Beranda / Tafsir & Isu Kemanusiaan / Jempolmu, Catatanmu: Seni Menjaga Lisan di Kolom Komentar sebagai Refleksi QS. Al-Isra’: 53 dan Qaf: 18

Jempolmu, Catatanmu: Seni Menjaga Lisan di Kolom Komentar sebagai Refleksi QS. Al-Isra’: 53 dan Qaf: 18

Pergeseran interaksi antar tiap individu di ruang publik, dari yang semula interaksi langsung ke interaksi via dunia maya, dan perubahan interaksi suara ke interaksi ketikan jari telah mengubah trend komunikasi antar umat manusia. Perubahan-perubahan tersebut tidak bisa kita hindari, trend tersebut akan terus berlangsung dan berkembang serta memberi kemudahan untuk menjangkau antar individu disamping banyak juga efek negatif yang ditimbulkan.

Dalam trend media sosial yang semua orang bisa mengakses, banyak yang tidak sadar bahwa ketikan jari di kolom komentar bisa membawa dampak positif jika mengandung unsur saling berbagi kebaikan dengan kata kata yang baik dan bisa pula memberi dampak negatif bagi diri sendiri ataupun orang lain. Kemudahan akses tersebut terkadang membuat orang yang tenggelam di dalam dunia maya, acuh terhadap rasa sakit dan dampak dari komentar negatif atau hate comment yang dilontarkannya.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa hal, salah satunya adalah anonimitas di dalam bermedia sosial. (Zacky Akbar, et al., Vol. 12, 2025, hlm. 1803) Anonimitas dapat membuat seorang pelaku berpikir ‘oh saya ga diperhatikan’ atau ‘orang-orang kan gak tau siapa saya’ dan pikiran-pikiran lainnya yang menimbulkan rasa bebas dari jangkauan dan pantauan manusia.

Sikap anonimitas ini ditandai dengan banyaknya akun kedua ‘second account’ yang tidak menggunakan profil asli dari sang pengguna. Hal ini bukanlah sesuatu yang negatif jika digunakan untuk hal-hal yang mengarah kepada maslahat kebaikan diri sendiri ataupun orang lain. Akan tetapi dalam banyak kasus ditemukan bahwa akun kedua digunakan untuk stalking teman atau seseorang, disamping itu juga digunakan untuk bereaksi dikonten foto atau video baik berupa like, comment, subscribe, follow, dan lain sebagainya. Hal tersebut menjadi riskan dikarenakan banyak kasus komentar negatif berangkat dari akun-akun yang tidak jelas.

Seorang pengguna akun kedua inilah yang mayoritas menghujani dunia maya dengan perkataan-perkataan yang kurang pantas dilihat dan dibaca bahkan bisa dikatakan minim akhlaq. Pengguna ini merasa dia aman untuk bereaksi karena keberadaannya dan profil aslinya tidak diketahui oleh khalayak ramai. Dengan inilah mereka merasa bebas mengetik apa saja dikolom komentar tanpa memperhatikan dan memikirkan perasaan pengguna media sosial lain, bahkan terkadang implikasinya membuat pengguna lain mengalami gangguan mental.

Belakangan ini viral kakek-kakek yang sedang berjualan di fitur live aplikasi tiktok dibanjiri komentar negatif dengan kata-kata yang tidak sepantasnya didapat oleh sang kakek. Kakek tersebut tidak memiliki salah sedikitpun, justru beliau sudah menjalankan amanahnya, mencari nafkah dengan cara yang halal. Dan ajaibnya, sang kakek tidak membalas komentar-komentar negatif tersebut, beliau malah mendoakan para pengkomentar dengan doa-doa yang baik. Sungguh amat mulia akhlak sang kakek dalam menghadapi para netizen nirmoral.

Cerita singkat diatas merupakan satu dari banyak kasus hate comment yang merebak didalam semesta dunia maya. Hal ini tentu tidak bisa dibenarkan baik secara akal dan lebih-lebih tidak pantas dibenarkan dalam pandangan kaca mata syari’at islam. Al-Qur’an sudah banyak menyatakan, menggambarkan dan mencontohkan akhlak-akhlak yang baik dalam berperilaku dan berkata-kata guna diaplikasikan oleh umat islam.

Al-Qur’an dalam peran utamanya sebagai petunjuk bagi segenap umat Nabi Muhammad telah memerintahkan berkali-kali untuk selalu berkata yang baik. Dan cukuplah bagi seorang muslim menjadikan perintah-perintah tersebut menjadi landasan dalam berperilaku dan bertutur kata. Serta didalam perjalanannya, patokan inilah yang harus dipakai bagi seorang muslim yang memang taat untuk menjaga lisan dari hal-hal yang tak layak keluar dari diri seorang mukmin terkhusus untuk menjaga lisan dari komentar-komentar tak layak di media sosial. Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا ۝٥٣

Artinya: “Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Al-Ira’: 53)

Di dalam Tafsīrul Qur’ānil ‘Aẓīm  Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya untuk memrintahkan hamba-hamba Allah yang beriman untuk selalu menjaga tutur kata dengan kata-kata terbaik. Bukan hanya kata-kata yang baik, melainkan kata-kata ‘terbaik’. Karena belum tentu semua kata-kata baik dapat diterima oleh lawan bicara apalagi kata-kata yang jelas menyakiti dan merendahkan orang lain. Lebih lagi jika diutarakan di dalam jagat media sosial dengan berlindung dibalik anonimitas.

Lebih lanjut lagi Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika kata-kata terbaik tidak dapat direalisasikan oleh seorang hamba, maka setan -yang memang tidak senang melihat umat manusia berperilaku baik- akan memicu perselisihan antar manusia dan lebih jauh akan menyeret kepada tindakan nyata seperti perkelahian bahkan pertumpahan darah (na‘udzubillah). (Ibnu Katsir, 1999, hlm. 86)

Didalam kasus hate comment, bisa kita tarik simpul bahwa alasan dibalik itu semua salah satunya adalah ketidakpekaan manusia terhadap pengawasan 24/7 yang Allah SWT ciptakan untuk mengontrol umat manusia. Iman adalah satu-satunya cara untuk manusia bisa faham dan peka akan pengontrolan tersebut. Allah SWT berfirman didalam QS. Qaf: 18 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ۝١٨

Artinya: “Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)”.

Syekh Wahbah Zuhaili menerangkan didalam tafsirnya Al-Tafsīr al-Munīr bahwa tidaklah setiap anak adam mengucapkan sesuatu apapun melainkan ada malaikat yang senantiasa mengawasinya, dengan setia hadir dan disiapkan khusus untuk tugas tersebut. Malaikat tersebut mencatat tanpa meninggalkan sepatah katapun dan tidak meluputkan suatu gerak-gerik apapun. Raqib sebagai sosok yang senantiasa meneliti dan menjaga segala perkara, sedangkan Atid sebagai sosok yang senantiasa hadir tidak pernah absen, serta disiapkan untuk menjaga dan memberikan kesaksian. Abu Al-Jauza’ dan Mujahid berkata: ‘Segala sesuatu yang berkenaan dengan manusia (perkataan, perbuatan dan tingkah laku) pasti akan dicatat, bahkan suara rintihan ketia ia sakit’. (Wahbah Az-Zuhaili, 1991, hlm. 294).

Maka, di dalam pembahasan ini Allah telah memberikan rumusan untuk menjadi solusi yang maslahat untuk penjagaan lisan di setiap zamannya. Setidaknya ada dua seni menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang memungkinkan manusia untuk menyakiti manusia lainnya. Yang pertama memilih dan memilah kata-kata terbaik untuk dipakai pada obrolan dan perkataan sehari-hari, tak hanya bertutur yang baik melainkan menggunakan kata-kata terbaik, sehingga dengan begitu kerukunan antar tiap individu insyaallah akan terbina dengan baik khususnya didalam jagat dunia maya yang semua orang bebas mengutarakan apa saja.

Seni kedua adalah selalu meletakkan sugesti dalam pikiran alam bawah sadar kita dan menetapkan doktrin kepada tiap masing-masing individu kita untuk selalu ingat bahwasanya ada Allah yang selalu mengawasi 24/7, dimanapun kita berada dan dalam keadaan apapun kita. Ditambah dengan kesadaran akan adanya malaikat-malaikat-Nya yang senantiasa cepat sigap untuk mencatat semua perkataan dan perbuatan dari tiap seorang hamba. Semua seni tersebut terbalut didalam ajaran yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai pokok kesadaran seorang muslim, yaitu taqwa. Dan pada akhirnya kelak, yang berkata baik akan menemukan balasan yang baik dan yang berkata-kata buruk akan menemukan sesuai apa yang mereka perbuat selama hidup mereka.

Daftar Pustaka

Akbar, Zacky. Dkk. “Analisis Psikologis Terhadap Perilaku Hate Comment Di Media Sosial Instagram”, Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. Vol. 12, No. 5, Th 2025.

Az-Zuhaili, Wahbah. Al-Tafsīr al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī‘ah wa al-Manhaj. Beirut: Dār al-Fikr al-Mu‘āṣir, 1991.

Katsir, Ibnu. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm. Riyadh: Dār Ṭaybah lin-Nasyr wat-Tawzī‘,  1999.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *