Beberapa waktu setelah pengumuman beasiswa, seleksi kerja, atau penerimaan pegawai diumumkan, media sosial biasanya menghadirkan dua suasana yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, ada mereka yang membagikan kabar bahagia dengan ungkapan, “Alhamdulillah, akhirnya Allah mengabulkan doa ini.” Di sisi lain, ada mereka yang masih berusaha menerima kenyataan bahwa kesempatan itu belum menjadi miliknya.
Realitasnya, orang-orang yang berhasil sering kali tidak berhenti pada ungkapan syukur. Mereka juga menuliskan kalimat-kalimat penyemangat, seperti, “Tetap semangat, rezeki setiap orang berbeda,” atau, “Jangan menyerah, mungkin Allah sedang menyiapkan yang lebih baik.” Bahkan, tidak sedikit yang langsung membagikan pengalaman, strategi, dan tips yang menurut mereka menjadi kunci keberhasilannya tanpa diminta. Bagi mereka, hal itu merupakan cara berbagi manfaat dan berharap orang lain dapat nantinya akan meraih keberhasilan yang sama. Namun, bagi sebagian orang -terutama mereka yang baru saja mengalami kegagalan- ungkapan tersebut justru dapat terasa menyesakkan, seolah-olah luka yang masih segar diminta segera sembuh.
Fenomena ini kerap melahirkan penilaian yang terburu-buru. Orang yang berhasil dianggap tidak peka, sedang flexing berkedok motivasi, atau terlalu banyak berbagi (oversharing) tanpa menyadari kondisi psikologis lawan bicaranya. Benarkah demikian? Apakah setiap orang yang menceritakan nikmat yang diterimanya sedang mencari pengakuan? Atau sebenarnya terdapat dorongan psikologis yang membuat seseorang secara alami ingin membagikan pengalaman bahagianya kepada orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi menarik untuk dibaca melalui firman Allah Swt.:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.” (QS. ad-Dhuha [93]:11).
Dalam al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur’ān, al-Qurthubī menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk menyebarkan nikmat Allah melalui syukur dan pujian kepada-Nya. Beliau menulis, “Sebarkanlah nikmat yang Allah berikan kepadamu dengan syukur dan pujian. Menceritakan nikmat Allah dan mengakuinya merupakan bentuk syukur” (al-Qurthubī, 1964, juz 20, hlm. 97). Dengan demikian, at-taḥadduth bi al-ni‘mah bukan dipahami sebagai tindakan membanggakan diri, melainkan sebagai ekspresi pengakuan bahwa segala kebaikan bersumber dari Allah.
Al-Qurthubī tidak berhenti pada penjelasan normatif ayat. Ia mengutip sejumlah riwayat yang memperlihatkan bagaimana generasi awal Islam mempraktikkan ajaran tersebut. Salah satunya berasal dari al-Ḥasan bin ‘Alī yang berkata, “Apabila engkau memperoleh suatu kebaikan atau melakukan suatu amal baik, maka ceritakanlah kepada saudaramu yang engkau percaya.” Riwayat ini menunjukkan bahwa menceritakan nikmat bukanlah sesuatu yang tercela. Sebaliknya, ia merupakan bagian dari budaya syukur yang hidup di tengah masyarakat muslim.
Yang menarik, riwayat tersebut juga memberikan nuansa penting. Nikmat diceritakan kepada orang yang dipercaya (al-thiqah min ikhwanik). Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa syukur tidak hanya berbicara tentang isi yang disampaikan, tetapi juga mempertimbangkan relasi dan konteks sosial. Dengan kata lain, Islam tidak sekadar mengajarkan apa yang disampaikan, tetapi juga mengajarkan kebijaksanaan bagaimana dan kepada siapa nikmat itu diceritakan.
Dalam bagian lain, al-Qurthubī mengutip hadis Nabi saw., “Menceritakan nikmat merupakan bentuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan bentuk kufur.” Meskipun kualitas sanad hadis ini diperdebatkan oleh para ulama, al-Qurthubī menggunakannya untuk menegaskan bahwa mengakui nikmat Allah merupakan perilaku yang dianjurkan selama tetap berorientasi pada rasa syukur, bukan kesombongan.
Perspektif ini menjadi semakin menarik ketika didialogkan dengan psikologi positif. Dalam literatur psikologi, terdapat konsep capitalization, yaitu kecenderungan seseorang untuk membagikan pengalaman positif kepada orang lain (Langston, 1994). Penelitian Shelly L. Gable dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa ketika seseorang menceritakan pengalaman menyenangkan kepada orang lain dan memperoleh respons yang positif, kebahagiaan, rasa syukur, serta kepuasan hidupnya cenderung meningkat (Gable et al., 2004). Dengan kata lain, manusia memang memiliki dorongan psikologis untuk membagikan kabar baik yang baru diterimanya.
Temuan tersebut membantu menjelaskan fenomena yang sering kita jumpai setelah pengumuman beasiswa atau seleksi kerja. Banyak orang yang baru saja berhasil tidak hanya ingin mengatakan, “Saya lulus.” Mereka juga terdorong menceritakan perjuangannya, membagikan strategi belajar, bahkan segera memberikan tips kepada teman-temannya. Dalam banyak kasus, tindakan tersebut tidak lahir dari keinginan untuk dipuji, melainkan dari dorongan alami untuk berbagi pengalaman positif sekaligus berharap orang lain dapat memperoleh keberhasilan yang sama di kemudian hari.
Namun demikian, psikologi juga menunjukkan bahwa manfaat capitalization sangat dipengaruhi oleh respons lawan bicara. Gable dkk. (2004) menjelaskan bahwa pengalaman positif akan memberikan manfaat terbesar ketika diterima dengan active constructive responding, yakni respons yang antusias, suportif, dan ikut bergembira. Sebaliknya, apabila pendengar sedang mengalami kehilangan, kegagalan, atau tekanan emosional, respons seperti itu tidak selalu mudah muncul. Dalam kondisi tersebut, cerita tentang keberhasilan orang lain justru dapat terasa menyakitkan, meskipun penyampainya sama sekali tidak berniat melukai.
Di sinilah dialog antara tafsir al-Qurthubī dan psikologi positif menemukan titik temunya. Tafsir menjelaskan mengapa seseorang menceritakan nikmat Adalah sebagai bentuk syukur kepada Allah. Psikologi menjelaskan mengapa dorongan itu muncul secara alami karena berbagi pengalaman positif merupakan mekanisme yang dapat memperkuat emosi positif dan relasi sosial. Keduanya tidak saling bertentangan, tetapi menjelaskan fenomena yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
Refleksi ini sekaligus mengingatkan kita agar tidak tergesa-gesa menilai orang yang baru memperoleh keberhasilan. Tidak setiap cerita tentang nikmat merupakan bentuk kesombongan. Tidak setiap tips yang diberikan setelah keberhasilan merupakan tindakan menggurui. Bisa jadi, semua itu lahir dari rasa syukur dan keinginan tulus untuk berbagi manfaat. Sebaliknya, mereka yang belum berhasil juga tidak dapat disalahkan ketika merasa sesak mendengar cerita tersebut. Kesedihan membuat seseorang membutuhkan empati sebelum menerima motivasi.
Karena itu, syukur dan empati tidak semestinya dipertentangkan. Orang yang memperoleh nikmat tetap dianjurkan untuk mengakuinya sebagai bentuk syukur kepada Allah, sebagaimana dijelaskan al-Qurthubī. Namun, syukur juga akan tampak lebih indah ketika disampaikan dengan kepekaan terhadap kondisi psikologis orang lain. Sementara itu, mereka yang sedang berduka pun tidak perlu tergesa-gesa menilai setiap ungkapan syukur sebagai bentuk flexing. Barangkali, di balik cerita tentang keberhasilan itu terdapat hati yang sedang menjalankan perintah Al-Qur’an: “Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah.”
Daftar Pustaka
Al-Qurṭubī. (1964). Al-Jāmi’ li Aḥkām al-Qur’ān. Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah.
Gable, S. L., Reis, H. T., Impett, E. A., & Asher, E. R. (2004). What Do You Do When Things Go Right? The Intrapersonal and Interpersonal Benefits of Sharing Positive Events. Journal of Personality and Social Psychology, 87(2), 228–245.
Langston, C. A. (1994). Capitalizing on and Coping with Daily-Life Events: Expressive Responses to Positive Events. Journal of Personality and Social Psychology, 67(6), 1112–1125.









