Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam penelitian manuskrip keagamaan. Jika dahulu para peneliti harus mendatangi perpustakaan atau museum untuk meneliti naskah kuno, kini ribuan manuskrip dapat diakses secara daring melalui berbagai basis data ilmiah. Dalam studi Al-Qur’an, salah satu proyek digital yang paling berpengaruh adalah Corpus Coranicum, sebuah proyek penelitian yang dikembangkan di Jerman untuk mendokumentasikan sejarah teks Al-Qur’an secara sistematis (Marx et al., 2007).
Sejak dimulai pada tahun 2007, Corpus Coranicum menjadi rujukan penting bagi para peneliti karena menggabungkan dokumentasi manuskrip awal Al-Qur’an, varian bacaan (qirāʾāt), sumber-sumber dari lingkungan budaya Timur Dekat Kuno, serta komentar historis terhadap setiap surah. Setelah proyek akademiknya berakhir pada tahun 2024, publikasi digital tersebut tetap dilanjutkan mulai 2025. Perubahan ini memunculkan pertanyaan: apakah Corpus Coranicum e.V 2025 merupakan proyek baru atau hanya kelanjutan dari proyek sebelumnya?
Pertanyaan tersebut menarik karena banyak pembaca menganggap hadirnya situs Corpus Coranicum 2025 sebagai awal dari fase penelitian baru. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, perubahan yang terjadi justru lebih banyak menyangkut aspek kelembagaan daripada perubahan metodologi penelitian. Oleh karena itu, artikel ini membandingkan Corpus Coranicum periode 2007–2024 dengan Corpus Coranicum 2025 untuk melihat kesinambungan maupun transformasi yang terjadi.
Perbedaan paling mendasar antara kedua periode tersebut terletak pada status kelembagaannya. Selama tahun 2007–2024, Corpus Coranicum merupakan proyek resmi Berlin-Brandenburg Academy of Sciences and Humanities (BBAW) yang dibiayai melalui Akademienprogramm, yaitu program penelitian jangka panjang pemerintah federal Jerman dan negara bagian Brandenburg untuk melestarikan warisan budaya (Marx et al., 2007). Dengan dukungan tersebut, proyek berhasil membangun salah satu basis data digital Al-Qur’an paling lengkap di dunia.
Setelah proyek akademi selesai pada tahun 2024, aktivitas penelitian tidak dihentikan. Mulai tahun 2025, seluruh basis data dikelola oleh Corpus Coranicum e.V., sebuah asosiasi yang bertugas menjaga keberlanjutan publikasi digital. Michael Marx tetap menjadi editor utama sehingga kesinambungan akademik tetap terpelihara. Dengan demikian, perubahan yang terjadi lebih merupakan perpindahan model pengelolaan daripada lahirnya proyek penelitian baru (Marx & Sohl, 2025).
Meskipun pengelolaan berubah, tujuan ilmiah Corpus Coranicum tetap dipertahankan. Baik pada periode 2007–2024 maupun sejak 2025, proyek ini bertujuan mendokumentasikan sejarah teks Al-Qur’an melalui empat komponen utama, yaitu Manuscripta Coranica, Variae Lectiones Coranicae, Texts from the World of the Qur’an, dan Commentary. Keempat komponen tersebut saling melengkapi dalam menjelaskan perkembangan teks Al-Qur’an berdasarkan pendekatan historis dan filologis (Marx et al., 2007).
Kesamaan lain terlihat pada metode penelitian yang digunakan. Kedua periode sama-sama menggabungkan kajian filologi, kodikologi, paleografi, penanggalan radiokarbon, serta analisis intertekstual terhadap tradisi Yahudi, Kristen, dan literatur Timur Dekat Kuno. Pendekatan multidisipliner tersebut menjadikan Corpus Coranicum tidak hanya berfungsi sebagai katalog manuskrip, tetapi juga sebagai laboratorium digital bagi penelitian sejarah Al-Qur’an.
Dari sisi isi, tidak terdapat perubahan yang bersifat mendasar. Basis data manuskrip awal, dokumentasi qirāʾāt, koleksi teks pembanding, hingga komentar historis tetap dipertahankan. Bahkan bagian Commentary pada publikasi 2025 direproduksi sebagaimana versi BBAW tanpa perubahan substansial. Hal ini menunjukkan bahwa Corpus Coranicum 2025 lebih berorientasi pada pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur digital daripada penyusunan ulang hasil penelitian sebelumnya (Marx & Sohl, 2025).
Walaupun demikian, terdapat beberapa perubahan penting. Jika pada periode 2007–2024 fokus utama proyek adalah menghasilkan data penelitian baru, maka sejak 2025 perhatian lebih diarahkan pada pembaruan basis data, penyempurnaan fungsi pencarian, penambahan entri baru, serta pemeliharaan akses terbuka (open access). Pergeseran ini menunjukkan perubahan dari fase pembangunan menuju fase keberlanjutan dan diseminasi hasil penelitian.
Perubahan lain tampak pada sistem pendanaan. Pada masa proyek akademi, sebagian besar pendanaan berasal dari pemerintah federal Jerman dan negara bagian Brandenburg, disertai berbagai hibah penelitian internasional seperti Coranica dan Paleocoran yang didukung oleh DFG Jerman dan ANR Prancis (Marx & Sohl, 2025). Setelah proyek selesai, keberlanjutan publikasi digital tidak lagi berada dalam kerangka program akademi, tetapi dijalankan melalui pengelolaan asosiasi Corpus Coranicum e.V.
Kerja sama internasional yang telah dibangun selama hampir dua dekade menjadi salah satu kekuatan utama Corpus Coranicum. Proyek ini melibatkan berbagai lembaga seperti CNRS di Prancis, Collège de France, Universitas Hamburg, Universitas Leiden, LMU München, hingga berbagai perpustakaan di Berlin, Tübingen, Iran, dan negara-negara lain. Jaringan tersebut memperlihatkan bahwa penelitian sejarah Al-Qur’an berkembang melalui kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ilmu, bukan melalui kerja individual semata (Marx & Sohl, 2025).
Berdasarkan perbandingan tersebut, dapat disimpulkan bahwa perbedaan Corpus Coranicum 2007–2024 dan Corpus Coranicum 2025 tidak terletak pada paradigma ilmiahnya. Tujuan, metodologi, struktur basis data, bahkan sebagian besar isi publikasi tetap dipertahankan. Perubahan justru terjadi pada aspek organisasi, pendanaan, dan strategi pengelolaan publikasi digital setelah proyek akademi berakhir.
Dengan demikian, menyebut Corpus Coranicum 2025 sebagai proyek baru kurang tepat. Lebih tepat jika dipahami sebagai fase lanjutan dari proyek akademik yang telah menghasilkan fondasi penelitian selama periode 2007–2024. Keberlanjutan ini menunjukkan bahwa sebuah proyek penelitian tidak harus berakhir ketika pendanaan selesai. Sebaliknya, hasil penelitian dapat terus berkembang melalui pengelolaan digital yang terbuka sehingga tetap memberikan manfaat bagi komunitas akademik internasional. Dalam konteks inilah Corpus Coranicum menjadi contoh bagaimana transformasi kelembagaan mampu menjaga kesinambungan penelitian sekaligus memperluas akses terhadap sumber-sumber primer sejarah Al-Qur’an.
Refrensi
Marx, M., Neuwirth, A., & Sinai, N. (2007). Corpus Coranicum. Academy of Sciences and Humanities. https://corpuscoranicum.de/en/about
Marx, M., & Sohl, K. (2025). Corpus Coranicum. Corpus Coranicum e.V. https://corpuscoranicum.org/en









