Beranda / Metodologi Tafsir / Rahasia di Balik Susunan Asmaul Husna sebagai Penutup Ayat

Rahasia di Balik Susunan Asmaul Husna sebagai Penutup Ayat

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang memiliki ketelitian dan keindahan bahasa tingkat tinggi. Pada setiap kata, susunan kalimat hingga urutan penyebutan suatu kata dalam setiap ayat memiliki makna dan tujuan tertentu. Oleh karena itu, penempatan lafaz yang sekilas terlihat sederhana sebenarnya memiliki makna yang mendalam. Bentuk keindahan dan ketelitian tersebut salah satunya dapat dilihat pada variasi penyebutan nama-nama dan sifat-sifat Allah pada akhir ayat al-Quran.

Terdapat beberapa ayat yang sama-sama diakhiri dua al-Asmāʾ al-Ḥusnā serupa namun berbeda dalam susunannya. Misalnya terdapat 2 ayat yang diakhiri dengan Alīmun dan Ḥakīmun, pada ayat pertama sifat Alīmun lebih dahulu disebut, sedangkan pada ayat lainnya sifat Ḥakīmun yang lebih dahulu disebut. Apakah perubahan susunan ini hanya variasi gaya bahasa atau terdapat hubungan antara susunan kedua sifat itu dengan konteks ayatnya?

Sebelum mengulik lebih dalam, penulis mengutip pendapat Khālid ʿUṡmān al-Sabt dalam kitabnya yang berjudul Qawaʿid al-Tafsir Jamʿan wa Dirasatan. Ia mengatakan bahwa al-Asmāʾ al-Ḥusnā yang menjadi penutup ayat al-Quran bertujuan untuk menunjukkan bahwa kandungan ayatnya berkorelasi dengan al-Asmāʾ al-Ḥusnā tersebut. (Al-Sabt, 2005, jil. 2, p. 742). Dalam ‘Ulum al-Qurān, korelasi antar bagian al-Quran biasa disebut dengan ilmu Munāsabah.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Mannā‘ al-Qaṭṭān (w. 1420 H), munāsabah dalam al-Quran adalah bentuk hubungan antara kalimat dengan kalimat dalam suatu ayat atau antara suatu ayat dengan ayat lainnya ataupun antara suatu surat dengan surat lainnya (Mannā‘ al-Qaṭṭān, 1995, p. 92). Adapun kajian dalam pembahasan ini dapat ditinjau melalui ilmu Munāsabah sebab dengan ilmu tersebut kita dapat mengetahui alasan di balik susunan bagian-bagian al-Quran (Al-Biqā‘ī, jil. 1, p.5).

Pada ayat yang penutupnya didahului dengan sifat ‘Alīmun kemudian disusul dengan sifat Ḥakīmun menunjukkan bahwa pesan utama dalam kandungan ayatnya ialah seputar ilmu Allah dan hal-hal yang mengharuskan adanya ilmu Allah. Sebagai contohnya, terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 32:

قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

“Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  (Q.S. al-Baqarah: 32)

Ayat ini merupakan ucapan malaikat kepada Allah, ucapan tersebut sebagai pengakuan malaikat atas ketidakmilikan mereka terhadap ilmu serta sebagai penyucian diri mereka terhadap perkataan sebelumnya yang seolah-oleh mengatakan adanya ilmu bagi selain Allah (Al-Biqā‘ī, jil. 1, p. 90-91), yang mana ucapan tersebut terdapat pada ayat 30:

قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

“Mereka (para malaikat) berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Perkataan malaikat pada ayat 30 memberikan kesan adanya rasa ragu dalam diri malaikat terhadap kehendak Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi sehingga Allah menutup ayat 30 dengan firman-Nya:

قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dengan didahulukannya sifat ‘Alīmun baru disusul sifat Ḥakīmun pada ayat 32, menunjukkan bahwa pesan utama ayat ini ialah seputar kebesaran dan keluasan ilmu Allah sebab dalam ayat ini malaikat mengungkapkan pengakuan akan ketidakmampuan mereka dalam melampaui ilmu Allah (Al-Baghawī: 1988: 80).

Sedangkan makna dari sifat Ḥakīmun pada akhir ayatnya berkaitan dengan hikmah dari keputusan Allah dalam menciptakan Nabi Adam a.s sebagai khalifah di bumi yang sempat diragukan oleh malaikat. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbās bahwa yang dimaksud al-Ḥakīm oleh para malaikat dalam ayat ini adalah Allah yang menetapkan serta menjadikan Adam a.s. sebagai khalifah di bumi (Al-Rāzi: 1981: 228)

Sebaliknya, apabila ditemukan ayat yang akhirannya didahului dengan sifat Ḥakīmun baru kemudian disusul sifat ‘Alīmun menunjukkan bahwa pesan utama dalam kandungan ayatnya ialah terdapat hikmah dari ketetapan Allah yang terkandung dalam ayatnya, seperti yang terdapat dalam surat al-An’ām ayat 139:

وَقَالُوْا مَا فِيْ بُطُوْنِ هٰذِهِ الْاَنْعَامِ خَالِصَةٌ لِّذُكُوْرِنَا وَمُحَرَّمٌ عَلٰٓى اَزْوَاجِنَاۚ وَاِنْ يَّكُنْ مَّيْتَةً فَهُمْ فِيْهِ شُرَكَاۤءُ ۗسَيَجْزِيْهِمْ وَصْفَهُمْۗ اِنَّهٗ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ 

“Mereka juga berkata, “Apa yang ada di dalam perut hewan ternak ini khusus untuk kaum laki-laki kami dan haram bagi istri-istri kami.” Jika (yang ada di dalam perut itu dilahirkan dalam keadaan) mati, semua boleh (memakannya). Kelak Allah akan membalas ketetapan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-An’ām: 139)

Dalam ayat ini, Allah menyinggung salah satu ajaran orang-orang musyrik yang rusak seputar ketentuan siapa saja yang dapat menikmati hewan bahīrah dan sā’ibah (Ibn ʿĀsyūr: 1984: 110). Dalam ajaran mereka, terdapat ketentuan apabila janin hewan tersebut dalam keadaan hidup maka hanya lelaki yang boleh menikmati daging hewan tersebut dan perempuan dilarang, namun sebaliknya apabila janin tersebut mati maka siapa saja boleh menikmati termasuk perempuan (Al-Rāzi: 1981: 219).

Sebab perilaku merekalah Allah memberikan ancaman berupa penetapan balasan kepada orang-orang musyrik, yang mana balasan tersebut diberikan berdasarkan kadar yang pantas mereka terima atas perbuatan buruk mereka selama di dunia (Al-Rāzi: 1981: 219). Sehingga penutup ayat ini didahului dengan sifat Ḥakīmun baru kemudian disusul sifat ‘Alīmun.

Dengan didahulukannya sifat Ḥakīmun kemudian disusul sifat ‘Alīmun menunjukkan bahwa pesan utama ayat ini ialah adanya hikmah di balik ancaman Allah dalam menetapkan balasan bagi orang musyrik. Hikmah tersebut bukan hanya karena balasan yang diberikan sesuai dengan kadar perbuatan buruknya saja tetapi juga menghilangkan kebiasaan buruk mereka. Ancaman ini diberikan karena Allah mengetahui kebiasaan buruk orang musyrik sehingga tepat jika ayat ini ditutup dengan sifat ‘Alīmun.

Dari pembahasan ini semua, dapat disimpulkan apabila terdapat ayat yang penutupnya didahului dengan sifat ‘Alīmun maka pesan utama dalam ayatnya  ialah seputar keilmuan Allah dan hal-hal yang mengharuskan adanya ilmu Allah. Sedangkan ayat yang penutupnya didahului dengan sifat Ḥakīmun maka pesan utama dalam ayatnya ialah terdapat hikmah dari setiap keputusan-Nya. Seluruh penetapan balasan merupakan bagian dari hikmah sedangkan yang patut dijuluki al-Ḥakīm hanyalah Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Sabt, Khālid ʿUṡmān. Qawaʿid al-Tafsir Jamʿan wa Dirasatan. Kairo: Dār ibn al-ʿUṡmān, 2005.

Al-Qaṭṭān, Mannāʿ Khalīl. Mabāḥits fī ʿUlūm al-Qurʾān. Kairo: Maktabah Wahbah.

Al-Biqāʿī, Burhān al-Dīn Ibrāhīm ibn ‘Umar. Naẓmu al-Durari fī Tanāsubi al-Āyāti wa al-Suwari. Kairo: Dār al-Kitāb al-Islāmī.

Al-Baghawī, Abū Muḥammad al-Ḥusayn ibn Mas’ūd. Ma’ālim al-Tanzīl. Riyadh: Dār al-Thaybah, 1988.

Al-Rāzi, Fakhruddin. Mafātīḥ al- Gayb. Beirut: Dār al-Fikr, 1981

Ibn ʿĀsyūr, Muḥammad al-Ṭāhir. Al-Taḥrīr wa al-Tanwīr. Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah li al-Nashr, 1984

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *