Beranda / Al-Qur'an & Lingkungan Hidup / Membaca Kembali Fungsi Alam dalam Al-Qur’an

Membaca Kembali Fungsi Alam dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, ayat Kauniyyah (Semesta Alam) sering sekali disebut berulang kali, seperti pergantian siang-malam, gunung, laut, langit, bumi, matahari, bintang, bulan, tumbuh-tumbuhan dan berbagai macam fenomena alam lainnya yang sering disebutkan dalam kisah-kisah Al-Qur’an. Pernahkah kita bertanya, Apakah Alam dalam Al-Qur’an hanya sebagai latar cerita? Jika memang alam hanya sebagai dekorasi untuk melengkapi narasi, mengapa Al-Qur’an sering sekali mengulang penyebutannya?

Pertanyaan ini penting karena Al-Qur’an tampaknya memberikan perhatian yang sangat besar terhadap alam untuk manusia amati. Terlebih di zaman sekarang banyak sekali orang berlomba-lomba untuk menikmati alam, namun tahukah mereka apa yang sedang mereka nimati itu? Allah Berfirman:

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang menjadi tanda (atas kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan waktu berbaring dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi….” (QS. Ali-Imran ayat 190-191)

Dalam buku Tafsir karya Prof. Dr. H. Mahmud Yunus halaman 101 menjelaskan, bahwa ayat ini menjadi bukti atas kekuasaan Allah bagi orang yang berakal. Semua yang terjadi di alam semesta ini dijadikan Allah, bukan dengan percuma, melainkan mengandung rahasia-rahasia sebagai bukti bahwa yang menjadikan dan mengatur Alam semesta ini, ialah Allah yang Maha Kuasa. Dan menurut Ibn Asyur, ayat ini juga menunjukkan bahwa alam semesta merupakan objek refleksi yang menghubungkan manusia kepada hikmah dan kekuasaan Allah.           

Dengan demikian, alam bukan sekedar ruang untuk tempat manusia hidup, melainkan bagian dari tanda yang mengenalkan manusia atas kekuasaan Allah dengan tafakkur pada alam semesta. Dengan alam, Allah seolah-olah berkomunikasi dengan manusia bahwa apa yang ada di bumi dan langit ini sebuah kenikmatan untuk manusia amati dan renungi.

Traveling dalam perspektif Al-Qur’an

Alam merupakan tanda-tanda adanya kekuasaan Allah, lantas bagaimana cara manusia membacanya? Menariknya, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan manusia untuk memperhatikan alam dari tempat berdirinya, tetapi juga mengajak manusia berjalan di muka bumi. Perintah ini berulang dalam beberapa surah dan ayat dengan kalimat “Berjalanlah di bumi” seperti dalam firman Allah:

“Katakanlah, berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan (semua makhluk). Kemudian, Allah membuat kejadian yang akhir. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ankabut, ayat 20)

Setelah perintah berjalan di bumi, Al-Qur’an lebih banyak menyusulnya dengan kata kerja, maka perhatikanlah, pahamilah, atau berpikirlah. Hal ini, menunjukkan bahwa perjalanan dalam Al-Qur’an bukan sekedar perpindahan tempat, melainkan proses memperoleh pengetahuan melalui pengamatan dan refleksi.

Dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan ayat tersebut sebagai perintah tentang menjelajahi bumi untuk mengamati proses penciptaan awal alam semesta dan merenungkan kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia kembali di hari akhir. Perjalanan ini ditekankan sebagai sarana mengambil pelajaran dan bukti nyata atas ketentuan hari akhir.

Ayat tersebut juga menjadikan alam sebagai guru bagi siapapun yang mengamatinya. Banyak nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an melalui Alam. Seperti di surah An-Nahl yang membahas tentang keteraturan Allah kepada Lebah. Surah Al-Hasyr ayat 21, bahwa gunung menjadi simbol keteguhan sekaligus kerendahan di hadapan Allah. Surah An-Nur ayat 41, burung yang mengajarkan tasbih kepada Allah. Surah Ar-Rum ayat 24, tentang hujan menjadi gambaran rahmat sekaligus kebangkitan setelah kematian. Dan dalam pribahasa Minang yang juga mengatakan hal yang sama yaitu “Alam takambang jadi guru” yang artinya Alam terkembang jadikan guru.

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menjadikan Alam sebagai media pembelajaran dan perenungan. Al-Qur’an seolah menjadi kelas terbuka untuk mempelajari alam semesta. Melalui perjalanan, manusia diajak untuk membaca dua kitab sekaligus, yaitu kitab tertulis (Al-Qur’an) dan kitab yang terbentang (Alam Semesta).

Jika Al-Qur’an berkali-kali meemerintahkan manusia berjalan untuk mengamati alam, maka sulit mengatakan bahwa alam hanya berfungsi sebagai latar atau tempat. Karena, Alam merupakan ruang belajar yang mengaktifkan akal dan membangkitkan kesadaran untuk mengantarkan manusia mengenal Allah. Sekarang kembali ke diri kita sendiri, apakah mau mengambil pelajaran?

Alam menjadi bagian hidayah

Dari berbagai ayat yang disampaikan di atas, tampak bahwa alam memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekedar latar. Fungsi alam banyak sekali, alam menjadi media tadabbur, alam menjadi tanda kekuasaan Allah, alam menjadi sarana pengetahuan, dan alam menjadi pengingat akan hari kebangkitan. Karena itu, penyebutan alam yang berulang kali dalam Al-Qur’an bukan hanya dipahami sebagai unsur keindahan saja, melainkan bagian dati tujuan Al-Qur’an sebagai petunjuk (Huda). Dalam perspektif ini, membaca alam sama pentingnya dengan membaca teks wahyu, sebab keduanya sama-sama disebut sebagai tanda.

Penutup

Mungkin selama ini kita membaca alam hanya sebagai tempat untuk dihuni dan dimanfaatkan hasilnya, padahal lebih dari itu Al-Qur’an menghadirkannya sebagai bagian dari pesan perenungan agar manusia berpikir dan bertakwa. Karena gunung tidak sekedar berdiri dalam cerita, hujan tidak sekedar turun membasahi bumi, dan siang-malam bukan hanya pergantian terang menjadi petang. Semuanya berbicara dalam bahasa dan tujuan yang berbeda.

Barangkali inilah yang dimaksud Al-Qur’an ketika menyebut alam sebagaitanda, bukan sekedar sesuatu yang dilihat, tetapi sesuatu untuk dibaca. Dan di tengah maraknya budaya healing, hiking dan travelling yang digemari anak muda sekarang, Al-Qur’an mengajari cara pandang yang lebih mendalam terhadap perjalanan. Maka jelajahilah gunung, pantai, hutan, dan langit yang terbentang luas. Namun, jangan biarkan perjalananmu berhenti pada kekaguman terhadap keindahan semata. Amatilah dan renungkanlah bagaimana gunung berdiri begitu kokoh, ombak terus bergerak tanpa henti, dan bagaimana kehidupan terus berlangsung dengan keteraturan yang mengagumkan.

Namun, dengan begitu alam bukan sekedar untuk dinikmati keindahannya, bukan pula tempat untuk mencari ketenangan setelah lelah dari kehidupan, tetapi juga berhak untuk dirawat dan dijaga agar simbiosis kehidupannya tetap terjaga. Jangan sampai pergi ke alam untuk menemukan pembelajaran, tetapi pulang meninggalkan kerusakan di dalamnya.

Pada akhirnya, alam tidak hanya memperlihatkan betapa indahnya ciptaaan, tapi juga mengingatkan betapa agungnya Sang Pencipta. Semakin luas bumi yang dijelajahi, seharusnya semakin tumbuh pula kerendahan hati manusia terhadap Allah. Dengan demikian, pertanyaan “Apakah alam hanya latar dalam Al-Qur’an?” membawa kita pada kesimpulan bahwa alam dalam Al-Qur’an memiliki fungsi banyak sekali seperti, pembelajaran, keimanan dan spiritual. Alam bukan sekedar tempat , melainkan salah satu media Allah untuk mendidik manusia agar lebih mengenal diri, alam semesta dan Penciptanya.

Referensi

Prof. Dr. H. Mahmud Yunus Tafsir Qur’an Karim. Dicetak oleh: P.N. Klang, Selangor, Malaysia: Klang book centre, 1998.

Tafsir Al-Tahrir wa Al-Tanwir karya Muhammad Al-Tahir Ibn Asyur.

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah. (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *