Beranda / Al-Qur’an & Sains / Kantuk sebagai Anugerah Ilahi: Kajian QS. Ali ‘Imran Ayat 154 dalamPerspektif Sains

Kantuk sebagai Anugerah Ilahi: Kajian QS. Ali ‘Imran Ayat 154 dalamPerspektif Sains

Emosi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tubuh manusia. Ia meliputi berbagai macam bentuk seperti rasa senang, sedih, takut, dan tekanan psikologis yang menimbulkan reaksi fisik tertentu. Hal yang cukup sering dialami oleh kebanyakan orang adalah rasa kantuk yang datang usai merasakan kesedihan. Menariknya, fenomena tersebut juga diabadikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya QS. Ali-Imran ayat 154:

ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَاۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ 

Setelah kamu ditimpa kesedihan, kemudian Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) rasa kantuk yang meliputi sebagian golongan dari kamu, sedangkan Sebagian golongan yang lain telah mencemaskan diri mereka sendiri. Mereka telah berprasangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Seandainya ada sesuatu yang dapat kami perbuat dalam urusan ini, niscaya kami tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui segala isi hati’’. (Q.S Ali-Imran: 154)

Ayat tersebut berkenaan dengan fenomena yang dialami para sahabat tatkala dilanda kekhawatiran yang berlebih akan keselamatan mereka saat perang Uhud. Ibnu Katsir menafsirkan bahwa Allah SWT menganugerahkan keamanan bagi hamba-hambaNya ketika mereka (para sahabat) masih memanggul senjata dengan ditimpa kesedihan dan kecemasan (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, Juz 2).

Hal ini juga diperkuat oleh penafsiran Jalaluddin al-Mahalli yang menerangkan bahwa frasa طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْۙ merupakan orang-orang beriman yang tertidur lelap di balik tameng sehingga pedang-pedang pun jatuh ke sisi mereka (Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti, Tafsir al-Jalalain, Juz 2). Rasa kantuk dalam kondisi tersebut menimbulkan rasa aman. Fenomena yang sama terjadi berkenaan dengan perang badar dalam Q.S. Al-Anfal: 11 yang berbunyi:

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ

‘’(Ingatlah) ketika Allah membuat kamu mengantuk sebagai penenteraman dari-Nya’’(Q.S. Al-Anfal: 11)

Selanjutnya, dalam ayat tersebut juga dijelaskan mengenai keadaan orang-orang munafik pada saat itu, dimana mereka tidak mendapat ketenangan seperti yang dirasakan oleh orang-orang beriman. Dalam Tafsir Jalalain, frasa وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ merupakan orang-orang yang cemas memikirkan nasib mereka hingga tidak memiliki kemauan apapun selain menyelamatkan diri tanpa mempedulikan Nabi SAW beserta para sahabatnya. Mereka yang tidak dapat tidur merupakan golongan orang munafik.

Dalam hal ini, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang munafik yang penuh keraguan terhadap Allah SWT, mereka termasuk golongan yag yang mendapat kecemasan oleh mereka sendiri. Golongan ini tidak mendapat rasa kantuk (yang melindungi mereka) dari rasa cemas, kegelisahan, dan ketakutan. يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِۗ ‘’mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah’’.  

Penafsiran pada ayat tersebut menjadi indikasi kuat bahwa rasa kantuk yang dialami setelah mengalami kesedihan tertentu bukanlah sekedar kondisi biologis, melainkan merupakan salah satu bentuk ketenangan berupa rasa aman setelah seorang mengalami tekanan emosional yang cukup berat.

Keselarasan Al-Qur’an dengan Ilmu Sains Modern

Selain penafsiran ulama’ klasik maupun kontemporer, hal menarik lainnya yang menjadi pembahasan lebih lanjut adalah ayat tersebut dapat menjadi objek kajian dalam ranah sains. Rasa kantuk yang timbul setelah mengalami kesedihan merupakan respons emosional yang melibatan berbagai sitem dalam tubuh manusia. Khususnya ketika kita menangis, dikutip dari guesehat.com, saat itulah tubuh melepaskan berbagai hormon dan zat kimia, seperti Endorfin, Kortisol dan Oksiotin yang ketiganya merupakan hormon stress dan hormon yang berperan untuk menciptakan perasaan tenang.

Hal tersebut juga diperkuat oleh argumen Jeffrey Cohen, PsyD, seorang psikolog klinis Universitas Colombia, ‘’Disisi lain, produksi hormon tersebut juga dapat menenangkan tubuh, yang pada akhirnya menimbulkan rasa lelah.’’ Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa saat kita bersedih tubuh akan merasa elah dan mengalami kantuk yang luar biasa.

Dengan demikian, fenomena mengantuk setelah rasa sedih merupakan perpaduan mekanisme biologis yang diciptakan Allah sebagai bentuk kasih sayangNya terhadap manusia supaya memperoleh ketenangan setelah mengalami tekanan emosional tertentu. Wallahu a’lam.

Referensi

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim, Juz 2.

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti, Tafsir al-Jalalain, Juz 2.

https://www.guesehat.com/kenapa-mengantuk-setelah-menangis
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *