Beranda / Tafsir Kontekstual / Antara Ketegasan dan Kekasaran: Perspektif QS. Al-Ahzab Ayat 70 tentang Etika Komunikasi Pemimpin

Antara Ketegasan dan Kekasaran: Perspektif QS. Al-Ahzab Ayat 70 tentang Etika Komunikasi Pemimpin

Dalam beberapa bulan ini, terjadi polemik yang dipicu oleh kata-kata yang keluar dari lisan seorang pemimpin “londo ireng” “ndasmu” dan sebagainya, dimana hal ini menuai problematik. Ada sebagian yang menganggap sebagai respons spontanitas, ada pula yang menganggap bahwa hal ini sebagai bentuk ketegasan dalam memimpin, serta banyak penilaian yang lain.

Di era media sosial saat ini, setiap kata dan perbuatan dapat dikutip, dipotong, lalu disebarluaskan, ditonton oleh ribuan orang, hingga menimbulkan multi tafsir. Setiap jejak digital akan terus hidup di media sosial hingga beberapa tahun, bahkan selamanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui etika dalam berkomunikasi, serta dampak yang ditimbulkan karenanya, dan mampu membedakan antara berkomunikasi dengan tegas dan kasar.

Etika dan kepemimpinan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan, jika kepemimpinan dilandasai etika yang baik, maka banyak pengikutnya yang akan berempati dan mudah mengikuti arahan dari pimpinannya. Namun sebaliknya jika pemimpinan tidak memiliki etika, maka kecenderungan bawahan kurang respect dan sulit untuk tunduk mengikuti perintahnya (Na’im, 2022).

Dampak Sosial dan Etika Berkomunikasi

Al-Qur’an sendiri telah mengajarkan etika berkomunikasi, hal ini tertuang dalam surah Al-Ahdzab ayat 70 yang berbunyi;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.

Quraish Shihab menjelaskan tentang penafsiran surah al-Ahzab ayat 70 ini, bahwa makna Qaulan Sadida adalah perkataan atau ucapan yang benar lagi tepat. Menurut beliau perlu dibedakan antara benar dan tepat, karena bisa jadi ucapan itu benar tapi bukan pada waktunya, bisa jadi ucapan itu juga benar tetapi bukan pada tempatnya.(Zahid, 2015).

Selain itu, masih banyak lagi ayat yang mengajarkan etika berkomunikasi. Seperti, qaulan balighan (perkataan yang efektif), qaulan layyinan (perkataan yang lembut), qaulan ma’rufan (perkataan  yang baik). Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya soal tanggung jawab moral, tetapi juga merupakan cerminan diri sendiri. Oleh karena itu, ketika seorang pemimpin sedang berbicara di ruang publik, maka ia harus bijak dalam pemilihan kata. Karena qaulan sadida bukan hanya ucapan yang benar, namun juga ucapan yang tepat.

Refleksi ini menjadi pengingat bagi kita semua dalam berkomunikasi. Di era digital ini setiap kata yang diucapkan dapat menjadi teladan bagi masyarakat. Sebab itulah pemimpin yang bijak tidak hanya diukur dari kebijakan atau undang-undang yang dihasilkan. Namun, dapat diukur seberapa efektif komunikasinya baik dalam ruang privat maupun ruang publik.

Kepemimpinan dalam Islam

Islam sendiri memberikan teladan yang sangat jelas tentang bagaimana ketegasan seharusnya disampaikan, yaitu melalui kepemimpinan Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 159, yang menjelaskan bahwa sikap lemah lembut Rasulullah SAW.

Kajian mengenai karakteristik kepemimpinan Rasulullah SAW mengidentifikasi tujuh sifat utama yang melandasi kepemimpinan beliau, yaitu Sidq (kejujuran), Amanah (tanggung jawab), Fathanah (kecerdasan dan kebijaksanaan), Tabligh (komunikasi yang efektif dan transparan), keadilan, kesabaran, serta kasih sayang dan empati (Alfi Alfarizhi Hidayat & Imamul Muttaqin, 2024). Dari ketujuh sifat ini, Tabligh adalah yang paling relevan dengan pembahasan etika komunikasi: kemampuan menyampaikan pesan secara efektif dan jelas, tanpa harus melukai perasaan pendengarnya.

Prinsip ini sejalan dengan konsep qaulan sadida yang telah dibahas sebelumnya: ucapan yang benar sekaligus tepat waktu dan tepat tempat. Rasulullah menunjukkan bahwa kebenaran sebuah pesan tidak cukup; cara dan momen penyampaiannya sama pentingnya. Seorang pemimpin boleh saja tegas menolak usulan yang keliru, menegur kesalahan bawahan, atau mengkritik kebijakan yang tidak sesuai. Tetapi ketegasan itu semestinya disampaikan dengan kata-kata yang terjaga, bukan umpatan atau sindiran kasar yang justru mencederai wibawa dan empati publik terhadapnya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan yang kasar sesungguhnya bukan bentuk ketegasan, melainkan kegagalan mengelola emosi di ruang publik. Ketegasan sejati justru lahir dari penguasaan diri: berani menyampaikan kebenaran, namun tetap menjaga adab dan menghargai orang yang mendengarkan. Inilah yang membedakan pemimpin yang disegani dari pemimpin yang hanya ditakuti.

Polemik ucapan seorang pemimpin baru baru ini, bukan lagi hanya persoalan pilihan kata, tetapi ia adalah cerminan sejauh mana seorang pemimpin memahami bahwa menjaga kata kata yang keluar dari lisannya adalah sebuah kewajiban. Yang mana konsep qaulan sadida yaitu perkataan yang tidak hanya benar, namun tepat atau pantas diucapkan oleh seorang pemimpin yang menjadi teladan bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Dari sinilah kita dapat menarik pelajaran bahwa pemimpin masa kini, khususnya pejabat publik, semestinya tidak memaknai ketegasan sebagai kebolehan untuk berkata kasar, melainkan sebagai keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang terjaga dan bermartabat. Kepemimpinan yang baik tidak diukur semata dari seberapa berani seseorang berbicara lantang di depan publik, tetapi dari seberapa besar kata-katanya mampu membangun, berdampak, serta menyatukan di tengah karut marut negara. Pesan sederhana dari Al-Qur’an yakni qaulan sadida,perkataan yang benar dan tepat dapat menjadi pondasi dalam etika berkomunikasi di ruang publik.

Referensi

Alfi Alfarizhi Hidayat & Imamul Muttaqin. (2024). Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam (Pengertian, Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah, Karakteristik Kepemimpinan Islam dan Keberhasilannya). Katalis Pendidikan : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Matematika, 1(4), 173–185. https://doi.org/10.62383/katalis.v1i4.962

Na’im, Z. (2022). ETIKA KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN KORELASINYA TERHADAP KINERJA. Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 6(1), 195–210. https://doi.org/10.32478/evaluasi.v6i1.972

Zahid, Moh. (2015). KOMUNIKASI SANTUN DALAM AL-QUR’AN. KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman, 21(2), 175. https://doi.org/10.19105/karsa.v21i2.516

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *