Kitab Majālis at-Tadzkīr min Kalām al-Hakīm al-Khabīr merupakan salah satu karya penting Abdul Hamid Ibn Badis (w. 1940) dalam bidang tafsir Al-Qur’an. Tafsir ini pada dasarnya berasal dari pengajian, ceramah, dan pelajaran tafsir yang beliau sampaikan kepada masyarakat Aljazair di masjid maupun lembaga pendidikan. Karena berasal dari majelis pengajaran, gaya bahasa tafsir ini cenderung komunikatif, sederhana, dan mudah dipahami masyarakat umum.
Kitab ini lahir di tengah kondisi sosial masyarakat Aljazair yang sedang mengalami penjajahan Prancis. Dalam keadaan tersebut, Ibn Badis menjadikan Al-Qur’an sebagai sarana membangun kesadaran umat Islam agar kembali kepada ajaran agama, memperbaiki moral, serta membangun semangat persatuan dan pendidikan. Oleh sebab itu, tafsir Majālis at-Tadzkīr tidak hanya menjelaskan makna ayat secara tekstual, tetapi juga menghubungkannya dengan realitas sosial masyarakat.
Selain itu, tafsir ini memiliki nuansa pembaruan (tajdid) yang sangat kuat. Ibn Badis berusaha membersihkan pemahaman masyarakat dari praktik-praktik taklid, khurafat, dan sikap pasif terhadap kemajuan. Dalam penafsirannya, ia sering menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, akhlak, kerja keras, dan kebangkitan umat Islam. Hal tersebut menunjukkan bahwa tafsir yang ia tulis bukan sekadar karya akademik, tetapi juga media dakwah dan reformasi sosial.
Dari segi sistematika, Ibn Badis menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an secara berurutan sesuai tartib mushaf. Penjelasannya biasanya diawali dengan pemaparan makna ayat, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan pesan moral, pendidikan, dan sosial yang terkandung di dalamnya. Karena itu, tafsir ini lebih menonjolkan aspek penghayatan dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan masyarakat.
Metode Tafsir Abdelhamid Ben Badis
Metodologi tafsir yang digunakan oleh Ibn Badis dalam menafsirkan Al-Qur’an menunjukkan pendekatan yang sistematis dan mendalam. Dalam karya tafsirnya, beliau tidak hanya menjelaskan makna ayat secara tekstual, tetapi juga berusaha membawa pembaca memahami konteks, hubungan antarayat, serta keindahan bahasa Al-Qur’an. Langkah pertama yang dilakukan adalah memberikan pendahuluan terhadap ayat yang akan dibahas. Pada tahap ini, pembaca diarahkan terlebih dahulu kepada suasana dan tema umum ayat sehingga memiliki gambaran awal sebelum memasuki penafsiran yang lebih rinci.
Setelah itu, ia menjelaskan aspek al-munāsabah, yaitu hubungan ayat yang sedang ditafsirkan dengan ayat sebelumnya. Menurut beliau, keterkaitan antarayat memiliki peranan penting untuk memahami kesinambungan pesan Al-Qur’an. Dengan memahami korelasi tersebut, makna ayat akan terlihat lebih utuh dan tidak dipahami secara terpisah dari konteks pembicaraan sebelumnya.
Selain memperhatikan hubungan antarayat, beliau juga menaruh perhatian pada asbābun nuzūl atau sebab-sebab turunnya ayat. Penjelasan mengenai latar belakang turunnya ayat dianggap dapat membantu pembaca memahami maksud dan tujuan ayat secara lebih tepat. Informasi historis tersebut memberikan gambaran tentang kondisi sosial dan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya wahyu.
Dalam aspek kebahasaan, Ibn Badis menafsirkan kata-kata Al-Qur’an berdasarkan makna linguistik yang paling kuat. Pendekatan ini bertujuan agar pembaca dapat memahami kandungan ayat sesuai dengan penggunaan bahasa Arab yang benar dan mendalam. Tidak hanya pada tingkat kata, beliau juga menganalisis struktur kalimat (al-tarākīb) dengan menampilkan sisi kefasihan dan keindahan gaya bahasa Arab dalam Al-Qur’an. Analisis tersebut memperlihatkan perhatian beliau terhadap aspek balaghah dan sastra Al-Qur’an.
Pada tahap akhir, Ibnu Badis memberikan penjelasan mengenai makna umum ayat secara ringkas namun tetap jelas dan padat. Penafsiran yang beliau sajikan tidak terlalu panjang sehingga mudah dipahami, tetapi juga tidak terlalu singkat hingga menghilangkan inti makna ayat. Dengan metode seperti ini, tafsir beliau menjadi lebih komunikatif dan relevan bagi pembaca modern tanpa meninggalkan kedalaman makna Al-Qur’an.
Corak Tafsir Abdelhamid Ibn Badis
Selain memiliki metode tafsir tertentu, setiap mufassir juga mempunyai corak penafsiran yang menjadi ciri khas dalam karya tafsirnya. Dalam kitab Majālis at-Tadzkīr, Ibn Badis dikenal menggunakan corak adabi ijtima’i, yaitu corak tafsir yang menekankan nilai moral, pendidikan, sastra, dan kehidupan sosial masyarakat. Melalui corak ini, penafsiran Al-Qur’an tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diarahkan sebagai solusi atas berbagai persoalan umat.
Corak tersebut tampak dalam penafsiran Ibn Badis yang sering mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan kondisi masyarakat Aljazair pada masa penjajahan Prancis. Ia menekankan pentingnya pendidikan, persatuan umat, dan perbaikan akhlak sebagai jalan kebangkitan Islam. Menurutnya, kemunduran umat terjadi karena jauhnya masyarakat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, tafsir dijadikan sebagai media dakwah untuk membangun kesadaran umat agar kembali mencintai ilmu, menjaga persatuan, dan memperbaiki kehidupan sosial. Corak adabi ijtima’i dalam tafsir Abdelhamid Ben Badis tampak dalam penafsirannya terhadap QS. Al-Mu’minun ayat 51:
يَٰأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا
Dalam tafsirnya, Ibn Badis menjelaskan:
“فالآية تدل على أن دين الله قائم على أمرين: طيب الغذاء، وصلاح العمل، وأن المؤمن يجب عليه أن يتحرى الحلال في مأكله ومشربه وأعماله حتى تكون عبادته مقبولة عند الله تعالى.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa menurut Ibn Badis, ajaran Islam menekankan dua hal utama, yaitu menjaga makanan dan rezeki yang halal serta melaksanakan amal saleh. Ia menjelaskan bahwa makanan yang halal dan baik akan memberikan pengaruh positif terhadap hati, pikiran, dan perilaku manusia, sedangkan sesuatu yang haram dan buruk dapat merusak jiwa dan akhlak seseorang.
Ibn Badis juga menjelaskan bahwa manusia terdiri dari jasad dan ruh. Jasad memerlukan makanan dan minuman agar dapat hidup dengan baik, sedangkan ruh memerlukan amal saleh dan ibadah agar menjadi bersih dan sempurna. Oleh sebab itu, Allah mendahulukan perintah makan sebelum perintah beramal karena tubuh yang sehat dan terbebasdari hal-hal haram akan membantu manusia dalam menjalankan ibadah dan amal kebajikan.
Selain menjelaskan makna ayat dari sisi kebahasaan, Ibn Badis juga mengaitkannya dengan kehidupan sosial masyarakat. Ia mengkritik sikap berlebihan dalam mengharamkan hal-hal baik yang telah dihalalkan Allah serta menolak praktik yang menyiksa tubuh atas nama agama. Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat.
Penafsiran tersebut menunjukkan corak adabi ijtima’i karena Ibn Badis tidak hanya menjelaskan makna ayat secara bahasa, tetapi juga menekankan nilai pendidikan, akhlak, kesehatan, keseimbangan hidup, dan perbaikan sosial masyarakat melalui ajaran Al-Qur’an. Penafsiran ini menunjukkan corak adabi ijtima’i dalam aspek pendidikan akhlak, etika sosial, dan pembinaan kehidupan masyarakat yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan rohani.
Corak adabi ijtima’i dalam tafsir Ibn Badis tidak hanya tampak pada penafsiran ayat tentang makanan halal dan amal saleh, tetapi juga dalam penafsirannya terhadap QS. Al-Furqan ayat 1 yang menekankan fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan dan reformasi umat. Corak adabi ijtima’i dalam tafsir Abdelhamid Ben Badis juga tampak ketika beliau menafsirkan QS. Al-Furqan ayat 1:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Dalam tafsirnya, Ibn Badis menjelaskan:
فالقرآن هو الفرقان الذي يفرق بين الحق والباطل، ويهدي الناس إلى طريق الخير والإصلاح
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dijadikan pedoman dalam membangun kehidupan masyarakat yang adil, berilmu, dan berakhlak. Selain menjelaskan makna ayat secara bahasa, Ibn Badis juga menghubungkan ayat tersebut dengan kondisi umat Islam pada masanya yang mengalami kemunduran akibat penjajahan, kebodohan, dan perpecahan. Umat Islam dapat bangkit apabila kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam bidang pendidikan, sosial, dan akhlak. Oleh karena itu, tafsir Al-Qur’a harus mampu mendorong kesadaran masyarakat untuk melakukan perubahan dan perbaikan sosial.
Daftar pustaka
Ibn Badis, Abdul Hamid. Majālis at-Tadzkīr min Kalām al-Hakīm al-Khabīr. Aljazair: Dar al-Rasyid, 2009.
Bintu Syati, Aisyah. “Manhaj al-Ishlah ‘inda Ibn Badis fi Tafsirihi.” Jurnal al-Tafsir wa al-Dirasat al-Qur’aniyyah Vol. 8, No. 2 (2022).
Fauzi, Ahmad. “Pemikiran Reformis Abdelhamid Ben Badis dalam Tafsir al-Qur’an.” Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis Vol. 21, No. 1 (2020).
Kholis, Nur. “Karakteristik Tafsir Modern di Afrika Utara.” Jurnal Ushuluddin Vol. 28, No. 2 (2020).
Ridwan, M. “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Tafsir Majalis at-Tadzkir Karya Ibn Badis.” Jurnal Pendidikan Islam Vol. 5, No. 1 (2021).









