bahwa dominasi dikotomis antara kajian konservasi turāth dan adaptasi modernitas telah mengarahkan kajian tafsir pada kejenuhan epistemis, mereduksinya dari sebuah praksis emansipatif (discourse of liberation) menjadi sekadar komoditas kognitif yang steril.

Dengan mengintegrasikan pisau analisis kritis Mohammed Arkoun dan kritik nalar digital, artikel ini memproyeksikan lanskap hermeneutika masa depan (2045) di mana peran manusia bergeser secara radikal dari akumulator data menjadi evaluator nilai (value axiology). Melalui pendekatan tafsīr inacabado (penafsiran yang tak pernah usai), tulisan ini menekankan pentingnya kerendahan hati epistemik (epistemic humility) agar teks suci tetap memancarkan fungsinya sebagai petunjuk yang hidup (hudan lil-nās).

Kelumpuhan Epistemis dan Dikotomi Steril Tafsir Kontemporer

Apakah eksistensi tafsir al-Qur’an masih menyisakan relevansi fungsional yang signifikan di tengah kepungan era post-truth serta akselerasi kecerdasan buatan (artificial intelligence)? Pertanyaan mendasar ini bukan sekadar pemantik diskursus akademis yang retoris, melainkan vonis teoretis atas stagnasi dan kebuntuan metodologis yang menjangkiti studi al-Qur’an kontemporer.(Floridi, 2018: 317-321)

Realitas sosiologis menunjukkan bahwa sepanjang lima dekade terakhir, peta kajian al-Qur’an di dunia Islam—tidak terkecuali di Indonesia—mengalami kelumpuhan epistemis akibat terjebak dalam dikotomi biner yang steril antara pelestarian turāth (warisan intelektual klasik) dan adopsi modernitas (modernity) secara parsial.(Ali, 2004: 78-82)

Dampak destruktif dari polarisasi ini adalah terjadinya reduksi radikal terhadap watak substantif tafsir; ia kehilangan daya dobraknya sebagai wacana pembebasan (discourse of liberation) dan merosot menjadi sebatas ritus intelektual formalitas yang hampa akan daya ubah sosial-historis.(Rahman, 1982: 5-9)

Menelisik kritik dekonstruktif Mohammed Arkoun terhadap bangunan tafsir klasik yang kerap terjebak dalam bias antropomorfis serta tendensi pragmatisme ideologis, reorientasi epistemologi tafsir mutlak memerlukan pembongkaran radikal terhadap asumsi-asumsi dasarnya. Arkoun  meluncurkan postulat yang sangat rigid:

لا يمكن فهم القرآن فهماً تاريخياً دون نقد العقل الإسلامي التقليدي

“Al-Qur’an tidak dapat dipahami secara historis tanpa mengkritik nalar Islam tradisional.”(Mohammad Arkoun, 1994: 34)

Tanpa adanya keberanian metodologis untuk membedah anatomi al-‘aql al-islāmī (nalar Islam) secara kritis, rancang bangun tafsir masa depan dipastikan hanya akan bermutasi menjadi replikasi dogmatis yang beku dari model tafsīr bi al-ma’thūr (penafsiran berbasis riwayat) yang fobia terhadap kontekstualisasi zaman.(Calder, 1993:95)

Hermeneutika Masa Depan: Otomatisasi Algoritmis vs. Interpretasi Nilai

Memasuki proyeksi futuristik ranah hermeneutika al-Qur’an pada tahun 2045, teknologi machine learning (pembelajaran mesin) dipastikan mampu mengompilasi, memetakan, serta melakukan penelusuran silang terhadap 6.236 ayat al-Qur’an lengkap dengan variabel asbāb al-nuzūl (latar belakang turunnya ayat), variasi qirā’āt (dialek bacaan), hingga kronologi nāsikh-mansūkh (konsep abrogasi) hanya dalam hitungan milidetik.(Bender & Koller, 2020)

Di hadapan otomatisasi mahadata tersebut, batas demarkasi peran manusia berada pada wilayah interpretasi nilai (value axiology) yang bersifat eksistensial. Fragmentasi teks suci seperti dalam QS al-Mā’idah [5]:8:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Terjemahan : “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Merupakan sebuah eksemplar teoretis mengenai teks yang tidak akan pernah bisa dituntaskan pembacaan semantiknya oleh deretan algoritma komputer. Keadilan substantif menuntut keterlibatan kesadaran etis, intuisi kemanusiaan, dan empati spiritual yang melampaui logika biner kode-kode digital.(Floridi, L., & Cowls, 2019)

Konstelasi Politik Tafsir di Era Totalitarianisme Digital

Tantangan krusial berikutnya bergeser ke wilayah politik tafsir di tengah pusaran era disrupsi informasi. Arsitektur kekuasaan hari ini tidak lagi termaterialisasi secara tunggal dan terpusat, melainkan telah terdispersi ke dalam labirin algoritma, tata kelola platform media sosial, dan sirkulasi arus data berskala masif. Konstruksi tafsir al-Qur’an masa depan dituntut untuk mengoperasikan fungsi strategisnya sebagai counter-narrative (kontra-narasi) terhadap ancaman totalitarianisme digital (digital totalitarianism).

Menjustifikasi tesis Muhammad Abid al-Jabiri mengenai kritik nalar, jika kritik nalar Arab (naqd al-‘aql al-‘arabī) di masa lalu merupakan sebuah keharusan kultural, maka imperatif akademik hari ini adalah melanjutkannya menuju wilayah kritik nalar digital. Absennya kesadaran kritis ini hanya akan mereduksi aktivitas tafsir menjadi sekadar komoditas instan yang memuaskan dahaga konsumsi konten digital, sekaligus mengeringkan dimensi kedalaman spiritual ruh ta’ammul atau kontemplasi filosofis.(Jinan et al., 2026: 48)

Kesimpulan: Menuju Tafsir Inacabado

Konklusi epistemis yang dapat diapungkan menegaskan bahwa masa depan kajian al-Qur’an tidak ditentukan oleh ekses multiplikasi kuantitatif volume produk tafsir, melainkan oleh transformasi paradigma secara total (total paradigm shift). Paradigma tafsir harus digeser dari posisinya semula sebagai “produk yang final” menuju pemahaman sebagai “proses yang tak pernah usai”.

Studi al-Qur’an kontemporer membutuhkan apa yang diistilahkan sebagai tafsīr inacabado—sebuah model penafsiran yang senantiasa menginsafi keterbatasan ruang lingkup dan relativitas epistemik dirinya sendiri. Hanya melalui manifestasi kerendahan hati epistemik (epistemic humility) semacam itulah, al-Qur’an akan tetap memancarkan aktualitasnya secara organik sebagai hudan lil-nās (petunjuk bagi umat manusia), alih-alih berakhir sebagai artefak sejarah yang dimuseumkan oleh keangkuhan akademik.

Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

REFERENSI

Ali, S. (2004). ISLAM AND THE CHALLENGES OF An Agenda for the Twenty-First Century CHALLENGES OF An Agenda for the Twenty-First Century. NIHCR Publication.

Bender, E. M., & Koller, A. (2020). Climbing towards NLU : On Meaning, Form, and Understanding in the Age of Data. Proceedings of the 58th Annual Meeting of the Association for Computational Linguistics, 2, 5185–5198.

Calder, N. (1993). Studies in Early Muslim Jurisprudence. Clarendon Press and Oxford University Press.

Floridi, L., & Cowls, J. (2019). A Unified Framework of Five Principles for AI in Society. Harvard Data Science Review.

Floridi, L. (2018). Artificial Intelligence, Deepfakes and a Future of Ectypes. In Book: Ethics, Governance, and Policies in Artificial Intelligence, 317–321.

Jinan, M., Fida, A., Qois, M., Hadi, A., Ulum, F., Mubarok, A., & Taqiyyuddin, Y. M. (2026). RELIGIOUS MODERATION BETWEEN TRADITION AND MODERNITY : Mohammed Abed al- Jabri ’ s Critique of Arab Reason and its Implications for Islamic Education. Fitrah: Journal of Islamic Education, 7(1), 166–191.

Mohammad Arkoun. (1994). Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers. Westview Press (Oxford) dan Routledge / Taylor & Francis.

Rahman, F. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. University of Chicago Press.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *