Setiap kali membuka mushaf dan sampai pada kisah penciptaan Adam, ada satu adegan yang jarang benar-benar direnungkan, para malaikat sempat mempertanyakan keputusan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah, sebab mereka menduga manusia akan “membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah” (QS. Al-Baqarah: 30). Pertanyaan itu bukan basa-basi. Ia adalah kecemasan kosmis yang, ribuan tahun kemudian, terbukti punya dasar.
Laporan Living Planet Report 2024 yang dirilis WWF menjadi semacam jawaban modern atas kecemasan para malaikat itu: populasi satwa liar di seluruh dunia menurun hingga 73 persen dalam kurun 1970-2020, dengan ekosistem air tawar mengalami penurunan paling parah hingga 85 persen (Mongabay, 2024). Bumi, menurut laporan itu, kini mendekati titik kritis yang sulit dipulihkan.
Angka ini bukan sekadar catatan ekologis. Ia adalah potret nyata dari relasi timpang antara manusia dan alam yang, sejatinya, sudah lama diperingatkan Al-Quran. Sayangnya, kesadaran ini kerap terkubur oleh pemahaman keagamaan yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas bumi, bukan pemegang amanah yang bertanggung jawab kepadanya.
Untuk membaca ulang relasi ini, tulisan ini mengajak menelusuri tiga konsep fundamental dalam Al-Quran, tauhid, khalifah, dan mizan, yang bersama-sama membentuk fondasi ekoteologi Qur’ani.
Tauhid: Semua Makhluk adalah Umat
Titik tolak ekoteologi selalu berangkat dari tauhid, keyakinan bahwa segala sesuatu berasal dari dan tunduk pada satu Pencipta yang sama. Kesadaran ini menuntun manusia untuk tidak memandang dirinya sebagai pusat tunggal ciptaan.
Al-Quran menegaskan hal ini secara eksplisit dalam surah Al-An’am ayat 38:
وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طَآئِرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
“Dan tidak ada seekor binatang melata pun di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan (mereka adalah) umat-umat seperti kamu. Tidak sesuatu pun yang Kami luputkan dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka, mereka akan dikumpulkan.”
Ayat ini menyebut binatang melata dan burung sebagai “umat”, setara secara kedudukan dengan manusia dalam tatanan ciptaan Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang tercipta sia-sia; masing-masing memiliki fungsi, sistem, dan tujuannya sendiri dalam keseluruhan tatanan alam.
Bahkan disebutkan bahwa kelak di hari kiamat, seluruh makhluk akan dikumpulkan dan diadili, termasuk hewan yang saling menzalimi satu sama lain di dunia. Kesadaran tauhid semacam ini seharusnya menumbuhkan sikap rendah hati: manusia bukan satu-satunya makhluk yang berhak atas bumi, melainkan salah satu dari sekian banyak “umat” yang hidup berdampingan di dalamnya.
Khalifah: Amanah yang Ditolak Langit dan Bumi
Jika tauhid membentuk kesadaran, khalifah menegaskan tanggung jawab yang mengikutinya. Al-Quran menggambarkan betapa beratnya amanah ini dalam surah Al-Ahzab ayat 72:
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.”
Langit, bumi, dan gunung, meski berukuran raksasa, menolak amanah ini karena menyadari betapa berat konsekuensinya. Manusialah, makhluk yang jauh lebih kecil dan lemah, yang justru menyanggupinya, sebuah keistimewaan sekaligus kerawanan besar (Republika, 2023).
Kata “khalifah” sesungguhnya tidak pernah dimaksudkan sebagai legitimasi untuk menguasai dan mengeksploitasi bumi sesuka hati. Ia adalah mandat kepercayaan yang bisa berujung pahala jika ditunaikan dengan baik, atau berujung kerusakan seperti yang tergambar dalam data penyusutan populasi satwa liar dunia, jika amanah itu dikhianati.
Mizan: Neraca yang Tidak Boleh Dicurangi
Pilar ketiga, mizan, hadir sebagai penyeimbang antara kesadaran tauhid dan tanggung jawab khalifah. Al-Quran menyebutnya dalam surah Ar-Rahman ayat 7-9:
وَالسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ
“Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keseimbangan), agar kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.”
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa kata mizan dalam ayat ini tidak hanya bermakna timbangan fisik, tetapi juga hukum keseimbangan yang Allah tetapkan di alam semesta, mencakup keadilan sosial, keadilan ekologis, dan keadilan spiritual sekaligus. Perintah menegakkan neraca dengan adil, menurutnya, berarti manusia dilarang merusak alam karena alam telah diciptakan dengan mizan yang sempurna.
Penurunan drastis populasi satwa liar, kerusakan ekosistem air tawar, hingga hilangnya habitat yang dicatat berbagai laporan lingkungan hari ini, pada dasarnya adalah bentuk pelanggaran terhadap mizan itu sendiri, ketika manusia “melampaui batas” dan “mengurangi neraca” yang telah Allah tetapkan.
Merajut Tiga Pilar
Tauhid, khalifah, dan mizan bukan tiga konsep yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan satu rangkaian logis. Tauhid mengajarkan bahwa seluruh makhluk adalah umat yang setara dalam ciptaan Allah, khalifah menegaskan bahwa manusia memikul amanah yang ditolak langit dan bumi karena beratnya, dan mizan menjadi ukuran apakah amanah itu ditunaikan dengan adil atau justru dikhianati.
Krisis ekologis yang tergambar dari data-data global hari ini, pada akhirnya, bukan sekadar kegagalan teknis pengelolaan sumber daya. Ia adalah cermin dari bagaimana manusia memahami, atau salah memahami, ketiga pilar ini dalam kehidupannya sehari-hari.
Daftar Pustaka
Al-Ahzab: 72; Al-An’am: 38; Ar-Rahman: 7-9. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Kementerian Agama RI.
Hamka. (1982). Tafsir Al-Azhar. Cetakan I. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mongabay Indonesia. (2024, 30 Desember). Mewaspadai Ancaman Kepunahan Satwa Liar Lima Dekade Terakhir.
Republika Online. (2023, 17 Juli). Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 72: Amanat Berat yang Ditolak Langit dan Diterima Manusia.
WWF. (2024). Living Planet Report 2024. Gland, Swiss: World Wide Fund for Nature.









