Beranda / Psikologi & Kesehatan Mental / Membangun Ketenangan Jiwa di Tengah Kegelisahan Modern: Tafsir Kontekstual QS. al-Ra‘d [13]: 28

Membangun Ketenangan Jiwa di Tengah Kegelisahan Modern: Tafsir Kontekstual QS. al-Ra‘d [13]: 28

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah mengalami masa ketika hati terasa tidak tenang. Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, seperti masalah keluarga, tugas yang menumpuk, perasaan kecewa, kehilangan seseorang, atau kekhawatiran tentang masa depan. Terkadang, seseorang tetap menjalani aktivitas seperti biasa dan terlihat baik-baik saja di depan orang lain, padahal pikirannya sedang penuh dan hatinya sedang merasa lelah.

Dalam keadaan seperti itu, manusia sering mencari berbagai cara untuk mendapatkan ketenangan. Ada yang memilih bercerita kepada orang yang dipercaya, menyendiri, melakukan kegiatan yang disukai, atau mencoba mengalihkan pikiran dari masalah. Semua itu bisa membantu, tetapi Al-Qur’an memberikan satu jalan yang lebih mendalam, yaitu dengan berdzikir atau mengingat Allah SWT.
Allah SWT berfirman:


الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ۝

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram (QS Ar-Ra’du : 28)

Ayat ini menjelaskan bahwa iman memiliki hubungan erat dengan ketenangan hati. Orang yang beriman akan senantiasa berdzikir atau mengingat Allah, dan melalui dzikir tersebut hati menjadi lebih tenteram. Ketika Allah menjadi tempat untuk mengadu dan bersandar, kegelisahan dan kesedihan dapat terasa lebih ringan.
Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, iman mendorong seseorang untuk berdzikir, sedangkan dzikir dapat menenangkan hati dari rasa takut, cemas, ragu, dan putus asa(Hamka ,2015). Hamka juga menjelaskan bahwa ketenangan jiwa merupakan sebuah proses. Manusia dapat mengalami an-nafs al-ammarah bi as-su’, yaitu jiwa yang cenderung kepada keburukan, kemudian an-nafs al-lawwamah, yaitu jiwa yang menyesali kesalahan, hingga akhirnya mencapai an-nafs al-muthmainnah, yaitu jiwa yang tenang dan dekat dengan Allah (Hamka ,2015).

Sejalan dengan penjelasan tersebut, ath-Thabari dalam Tafsir At-Thabari menerangkan bahwa hati orang-orang beriman akan menjadi tenang dan tenteram ketika mengingat Allah.(At-Thabari, 2000) Berdasarkan riwayat Qatadah, mengingat Allah dapat membuat hati menjadi lebih nyaman dan tenang. Ath-Thabari juga menyebutkan riwayat dari Mujahid yang mengaitkan ketenteraman tersebut dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Hal ini menunjukkan bahwa dzikir bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menenangkan hati dan menguatkan diri (At-Thabari, 2000).

Selain itu, Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid-nya juga menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW akan memperoleh ketenangan hati dengan mengingat Allah dan firman-Nya. Menurutnya, pemahaman terhadap kemukjizatan Al-Qur’an juga dapat semakin menguatkan keyakinan seorang muslim terhadap kebenaran Nabi Muhammad SAW dan ajaran yang dibawanya. Keyakinan tersebut pada akhirnya dapat memberikan ketenangan dan ketenteraman dalam hati (Nawawi al-Bantani, 2001).

Hal ini juga dapat dilihat dari penggunaan kata tathma’innu dalam ayat tersebut yang berbentuk fi’il mudhari’. Bentuk ini menunjukkan bahwa ketenangan hati bukan hanya dirasakan pada waktu tertentu, tetapi dapat berlangsung secara terus-menerus dan menetap. Dengan demikian, orang-orang beriman yang senantiasa mengingat Allah akan merasakan ketenteraman hati, baik ketika sedang sendirian maupun saat berada di tengah orang lain.

Dengan demikian, QS. Ar-Ra’d ayat 28 mengajarkan bahwa ketenangan hati bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan dapat tumbuh ketika seseorang memiliki iman, senantiasa mengingat Allah, dan menjadikan-Nya sebagai tempat untuk bersandar dalam menghadapi berbagai keadaan.

Hati yang Tenang di Tengah Kehidupan yang Gelisah

Dari penjelasan para mufasir di atas, dapat dipahami bahwa mengingat Allah memiliki hubungan yang erat dengan ketenangan hati. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tentu pernah berada dalam keadaan gelisah, cemas, sedih, atau menghadapi masalah yang membuat pikiran terasa penuh. Pada saat seperti itu, mengingat Allah dapat menjadi salah satu cara untuk menenangkan hati dan menguatkan diri. Rasulullah SAW juga menggambarkan pentingnya mengingat Allah dalam kehidupan seorang muslim. Beliau bersabda:


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ ‏”‏‏.‏

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-‘Ala’, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Buraid bin ‘Abdullah, dari Abu Burdah, dari Abu Musa r.a., ia berkata: Nabi SAW bersabda, ‘Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat-Nya adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari, no. 6407).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa dzikir memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang muslim. Mengingat Allah membuat hati tetap hidup dan dekat dengan-Nya. Karena itu, ketika hati sedang gelisah, seseorang dapat menenangkan dirinya dengan berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, dan mengingat kebesaran Allah.

Ketenangan yang dimaksud bukan berarti seseorang tidak lagi memiliki masalah. Masalah tetap bisa datang, tetapi hati menjadi lebih kuat dalam menghadapinya karena memiliki tempat untuk bersandar. Dengan mengingat Allah, seseorang dapat belajar untuk tidak larut dalam kecemasan dan tetap menjalani kehidupannya dengan lebih tenang.

Oleh karena itu, pesan QS. Ar-Ra’d ayat 28 sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi kesedihan, kekhawatiran, atau berbagai persoalan, mengingat Allah dapat menjadi jalan untuk menenangkan hati. Sebab, hati yang selalu terhubung dengan Allah akan lebih mampu menghadapi berbagai keadaan tanpa kehilangan harapan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *