Artikel ini menawarkan analisis kritis terhadap benturan epistemologis antara proyek teologi pembebasan Hasan Hanafi dan kritik ortodoksi yang dilancarkan oleh Adian Husaini. Melalui pembacaan komparatif, studi ini memetakan bagaimana Hanafi berupaya merekonstruksi teologi klasik (ilm al-kalām) dari wilayah metafisika-spekulatif (al-dhāt) menuju praksis sosial kemanusiaan (al-thawrah).
Di sisi lain, Adian Husaini mengidentifikasi dekonstruksi tersebut sebagai bentuk sekularisasi terselubung dan “pembunuhan” sistematis terhadap transendensi Tuhan melalui metodologi hermeneutika yang diimpor dari sejarah krisis teks Barat. Artikel ini berargumen bahwa ketegangan ini merefleksikan polarisasi fundamental dalam pemikiran Islam kontemporer: antara dorongan memfungsikan wahyu sebagai instrumen emansipasi sosial-horizontal dan keharusan menjaga kemurnian akidah teosentris yang vertikal.
Pendahuluan: Dialektika Transendensi dan Praksis Kemanusiaan
Perdebatan teologis antara Hasan Hanafi dan Adian Husaini melampaui batas pertarungan wacana akademik konvensional. Diskursus ini menyentuh fondasi paling elementer dalam bangunan keyakinan Islam: persoalan apakah Tuhan harus dipahami sebagai entitas transenden yang berjarak dari realitas makhluk, atau sebagai spirit emansipatif yang bersemayam dalam kesadaran aksiologis manusia. Hanafi secara radikal memilih jalan kedua melalui proyek penyegaran teologisnya, sebuah pilihan metodologis yang oleh Adian Husaini dinilai sebagai bentuk desakralisasi dan penyimpangan akidah yang mendasar.
Dalam peta pemikiran Islam kontemporer, figur Hasan Hanafi kerap diasosiasikan dengan keberanian metodologis yang provokatif. Gagasannya mengenai kiri Islam (al-yasār al-Islāmī) serta rekonstruksi warisan klasik (al-Turāth wa al-Tajdīd) diniatkan untuk membebaskan umat dari stagnasi sejarah.(Hanafī, 1980: 15) Kendati demikian, resistensi paling sistematis dan rigid terhadap proyek rekonstruksi ini justru datang dari kalangan pemikir kontemporer seperti Adian Husaini. Husaini memandang bahwa hermeneutika yang dioperasikan oleh Hanafi bukan sekadar alat analisis teks yang netral, melainkan sebuah instrumen metodologis yang secara perlahan mereduksi eksistensi ketuhanan demi mengagungkan kedaulatan manusia.(Husaini, 2005: 89)
Teologi Antropologis Hasan Hanafi: Menarik Tuhan ke Ruang Sejarah
Landasan intelektual Hasan Hanafi bertumpu pada premis bahwa teologi klasik (ilm al-kalām) telah kehilangan aktualitas fungsionalnya. Ia mengkritik perdebatan teolog klasik mengenai esensi Tuhan (al-dhāt) sebagai spekulasi teoretis yang tidak memberikan kontribusi konkret bagi penyelesaian problem kemanusiaan.(Hanafī, 1988:45) Bagi Hanafi, orientasi teologis harus diubah secara revolusioner: fokus kajian tidak lagi berkutat pada aspek ontologis Tuhan (mā huwa Allāh), melainkan beralih pada aspek pragmatis-eksistensial tentang bagaimana gagasan ketuhanan mampu membebaskan manusia dari penindasan (kayfa yu‘īnu Allāh al-insān).
Melalui karya monumentalnya, Min al-‘Aqīdah ilā al-Thawrah, Hanafi merumuskan teologi pembebasan (ilm al-taḥrīr) yang berupaya melakukan transisi makna dari keyakinan pasif menuju revolusi sosial(Hanafī, 1988:112-115). Dalam kerangka ini, sifat-sifat ketuhanan didekonstruksi secara fungsional-etis:
- Al-Qadīr (Yang Mahakuasa): Sifat ini tidak lagi dipahami sebatas kekuasaan absolut Tuhan di alam metafisika, melainkan sebagai imperatif bagi manusia untuk merebut kedaulatan atas kemiskinan dan keterbelakangan.
- Al-‘Adl (Yang Mahaadil): Keadilan Ilahi harus diartikulasikan sebagai mandat historis untuk meruntuhkan struktur kekuasaan yang opresif di bumi.
Hanafi bahkan melakukan domestikasi sosiologis terhadap simbol-simbol keagamaan. Tauhid tidak lagi diletakkan dalam ruang hampa udara teologis, melainkan ditransformasikan sebagai manifesto penyatuan sosial guna melawan stratifikasi kelas. Sebaliknya, figur-figur antagonis dalam al-Qur’an seperti Firaun, Qarun, dan Haman tidak dibaca sebatas tokoh historis, melainkan sebagai arketipe dari tirani politik, monopoli ekonomi, dan hegemoni intelektual yang melegitimasi penindasan(Hanafī, 1988:234).
Hermeneutika sebagai Penetrasi Ideologis: Perspektif Adian Husaini
Adian Husaini memposisikan dirinya sebagai penjaga gawang ortodoksi yang menolak keras penggunaan hermeneutika dalam studi al-Qur’an. Bagi Husaini, hermeneutika bukanlah manasuka metodologis yang bebas nilai, melainkan sebuah produk budaya sekuler Barat yang membawa implikasi filosofis yang destruktif terhadap sakralitas wahyu (Husaini & Al-Baghdadi, 2007, hlm. 8–10). Hermeneutika didesain atas dasar asumsi bahwa teks selalu bersifat terbuka, maknanya tidak pernah stabil, dan peran pengarang (author) telah mati di hadapan subjek pembaca.
Husaini mengingatkan bahwa hermeneutika lahir dari rahim krisis sejarah Kristen Barat yang menghadapi problem otentisitas teks Bibel. Oleh karena itu, memaksakan metode ini pada al-Qur’an—yang otentisitas transmisinya terjaga secara mutawātir sejak awal—merupakan kesalahan epistemologis yang fatal dan bentuk pemaksaan metodologis yang tidak relevan.(Husaini, 2005:145)
Gugatan Antropomorfisme Baru: Kritik atas Pemanusiaan Tuhan
Pusat kritik Husaini terhadap Hanafi bermuara pada tuduhan bahwa teologi pembebasan tersebut telah terjerumus ke dalam reduksionisme kemanusiaan (insān Allāh), di mana eksistensi Tuhan disubordinasikan di bawah kesadaran manusia. Ketika Hanafi memproyeksikan sifat-sifat Tuhan sebagai manifestasi ideal dari potensi kemanusiaan, Husaini melihatnya sebagai kebangkitan antropomorfisme (tajsīm) gaya baru yang menolak transendensi mutlak Allah. Kecenderungan Hanafi untuk menempatkan kesadaran manusia (al-syu‘ūr) sebagai poros hermeneutis tertinggi dikritik tajam oleh Husaini. Hanafi menyatakan:
“Kesadaran (al-syu‘ūr) merupakan dimensi paling partikular dalam diri manusia, yang posisinya melampaui akal teoretis dan kedalamannya melebihi intuisi kalbu, serta memiliki kapasitas untuk menyingkap realitas eksistensial secara mandiri.”
Bagi Husaini, penegasan ini merupakan bentuk pendewaan rasio (ta‘līh al-‘aql) yang menempatkan kesadaran manusia di atas supremasi wahyu.(Husaini, A., & Al-Baghdadi, 2007:54) Dengan mengabaikan dalil-dalil naqlī yang menegaskan perbedaan kualitatif antara Khalik dan makhluk (laysa ka mithlihi shay’un), Hanafi dinilai telah mengorbankan dimensi transendensi teologis yang menjadi inti dari doktrin tauhid demi memuluskan agenda humanisme sekulernya.
Polarisasi Epistemis dalam Lanskap Intelektual Islam Indonesia
Perdebatan teologis antara Hanafi dan Husaini beresonansi secara luas dalam lanskap pemikiran Islam di Indonesia. Adian Husaini, melalui lembaga seperti INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), secara konsisten mengonsolidasikan gerakan penolakan terhadap apa yang diistilahkannya sebagai liberalisasi dan sekularisasi studi Islam di perguruan tinggi.(Husaini, 2005:210) Ia menilai bahwa pengajaran hermeneutika di kampus-kampus Islam merupakan pintu gerbang runtuhnya otoritas keilmuan Islam tradisional yang bersandar pada ijmā‘ dan tradisi tafsir klasik.
Sebaliknya, di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), hermeneutika dipandang sebagai perangkat metodologis yang vital dan niscaya. Tanpa bantuan hermeneutika kritis, studi al-Qur’an dinilai akan mengalami kelumpuhan dalam menjawab isu-isu kontemporer yang mendesak, seperti kesetaraan gender, pluralisme agama, penegakan hak asasi manusia, serta keadilan ekologi. Polarisasi ini mencerminkan adanya jurang epistemologis yang dalam: satu pihak memprioritaskan proteksi akidah dari infiltrasi epistemologi luar, sementara pihak lain menekankan relevansi fungsional teks suci dalam menjawab dinamika zaman.
Kesimpulan
Ketegangan teologis antara Hasan Hanafi dan Adian Husaini meninggalkan sebuah pertanyaan esensial yang tetap terbuka: apakah upaya memfungsikan teologi secara antroposentris merupakan jalan menghidupkan kembali spirit emansipatif agama, ataukah justru langkah awal menuju sekularisasi yang meniadakan transendensi Tuhan? Adian Husaini, dengan berpijak pada ortodoksi teologis yang rigid, memilih opsi kedua demi menyelamatkan kesucian akidah. Sebaliknya, Hasan Hanafi memilih opsi pertama untuk membebaskan manusia dari belenggu penindasan sosial.
Perdebatan ini mencerminkan krisis epistemologis yang belum selesai dalam pemikiran Islam kontemporer. Di era disrupsi informasi ini, tantangan bagi para sarjana Muslim adalah bagaimana merumuskan metodologi pembacaan yang mampu mempertahankan dimensi transendensi Ilahi yang mutlak, tanpa harus mengorbankan kepekaan aksiologis terhadap realitas kemanusiaan yang mendesak.
REFERENSI
Hanafī, H. (1980). Al-Yasar al-Islami: Kitabat fi al-Nahdah al-Islamiyyah. Maktabah Madbuli.
Hanafī, H. (1988). Min al-Aqidah ila al-Thawrah: Al-Muqaddimat al-Nazhariyyah. Maktabah Madbuli.
Husaini, A., & Al-Baghdadi, A. (2007). Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an. Gema Insani.
Husaini, A. (2005). Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Sekularisme-Liberal. Gema Insani.









