Beranda / Psikologi & Kesehatan Mental / Mencari Nilai Diri di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia Digital

Mencari Nilai Diri di Tengah Hiruk-Pikuk Dunia Digital

Era serba digital dapat memberikan dampak terhadap pola pikir dan tindakan individu, berdasarkan sebuah data beberapa platform media sosial yang banyak digunakan para remaja, yakni; Tiktok dengan presentase 77%, Instagram sebanyak 73% pengguna, dan WhatsApp 69% (Setyo, 2025, p. 2). Yang menjadi permasalah saat ini ialah, dengan seringnya menggunakan medsos, akan memicu perpindahan standarisasi dalam kehidupan, sehingga memiliki dampak yang memprihatinkan terhadap kondisi pisikologis seseorang (tertekan dengan tren yang viral) (Firdhi et al., 2025, p. 4).

Perbincangan saat ini ialah tentang relationship goals, tren ini ialah dimana potret hubungan romantis yang dikemas secara estetik dan menghibur, akibatnya tidak sedikit seseorang menjadikan konten tersebut sebagai tolak ukur keberhasilan dalam suatu hubungan. Yang menjadikan permasalahan, bahwa konten-konten tersebut tidak selalu relevan pada realitasnya, dan banyak orang berekspetasi terhadap hal tersebut (Tsabita & Nasrulloh, 2026, p. 2).

Dari ekspetasi tersebut, akan menimbulkan kekhawatiran diri dan kecemasan, sebab takut jika hubungannya tidak sesuai dengan apa yang ia lihat seperti konten-konten romantis tersebut. Maka sebagai solusinya ialah dengan meninjau dan merenungi nilai-nilai Qur’ani dalam melihat hakikat cinta dalam suatu hubungan.

Cinta yang Tumbuh dan Kasih yang Bertahan

Allah Swt berfirman;

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (Qs Ar-Rum:21).

Al-Razi menjelaskan لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا bahwa dalam hubungan suami-istri bukan berpegang pada ketenangan fisik semata, melainkan ketenangan batin dan kedamaian jiwa (Ar-Razi, 1420, pp. 91–92, V.25). Maka dapat dipahami, pada realitasnya hubungan yang sehat tidak perlu terkesan indah dan romantis untuk mendapatakn citra yang baik terhadap orang lain, melainkan ketentraman serta kedamaian hati sebagai acuannya.

Kemudian ketentraman itu diiringi dengan mawaddah dan rahmah. Menurut Al-Sya’rawi, mawaddah merupakan cinta yang tumbuh dalam kebersamaan serta kerja sama suami-istri dalam mengarungi kehidupan. Adapun rahmah adalah kasih sayang yang tetap hadir meskipun keadaan mengalami perubahan (al-Sha’rawi, 1997, pp. 11360, V.18). Baca juga: https://nalartafsir.id/bolehkah-seorang-muslim-merasa-tidak-baik-baik-saja/

Selaras dengan Al-Zuhaili, ia menjelaskan bahwa pernikahan tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga untuk mewujudkan ketenangan jiwa, kasih sayang, dan cinta yang berkelanjutan di antara pasangan.

Nilai-nilai tersebut menjadi pilar utama yang menopang keharmonisan rumah tangga sehingga mampu bertahan menghadapi berbagai perubahan dan tantangan kehidupan. Dengan demikian, kualitas sebuah hubungan tidak ditentukan oleh banyaknya ekspresi romantis yang tampak di hadapan orang lain, melainkan oleh hadirnya ketenteraman, cinta, dan kasih sayang yang tumbuh dalam kehidupan bersama (Zuhaili, 1430, pp. 75, V.21).

Renungan Sejenak

Ditutup dengan kalamnya;

 اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.

Semua ini menjadi pengingat bagi orang-orang yang gemar berpikir. Dengan memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah, mereka akan memahami bahwa tidak ada yang mampu menghalangi kehendaknya dan tidak ada sesuatu pun yang terlalu sulit untuk diwujudkan olehnya (Al-Thabari, 2001, pp. 86–87, V.20). Baca juga: https://nalartafsir.id/memahami-dimensi-psikologis-orang-yang-berhasil-tafsir-al-qurthubi-atas-qs-ad-dhuha-9311/

​Ayat ini menjadi tamparan halus sekaligus pelipur lara bagi jiwa-jiwa yang sering membandingkan nasib dengan keindahan semu di media sosial. Berpikir di sini berarti menyadari bahwa setiap pasangan memiliki dinamika dan ujiannya masing-masing yang tidak perlu dipamerkan. Dengan mengembalikan orientasi hubungan pada pencipta cinta itu sendiri, segala bentuk insecure dan kecemasan akibat standar dunia maya akan hilang, berganti dengan rasa cukup dan damai.

Penutup

Sebagai penenang jiwa yang cemas terhadap ekspetasi, Al-Qur’an datang untuk memberikan penerang terhadap manusia, sebab persoalan tersebut dapat dipecahkan sesuai dengan realitas kehidupan, patut disadari dan direnungi bahwa dalam setiap hubungan suami-istri tidak selalu berjalan indah, namun dari gejolak tersebut dapat diredah dari nilai-nilai Qur’ani.

​Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengalihkan pandangan dari standar semu media sosial menuju keindahan hakiki yang diajarkan Al-Qur’an. Dengan membumikan nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah, kecemasan akibat ekspektasi digital akan sirna, berganti menjadi ketenteraman jiwa yang nyata. Sebab, keberhasilan sebuah hubungan tidak diukur dari pengakuan maya, melainkan dari kedamaian hati yang dibangun bersama pasangan.

Daftar Pustaka

al-Sha’rawi, M. M. (1997). Tafsir al-Sha’rawi: al-Khawatir. Mathabi’ Akhbar al-Yawm.

Al-Thabari, I. J. (2001). Tafsir al-Thabari Jami’ al-Bayan. Dar Hajar li al-Thaba’ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’ wa al-I’lan.

Ar-Razi, F. (1420). Mafātīḥ al-Ghayb. Dar Ihya at-Turabh al-Arabi.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *