Setiap penghafal Al-Qur’an mengenal satu momok yang sulit dihindari tertukarnya ingatan antara satu ayat dengan ayat lain yang redaksinya berdekatan. Ini bukan sekadar kelemahan hafalan personal, melainkan konsekuensi dari karakter retorik Al-Qur’an sendiri, yang kerap mengulang tema dengan variasi lafaz yang sangat halus. Fenomena inilah yang menjadi titik tolak lahirnya mushaf yang ditelaah/direview pada kesempatan ini, “Al-Qur’an al-Karim bi Riwayat Hafsh ‘an ‘Ashim bi al-Rasm al-‘Ustmani wa bihamisyihi Kitab al-Zahrawan fi Mutasyabihat al-Qur’an”, karya Dr. Yumna Muhammad Abu al-Nashr, terbitan Maktabah al-Taqwa, Kairo.
Yang membuat mushaf ini layak ditelaah bukan sekadar keberadaan catatan tambahannya, melainkan cara ia mengintegrasikan fungsi tilawah dan fungsi murajaah hafalan dalam satu bidang halaman, pembaca tidak perlu berpindah ke kitab lain untuk mengecek apakah ayat yang sedang dibaca memiliki kembaran lafaz di tempat lain.
Otoritas di Balik Sampul
Sampul mencantumkan identitas penulis hamisy secara lengkap:
يمنى محمد أبو النصر، الواعظة بوزارة الأوقاف المصرية، والحاصلة على معهد قراءات شبرا الخيمة مرحلة التخصص التابع للأزهر الشريف، الحاصلة على وسام الجمهورية من الطبقة الأولى
Tiga kredensial ini saling menguatkan: penasehat resmi Kementerian Wakaf Mesir, lulusan takhasshush Ma’had Qira’at Syubra al-Khaimah yang berafiliasi Al-Azhar al-Syarif, serta penerima Penghargaan Republik kelas pertama. Representasi otoritas keilmuan perempuan dalam bidang qira’at yang tampil eksplisit di sampul mushaf ini relatif jarang pada cetakan Timur Tengah, dan menarik dicatat dalam konteks sosiologi keilmuan Qur’an kontemporer. Karya ini juga dibuka dengan pendahuluan dari Dr. Muhammad Mahanna, yang secara struktural berfungsi layaknya “peer review” keulamaan sebelum pembaca masuk ke isi kitab.
Mutasyabihat Sebagai Disiplin, Bukan Catatan Insidental
Dalam pendahuluan, Dr. Muhammad Mahna menempatkan karya ini dalam genealogi keilmuan panjang, menyebut para imam yang telah mengurus persoalan ini sebelumnya, yaitu Imam Nafi’ al-Madani, al-Kisa’i, al-Kirmani, dan Khalaf ibn Hisyam, hingga Syaikh al-Islam Zakariyya al-Anshari dan al-Sakhawi. Pendahuluan ini juga membingkai mutasyabihat secara teologis, mengutip QS. Ali ‘Imran [3]: 7:
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ … وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِندِ رَبِّنَا
Ayat ini mengontraskan, orang yang hatinya condong pada kesesatan yang mengikuti ayat mutasyabih untuk fitnah, dengan orang yang mendalam ilmunya yang menerimanya dengan iman utuh. Framing ini menghubungkan mutasyabihat lafzhi (kemiripan redaksi antarayat) dengan mutasyabihat ma’nawi (kemiripan makna) yang dibahas dalam ilmu tafsir, yakni dua level kajian berbeda yang berakar pada ayat kunci yang sama.
Anatomi Sistem Notasi: Empat Simbol, Empat Level Ketelitian
Inilah kontribusi paling substantif secara metodologis, dan yang bisa diverifikasi langsung pada potret halaman Al-Fatihah. Dalam pendahuluannya, penulis menjelaskan:
استخدام الرموز للدلالة عن كل قسم: متشابهات لفظية تامة في بداية الآية، واستخدم لها رمز الدائرة الملونة أو المصمتة… واستخدم رمز الدائرة المفرغة… واستخدم رمز الدائرة المفرغة والنقاط حول المتشابه للدلالة على أن التشابه اللفظي في وسط الآيات. وأضيف رمز الأسهم للدلالة على تشابه في ألفاظ الآيات
Artinya, “Setiap jenis kemiripan ayat diberi simbol tertentu. Lingkaran berwarna atau penuh digunakan untuk menandai kemiripan lafaz yang sempurna pada awal ayat. Lingkaran kosong digunakan untuk jenis kemiripan lainnya, sedangkan titik-titik di sekitar bagian yang mirip menunjukkan bahwa kemiripan lafaz terdapat di tengah ayat. Adapun simbol anak panah digunakan untuk menunjukkan kemiripan pada lafaz-lafaz ayat.”
Tabel 1. Keteramgan Kode Mushaf
| No | Tanda | Posisi | Tingkat Kesamaan | Keterangan |
| 1 | ● (bulatan penuh) | Awal ayat | Sama persis | Awal ayat sama dengan ayat lain, kata demi kata |
| 2 | ○ (bulatan kosong) | Awal ayat | Mirip, ada perbedaan kecil | Awal ayat mirip, tetapi ada tambahan atau selisih huruf/kata seperti wawu, fa’, atau tsumma |
| 3 | ○ … … (bulatan kosong + titik-titik) | Tengah ayat | Mirip (sebagian) | Kemiripan ada di bagian tengah ayat, bukan di awalnya |
| 4 | ❖ … … (simbol di kotak paling bawah) | Akhir ayat | Mirip (sebagian) | Kemiripan ada di bagian akhir ayat (fawasil/penutup) |
| 5 | ◆ (satu simbol tunggal) | Awal atau akhir | Unik / tunggal | Lafaz atau ungkapan ini hanya ada di satu tempat dalam Al-Qur’an |
| 6 | ‹ › dan panah → | Bebas | Berdekatan | Ayat-ayat yang tidak identik tetapi berdekatan, dalam lafaz atau maknanya |
Artinya, tujuan kitab bukan menghimpun seluruh kesamaan penutup ayat, melainkan memprioritaskan titik-titik yang paling sering menjadi sumber kesulitan nyata bagi penghafal, keputusan berbasis observasi empiris, sebagaimana disinggung sendiri dalam pendahuluan bahwa ide kitab ini lahir dari pengamatan/observasi di halaqah-halaqah Qur’an, termasuk pertemuan di Tanah Haram Nabawi.
Studi Kasus: Membaca Halaman Al-Fatihah Sebagai Potret Data
Al-Fatihah cocok dijadikan sampel uji. Surah Al-Fatihah yang hanya tujuh ayat ini frasanya tersebar ke banyak surah lain. Catatan pinggir (hamisy) halaman ini memuat lima blok rujukan:
- “Bismillah al-rahman al-rahim” tanda (…○): kemiripan terjadi di tengah ayat. Basmalah juga muncul di QS. Hud: 41, dan QS. An-Naml: 30, tetapi di sana berada di tengah ayat, didahului kalimat lain.
- “Al-hamdulillah” tanda (○): kemiripan sebagian di awal ayat, dirujuk ke enam tempat: QS. Al-An’am: 1, QS. Ibrahim: 39, QS. Al-Kahf: 1, QS. Saba’: 1, QS. Fathir: 1, dan QS. Ash-Shaffat: 181. Lafaz pembukanya sama, tetapi lanjutannya berbeda-beda, misalnya alladzi khalaqa, alladzi wahaba, alladzi anzala, dan fathiris-samawat. Pola ini muncul di awal surah (Al-An’am, Al-Kahf, Saba’, Fathir), di tengah surah (Ibrahim), dan di akhir surah (Ash-Shaffat). Khusus pada QS. ada tanda ◆ menunjukkan hanya ada pada surat tersebut.
- “Al-Rahman” tanda (●): kesamaan penuh di awal ayat, dirujuk ke QS. Thaha: 5, dan QS. Ar-Rahman: 1-2. Di bawahnya tertulis catatan rafa’ dua kali, satu untuk tiap rujukan. Artinya, di dua tempat itu lafaznya berharakat dhammah, sedangkan di Al-Fatihah berharakat kasrah. Bunyinya mirip sehingga mudah tertukar saat menghafal.
- “Shirath” tanda (●): kesamaan penuh di awal ayat, dirujuk ke QS. Asy-Syura: 53 dengan catatan kasrah. Artinya, di sana lafaznya berharakat kasrah, sedangkan di Al-Fatihah berharakat fathah.
- “Al-Dhlallin” tanda (❖): kemiripan sebagian di akhir ayat (penutup ayat atau fashilah), dirujuk ke QS. Al-Baqarah: 198, QS. Al-An’am: 77, QS. Asy-Syu’ara’: 20 & 86, dan QS. Al-Waqi’ah: 92. Yang dipetakan adalah penutup ayat, dan letak ayat-ayat rujukan itu berada di tengah surah masing-masing.
Dari kelima blok ini terlihat bahwa kepadatan mutasyabihat tidak merata. Blok Alhamdulillah paling padat, sedangkan blok shirath hanya punya satu rujukan. Catatan kecil seperti bir-raf’ dan bil-khafdh juga menunjukkan bahwa kitab ini merekam perbedaan sekecil harakat, yang paling sering luput dari penghafal.
Signifikansi bagi Penghafal Al-Qur’an dan Penggeluti Ilmu Qira’at
Bagi kalangan ini, karya tersebut membuka empat ruang kontribusi. Pertama, sebagai instrumen muraja’ah terstruktur yang mengubah kewaspadaan intuitif menjadi rujukan verifikatif, yang dibutuhkan siapa pun yang sedang menjaga hafalannya, tanpa harus berlatar akademik tertentu. Kedua, sebagai bahan kajian metodologis tentang bagaimana taksonomi mutasyabihat dibangun secara visual, yang relevan bagi penggeluti ulumul Qur’an, baik di ranah akademik maupun pesantren/halaqah. Ketiga, sebagai sarana literasi rasm, karena seluruh rujukan ditulis dengan mushaf, melatih kepekaan mengenali ejaan mushaf standar. Keempat, sebagai modal awal memasuki kajian qira’at, bukan karena mutasyabihat lafzhi identik dengan qira’at (keduanya harus dibedakan: satu soal kemiripan redaksi, satu lagi soal ragam bacaan bersanad), melainkan karena kebiasaan bertanya mengapa di sini lafaznya begini, sementara di tempat lain berbeda adalah fondasi ketelitian yang juga dibutuhkan dalam studi riwayat, ṭuruq, dan sanad bacaan.
Penutup: Bukan Pengganti Guru, Melainkan Jembatan
Penting difahami bahwa mushaf ini tidak sepatutnya menggantikan talaqqi secara langsung bersama guru tahfiz maupun guru qira’at. Ia adalah alat bantu atau jembatan dari pengalaman menghafal menuju kesadaran ilmiah terhadap teks Al-Qur’an. Kekuatannya bukan pada banyaknya catatan yang memenuhi margin halaman, melainkan pada bagaimana catatan itu mengubah kewaspadaan penghafal dari sekadar merasa mirip menjadi tahu di mana, dan tahu bedanya. Di situlah, baik bagi penghafal Al-Qur’an maupun penggelut ilmu qira’at, mutasyabihat lafzhi menemukan signifikansinya sebagai pintu masuk menuju ketelitian yang lebih dalam terhadap teks suci ini.
Referensi:
Muhammad Abu al-Nashr, Yumna. Al-Qur’an al-Karim bi Riwayah Hafsh ‘an ‘Ashim di al-Rams al-‘Ustmani, wa bi Hasyimih Kitab al-Zahrawan fi Mutasyabihat al-Qur’an, Kairo: Maktabah al-Taqwa, 2023.









