Piala Dunia FIFA bukan hanya tentang pertandingan sepak bola. Di balik gegap gempita kompetisi terbesar di dunia itu, musik selalu menjadi medium yang menyatukan jutaan orang dari berbagai bahasa, budaya, dan latar belakang. Begitu pula pada FIFA World Cup 2026. Lagu DAI DAI hadir bukan sekadar sebagai soundtrack resmi turnamen, tetapi juga sebagai narasi tentang keberanian, harapan, dan ketangguhan manusia dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Salah satu bait yang paling menarik berbunyi, “You’ve been this brave all along” dan “What broke you once made you strong.” Lirik tersebut menyampaikan pesan yang terasa dekat dengan pengalaman banyak orang: luka tidak selalu menghancurkan, tetapi dapat menjadi ruang bertumbuh. Di tengah tekanan hidup, kehilangan, kegagalan, maupun ketidakpastian masa depan, lagu ini seolah mengajak pendengarnya untuk tetap berdiri dan melangkah.
Pesan seperti ini tentu bukan hal yang asing dalam kehidupan manusia. Namun, bagaimana Al-Qur’an memandang pengalaman tersebut? Apakah manusia memang diciptakan untuk menjadi kuat melalui penderitaan? Ataukah Al-Qur’an menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap perjuangan hidup?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menarik untuk didialogkan dengan QS al-Balad [90]:4, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam kepayahan” (laqad khalaqnā al-insāna fī kabad). Alih-alih membacanya sebagai slogan motivasi, para mufasir klasik memahami ayat ini sebagai penjelasan tentang kondisi eksistensial manusia. Kepayahan bukanlah penyimpangan dari kehidupan, melainkan bagian dari realitas yang menyertai manusia sejak awal penciptaannya. Dari titik inilah lirik DAI DAI dapat dibaca kembali: bukan untuk mencari pembenaran ayat terhadap lagu, melainkan untuk melihat bagaimana khazanah tafsir klasik membantu kita memahami pengalaman psikologis manusia yang terus bergema dalam budaya populer hingga hari ini.
Makna Fī Kabad dalam Tafsir Klasik
QS al-Balad [90]:4 menjadi salah satu ayat yang ringkas sekaligus menyimpan makna yang kaya saat menggambarkan kondisi dasar manusia dalam khazanah tafsir klasik. Meskipun terdapat beberapa variasi penafsiran, mayoritas mufasir memahami kabad sebagai keadaan yang sarat dengan kesulitan, kepayahan, dan perjuangan hidup. Di antara mufasir yang memberikan pembahasan paling komprehensif mengenai ayat ini ialah al-Ṭabarī dan al-Qurṭubī.
Al-Ṭabarī: Manusia Diciptakan untuk Bergulat dengan Kehidupan
Dalam Jāmi’ al-Bayān, al-Ṭabarī (2001) terlebih dahulu menghimpun berbagai riwayat dari sahabat dan tabi’in mengenai makna fī kabad. Ibn ‘Abbās menafsirkannya sebagai naṣab (kelelahan), sedangkan al-Ḥasan al-Baṣrī, Qatādah, Mujāhid, dan Ikrimah memaknainya sebagai syiddah (kesulitan), ‘anā’ (kepayahan), dan masyaqqah (beban kehidupan). Ragam riwayat tersebut menunjukkan adanya kesepakatan umum bahwa kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari perjuangan.
Namun, al-Ṭabarī tidak berhenti pada penghimpunan riwayat. Ia melakukan tarjīḥ dan menyimpulkan bahwa pendapat yang paling kuat adalah bahwa manusia diciptakan untuk terusbergulat dengan berbagai urusannya.
وأولى الأقوال في ذلك بالصواب قول من قال: معنى ذلك أنه خلق يكابد الأمور ويعالجها، فقوله: في كبد معناه في شدة
Pernyataan ini menjadi sangat penting karena al-Ṭabarī memilih dua kata kerja yang aktif, yakni yukābid (bergulat, bersusah payah) dan yu’āliju (menghadapi atau mengatasi). Dengan demikian, fī kabad tidak sekadar menggambarkan manusia sebagai objek yang menerima penderitaan, tetapi sebagai subjek yang terus berinteraksi dengan berbagai persoalan kehidupan.
Al-Qurṭubī: Kepayahan sebagai Narasi Kehidupan Manusia
Jika al-Ṭabarī merumuskan konsep fī kabad secara padat, al-Qurṭubī (2006) mengembangkannya menjadi gambaran menyeluruh tentang perjalanan hidup manusia. Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, kabad berarti kesulitan dan kepayahan. Dari akar kata tersebut lahir istilah mukābadah, yakni menghadapi sesuatu dengan susah payah dan penuh perjuangan.
Penjelasan al-Qurṭubī kemudian bergerak dari makna bahasa menuju pengalaman hidup manusia. Menurutnya, perjuangan manusia dimulai sejak proses kelahiran: pemotongan tali pusar, menyusu, tumbuh gigi, disapih, dikhitan, belajar, bekerja, menikah, membesarkan anak, menghadapi penyakit, memasuki usia senja, hingga mengalami kematian, alam kubur, dan hari perhitungan (al-Qurṭubī, 2006). Melalui uraian tersebut, al-Qurṭubī memperlihatkan bahwa kehidupan manusia adalah rangkaian mukābadah yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Hal itu ditegaskannya melalui ungkapan:
ولا يمضي عليه يوم إلا يقاسي فيه شدة، ولا يكابد إلا مشقة
“Tidaklah berlalu satu hari atas manusia melainkan ia mengalami suatu bentuk kesulitan dan tidaklah ia bergulat kecuali dengan kepayahan.”
Bagi al-Qurṭubī, kesulitan bukanlah peristiwa insidental, melainkan bagian dari ritme kehidupan manusia. Bahkan ia menutup pembahasannya dengan refleksi teologis bahwa seandainya manusia diberi pilihan, tentu ia tidak akan memilih seluruh rangkaian kesulitan tersebut. Justru karena manusia tidak memilihnya, tampak bahwa kehidupan berada di bawah pengaturan Allah Swt. (al-Qurṭubī, 2006).
Refleksi atas Dimensi Psikologis Manusia
Jika lirik DAI DAI memandang luka sebagai titik awal lahirnya kekuatan, maka QS al-Balad [90]:4 mengajak pembaca bergerak lebih jauh dengan melihat perjuangan sebagai bagian dari hakikat kehidupan manusia. Perbedaan ini penting. Ketangguhan dalam perspektif Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru muncul setelah seseorang mengalami penderitaan, melainkan kemampuan yang terus dibentuk karena manusia memang menjalani kehidupan yang tidak pernah lepas dari kepayahan.
Cara pandang semacam ini mengubah cara seseorang memaknai berbagai pengalaman hidup. Kegagalan tidak selalu menjadi tanda bahwa seseorang berada di jalan yang salah. Kehilangan bukan berarti kehidupan kehilangan makna. Demikian pula tekanan, kecemasan, dan ketidakpastian tidak selalu menunjukkan bahwa hidup sedang berjalan di luar rencana Allah. Sebaliknya, semuanya merupakan bagian dari realitas yang menyertai perjalanan manusia sebagai makhluk yang diciptakan fī kabad.
Dalam konteks psikologi modern, pemahaman ini dapat direfleksikan melalui konsep resilience, yaitu kemampuan individu untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi berbagai tekanan kehidupan (Masten, 2014; Bonanno, 2004). Tentu, konsep resilience merupakan konstruksi ilmiah yang lahir dari disiplin psikologi modern dan tidak dikenal sebagai istilah teknis dalam literatur tafsir klasik. Namun, pembacaan terhadap QS al-Balad [90]:4 menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah menghadirkan fondasi antropologis tentang manusia sebagai makhluk yang hidup dalam perjuangan. Dari fondasi inilah refleksi mengenai ketangguhan psikologis memperoleh pijakan yang kokoh.
Pada akhirnya, pesan Al-Qur’an tidak berhenti pada pengakuan bahwa hidup penuh dengan kesulitan. Ayat ini juga mengandung ajakan agar manusia tidak menjadikan kepayahan sebagai alasan untuk menyerah. Kesulitan merupakan bagian dari kehidupan, sedangkan ikhtiar merupakan bagian dari kemanusiaan. Karena itu, ketangguhan bukan berarti hidup tanpa luka, melainkan kemampuan untuk tetap melangkah, mengelola diri, dan memelihara harapan di tengah berbagai keterbatasan.
Di sinilah lirik DAI DAI menemukan ruang dialognya dengan Al-Qur’an. Lagu tersebut mengajak manusia untuk bangkit setelah terluka, sedangkan QS al-Balad [90]:4 mengingatkan bahwa perjuangan itu sendiri merupakan bagian dari desain penciptaan manusia. Dengan demikian, ketangguhan bukan lahir karena penderitaan dipuja, melainkan karena manusia menyadari bahwa setiap fase kehidupan memang menuntut keberanian untuk terus berjalan. Kesadaran inilah yang menjadikan QS al-Balad [90]:4 tetap relevan sebagai sumber refleksi bagi manusia modern yang hidup di tengah berbagai tekanan psikologis, sosial, dan spiritual.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qurṭubī, M. A. (2006). Al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur’ān. Beirut: Mu’assasah al-Risālah.
Al-Ṭabarī, M. ibn Jarīr. (2001). Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān. Kairo: Dār Hajr.
Bonanno, G. A. (2004). Loss, Trauma, and Human Resilience. American Psychologist, 59(1), 20–28.
FIFA. (2026). Official FIFA World Cup 26™ Soundtrack: DAI DAI. FIFA.
Masten, A. S. (2001). Ordinary Magic: Resilience Processes in Development. American Psychologist, 56(3), 227–238.









