Beranda / Metodologi Tafsir / Diksi Pertanyaan dalam Al-Qur’an Membangun Nalar Kritis di Era AI

Diksi Pertanyaan dalam Al-Qur’an Membangun Nalar Kritis di Era AI

Perkembangan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence /AI) telah mengubah lanskap epistimologi manusia secara radikal. Di era Generative AI, jawaban atas berbagai persoalan kompleks dapat tersaji hanya dalam hitungan detik, Namun, kemudahan ini membawa tantangan baru: ancaman tumpulnya nalar kritis. Manusia rentan menjadi konsumen informasi yang pasif, menerima mentah-mentah begitu saja luapan data algoritma tanpa kemampuan memilah, memverifikasi, dan menguji kebenarannya.

Di tengah disrupsi teknologi ini, Al-Qur’an menawarkan metode literasi berpikir yang sangat kontekstual. Al-Qur’an tidak hanya berisi serangkaian dogmatika, tetapi juga sarat akan ayat-ayat bertipe instruksional dan dialogis yang disampaikan melalui diksi pertanyaan (istifham). Gagasan ini mengajak kita menelisik kembali bagaimana gaya pertanyaan dalam Al-Qur’an dibaca oleh para mufassir sebagai instrumen stimulasi akal dan pembentuk nalar kritis manusia modern.

Makna di Balik Istifham: Bukan Sekedar Bertanya

Secara kebahasaan, istifham merujuk pada upaya mncari pemahaman atas sesuatu yang belum diketahui. Namun, dalam kajian ilmu Balaqah dan Tafsir, pertanyaan Allah di dalam Al-Qur’an mustahil dimaknai sebagai ketidaktahuan Tuhan. Sebaliknya, diksi pertanyaan tersebut berfungsi sebagai istifham majazi, petanyaan retoris yang membawa muatan pendagogis tinggi.

Syaikh Thahir ibn ‘Asyur dalam tafsirnya Tahrir wa at-Tanwir menegaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan Al-Qur’an berfungsi sebagai at-taqrir (penegasan) dan at-tahrik (menggerakan kesadaran). Ketika Al-Qur’an menggunakan diksi seperti

  1. “Afala ta’qilun?” (Apakah kamu tidak menggunakan akalmu?)
  2. “Afala tatadabbarun?” (Apakah kamu tidak merenungkan?)
  3. “Hal yastawi alladhina ya’lamun?” (Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?)

Para mufassir memandangnya sebagai metode korektif atas kemandekan berpikir masyarakat. Diksi-diksi ini merupakan shock therapy verbal yang menuntut audiens untuk berhenti sejenak, mengevaluasi asumsi dasar mereka, dan menggunakan daya nalar secara mandiri.

Dialektika Qur’ani dan Prompting di Era AI

Secara teknis, dinamika berinteraksi dengan AI hari ini sangat bergantung pada kualitas instruksi atau pertanyaan (prompt engineering) AI hanya memberikan respons berdasar pada bobot pertanyaan yang diajukan pengguna. Jika pertanyaan yang diajukan bersifat dangkal, maka jawaban yang dihasilkan pun dangkal.

Disinilah diksi pertanyaan Al-Qur’an menawarkan metodologi berpikir. Al-Qur’an mengajari manusia untuk tidak langsung puas dengan permukaan realitas.

Pertama, Pertanyaan Dekonstruktif (Istifham Inkari)

    Al-Qur’an sering menggunakan format pertanyaan untuk membongkar bias dan dogma taklid. Pertanyaan seperti “A-qhayrAllahi ta’ddun?” (Apakah kepada selain Allah kamu berdoa?) melatih akal untuk bersikap kritis terhadap otoritas palsu. Di era AI, nalar inkari ini penting agar kita tidak ‘meunuhankan’ algoritma atau menerima dengan mentah-mentah kekeliruan (hallucination) mesin tanpa verifikasi (tabayyun).

    Kedua, Pertanyaan Evaluatif dan Reflektif

    Dalam surah Al- Ghasyiyah ayat 17-20, Allah menggunakan diksi “Afala yanzuruna ila al-ibili kaifa khuliqat….”(Apakah mereka mengira tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan..). Mufassir seperti Fakhruddin ar-Razi menekankan bahwa ayat ini menggunakan objek empiris yang dekat dengan manusia untuk melatih pengamatan kritis menuju penimpulan logis, Dalam kenteks AI, nalar evaluatif ini meuntut manusia untuk selalu menelusuri logika di balik data (traceability) dan analisis sebab-akibat

    Mufassir klasik hingga modern menyadari betul, bahwa diksi pertanyaan dalam Al-Qur’an adalah cara wahyu meletakkan dasar epistimologi yang memerdekakan. M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah ketika menafsirkan ayat-ayat afala tatafakkarun menggarisbawahi bahwa Al-Qur’an tidak pernah mendikte manusia untuk menerima kebenaran secara buta. Al-Qur’an justru mendidik akal melalui pertanyaan bertahap agar manusia sampai pada kebenaran secara sadar. Akal diajak berdialog, bukan diintervensi.

    Bagi para mufassir, diksi istifham adalah bentuk penghormatan tertinngi Al-Qur’an terhadap martabat intelektual manusia. Ketika Allah mengajukan pertanyaan, manusia diposisikan sebagai subjek yang memiliki kapasitas berpikir, bukan objek yang sekedar menerima doktrin tanpa daya.

    Menjaga Kemandirian Berpikir di Tengah Algoritma

    Kehadiran AI berpotensi memanjakan akal manusia hingga berada dalam posisi atrofi kemunduran fungsi akibat jarang digunakan. Jika semua jawaban dapat ditanyakan pada AI, lantas apa fungsi eksistensial akal manusia?

    Jawabannya terletak pada kemampuan mengajukan pertanyaan yang bermakna. AI dapat memberikan ribuan jawaban, akan tetapi hanya akal manusia yang dibimbing nilai etis dan ilahiah yang mampu merumuskan pertanyaan bernilai moral, epistimologis, dan eksistensial.

    Melalui diksi pertanyaan dalam Al-Qur’an, kita diajarkan bahwa puncak kecerdasan bukan sekedar memiliki jawaban atas segalanya, melainkan memiliki keberanian dan ketajaman nalar untuk mempertanyakan hal yang benar. Di era AI, nalar kritis yang dibangun oleh ragam diksi istifham Qur’ani adalah benteng utama agar manusia tetap menjadi pemikir yang bijak, bukan sekedar operator mesin yang pasif.

    Fenomena ini mempertegas bahwa kehadiran teknologi canggih seharusnya tidak menggeser peran manusia sebagai agen berpikir, melainkan memicu reorientasi cara kita memproses pengetahuan. Pendekatan dialogis yang ditawarkan Al-Qur’an memperlihatkan bahwa pemahaman keagamaan yang matang tidak lahir dari kepatuhan tanpa nalar, melainkan dari proses pencarian yang didorong oleh rasa ingin tahu yang sehat. Kesadaran kritis inilah yang pada akhirnya membedakan antara kedalaman pemikiran manusia dengan sekedar kalkulasi mekanis yang dijalankanoleh mesin.

    Daftar Pustaka

    • Al-Jarim,A., & Amin, M. (1999). Al-Balaghatul Wadhiah. Cairo: Dar al-Ma’arif.
    • Floridi, L. (2014). The 4th Revolution: How the infoshere is Reshaping Human Reality. Oxford: Oxford University Press.
    • Ibn ‘Asyur, M. Al-T. (1984). Tafsir at- Tahrir wa at- Tanwir (Vol.1). Tunis: Ad-Dar at-Tunisiyyah li an-Nasr.
    • Shihab, M. Q. (2002). Tafsir Al-Mishbah: Kesan, Pesan dan keserasian Al-Qur’an (Vol.1). Jakarta” Lentera Hati.

    Tag:

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *