Belakangan ini, kabar bencana kembali datang dari berbagai wilayah Indonesia. Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih mengalami erupsi menerus dan disertai suara dentuman serta gemuruh. Pada saat yang sama, kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah, sementara aktivitas Gunung Sinabung juga meningkat hingga statusnya berada pada Level III (Siaga).
Bencana bukan hanya tentang apa yang rusak di luar diri manusia. Di dalam diri, ia juga bisa menghadirkan ketakutan, kehilangan, dan kegelisahan. Lalu, ketika manusia berhadapan dengan keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, bagaimana Al-Qur’an mengajarkan kita untuk meresponsnya? Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Ayat ini menarik karena Al-Qur’an tidak menafikan rasa takut. “Al-khawf” justru disebut sebagai salah satu bentuk ujian yang akan dialami manusia. Dalam “Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalayn”, Ahmad al-Shawi menjelaskan ayat ini dalam konteks berbagai bentuk ujian yang menimpa manusia dan bagaimana kesabaran menjadi sikap orang-orang yang mendapatkan kabar gembira dari Allah.
Dengan demikian, sabar bukan berarti seseorang tidak boleh takut. Sabar adalah bagaimana manusia tetap berada dalam jalan yang benar ketika ketakutan itu datang. Ia tetap berusaha menyelamatkan diri, membantu orang lain, dan melakukan apa yang mampu dilakukan, tetapi tidak membiarkan ketakutan menguasai seluruh hatinya. Ketika bencana kemudian membawa kehilangan, Al-Qur’an memberikan kalimat yang sangat dalam:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]: 156)
Ucapan tarji’, bukan sekadar ucapan ketika mendengar seseorang meninggal. Ia merupakan cara Al-Qur’an mengembalikan pandangan manusia ketika sesuatu yang dicintainya hilang: “kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.” Di sinilah tasawuf menjadi relevan. Dalam al-Risalah al-Qusyairiyyah, Imam al-Qusyairi membahas sabar, tawakkal, dan ridha sebagai bagian dari pembinaan hati. Artinya, ajaran tersebut bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dilatih sampai menjadi sikap batin. Manusia tetap berusaha, tetapi tidak menggantungkan seluruh ketenangan hatinya kepada hasil yang berada di luar kuasanya. Al-Qur’an sendiri berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
Ada usaha sebelum tawakkal. Ada ikhtiar sebelum penyerahan. Setelah manusia melakukan apa yang mampu dilakukan, ia menyadari bahwa tidak semua hasil berada dalam genggamannya. Ketika hati masih gelisah, Al-Qur’an kembali menunjukkan tempat untuk kembali:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28)
Maka tasawuf tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi bencana, ia justru berbicara tentang bagaimana seseorang menjaga hatinya: “bersabar ketika takut, mengingat Allah ketika gelisah, bertawakkal setelah berusaha, dan belajar ridha terhadap sesuatu yang memang berada di luar kuasanya.” Bencana mungkin mengguncang tempat manusia berpijak. Tetapi Al-Qur’an mengajarkan agar guncangan itu tidak membuat manusia kehilangan arah untuk kembali kepada Allah.
Referensi
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Baqarah [2]: 155–156; QS. Ali ‘Imran [3]: 159; QS. Ar-Ra‘d [13]: 28.
Ahmad ibn Muhammad al-Shawi al-Maliki, *Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalayn*.
Abu al-Qasim al-Qusyairi, *al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tasawwuf*.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), laporan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan penanganan bencana Indonesia, September 2026.









