Lewati ke konten
Trending

Tantangan Hafiz dan Hafizah dalam Menjaga Diri dari Paparan Konten Pornografi di Era Digital

Al-Qur’an sebagai Pedoman Pembentukan Kepribadian Muslim di Era Modern

Ketika Hutan Lebih Beradab daripada Kota: Reaktualisasi Etika Ekologi Sunda Wiwitan dalam Kritik atas Modernitas

Ketika Kitab Suci Berbicara tentang Aurat: Analisis Perbedaan Diksi Al-Qur’an dan Bibel

Mengapa Hermeneutika Al-Qur’an Ditolak? Menelusuri Akar Epistemologis Resistensi terhadap Pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd

Fenomena Potongan Ayat Viral di Media Sosial

"Menghadirkan Tafsir yang Rasional dan Humanis"

  • Ketentuan Penulisan
Main Menu
  • Ketentuan Penulisan

Tentang Kami

Nalartafsir.id - Menghadirkan Tafsir yang Rasional dan Humanis

Rubrik

  • Al-Qur'an & Lingkungan Hidup(10)
  • Al-Qur’an & Sains(17)
  • Al-Quran & Generasi Muda(27)
  • Lensa Care(1)
  • Lensa Literacy Roadshow(1)
  • Metodologi Tafsir(43)
  • Nalar Times(10)
  • Penerbit Lensa(1)
  • Psikologi & Kesehatan Mental(9)
  • Pustaka Tafsir(11)
  • Tafsir & Isu Kemanusiaan(53)
  • Tafsir Kontekstual(56)
  • Yayasan Lentera Cendekia El-Syams(1)
Jumat, Juli 31, 202602:34:30
Beranda / Metodologi Tafsir / Metode ‘Tafsir Terbalik’ ala Mbah Maimoen Zubair dan Rahasia Taqdīm wa Ta’khīr dalam Surah Al-Falaq
  • Metodologi Tafsir

Metode ‘Tafsir Terbalik’ ala Mbah Maimoen Zubair dan Rahasia Taqdīm wa Ta’khīr dalam Surah Al-Falaq

Avatar photo
Oleh Nur Alim Jayanto
Tidak ada komentar
11/05/2026 6:50 pm

Al-Qur’an adalah mukjizat Rasulullah saw yang bukan hanya menjadi pedoman hidup, tetapi juga menyimpan banyak keistimewaan dan rahasia dalam setiap ayatnya. Ulama kharismatik Nusantara, Mbah Maimoen Zubair pernah berkata, “Orang yang belum tahu Al-Qur’an terbalik, berarti dia belum mendalami Al-Qur’an.” Istilah “Al-Qur’an Terbalik” kemudian menimbulkan tanda tanya bagi kita. Apakah yang dimaksud ialah membaca Al-Quran dari ayat terakhir hingga ke ayat pertama? atau membaca Al-Quran dengan membalikkan mushaf?

Buku The Quranything karya Lora Ismail menjelaskan bahwa istilah “Al-Qur’an Terbalik” tidak dimaknai secara harfiah ataupun tekstual, melainkan sekadar ungkapan. Dalam kajian Ulumul Qur’an, istilah ini merujuk pada konsep taqdim wa ta’khir. Sebagaimana dawuh Syaikhina Maimoen:

فَكُلُّ أّيَةٍ فِى الْقُرْأّنِ فِيْهِ تَقْدِيْمٌ وَ تَأْخِيْرٌ فَفِيْهِ تَنْبِيْهٌ بِأَنَّ الأَمْرَ حَقِيْقٌ بِالإِهْتِمَامِ فَيَتَدَبَّرْ

“Tiap ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat taqdim ta’khir berarti mengandung isyarat bahwa perkara tersebut sangat penting dan layak mendapat perhatian serius, sehingga perlu direnungkan dan dipikirkan secara mendalam”. (Al-Ashscholy, The Qur’anything, 2025)

Ada banyak contoh ayat dalam Al-Quran yang jika kita baca sesuai dengan terjemahannya, seakan akan susunan katanya terbalik. Padahal yang kita pahami dan yakini bersama bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang terjaga keotentikannya dari zaman Rasulullah hingga zaman sekarang dan tentu tidak ada keraguan di dalamya (sempurna). Salah satu contohnya pada QS. Al-Baqarah ayat 108:

وَمَنْ يَّتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

“Barangsiapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus”

Dalam ayat tersebut, penyebutan kufur dan iman tampak seperti terbalik. Jika dimaknai secara literal sesuai urutan kata, akan berbunyi, “Barang siapa mengganti kekufuran dengan keimanan, maka ia tersesat.” Padahal yang lazim dipahami adalah sebaliknya, yakni mengganti keimanan dengan kekufuranlah yang menyebabkan kesesatan. Disinilah letak keunikan susunannya yang mengajak kita untuk merenung lebih dalam.

Keterbalikan ini menurut Abū Ḥayyān dalam al-Baḥr al-Muḥīṭ, mengandung kinayah (sindiran) yang menggambarkan seseorang yang berpaling dari iman menuju kekufuran. Ia menegaskan bahwa maksud ayat itu adalah siapa saja yang mengambil kekufuran sebagai pengganti iman, maka ia telah tersesat dari jalan yang lurus. Dari sini tampak bahwa ayat yang terkesan “terbalik” perlu dipahami melalui pendekatan kebahasaan atau gramatika bahasa Arab.

Kemudian contoh lainnya di QS. Hud ayat 71:

وَامْرَاَتُه قَاۤىِٕمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنٰهَا بِاِسْحٰقَۙ وَمِنْ وَّرَاۤءِ اِسْحٰقَ يَعْقُوْبَ

“Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah (kelahiran) Ishaq, (dia akan melahirkan lagi) Ya‘qub”.

Istri Nabi Ibrahim berdiri, lalu tersenyum. Kemudian, Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya‘qub (putra Ishaq). Namun, maksud dari ayat tersebut menunjukkan bahwa Istri Nabi Ibrahim memperoleh kabar gembira terlebih dahulu, kemudian baru ceria (The Qur’anything, hlm. 48).

Lebih lanjut dalam The Qur’anything: Sepuluh Surah dari Tuhan, Lora Ismail mengajukan cara memahami Surah Al-Falaq secara “terbalik” dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Namun, ia menegaskan bahwa pendekatan ini lebih sebagai bentuk interaksi santai dengan Al-Qur’an saja, bukan sebagai metode utama dalam menafsirkannya. Berikut merupakan terjemahan dan redaksi ayat di surah Al-Falaq jika dibaca secara terbalik.

5) Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.

4) Dan dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya).

3) Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.

2) Dari kejahatan (makhluk yang) Dia (Allah) ciptakan.

1) Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh).

Dari surah Al-Falaq ini jika dibaca dan didalami secara terbalik dapat dipahami bahwa kejahatan sihir berawal dari rasa dengki yang tumbuh dalam diri seseorang. Kedengkian yang kian memuncak itu kemudian mendorongnya untuk mencari bantuan penyihir atau biasa disebut dukun untuk melampiaskan kebenciannya, lalu praktik sihir dilakukan sering digambarkan melalui media tertentu pada waktu malam, dan dengan bantuan makhluk gaib hingga akhirnya pengaruhnya sirna saat fajar tiba.

Melalui pendekatan “terbalik”, tampak bahwa akar dari berbagai kejahatan adalah hati yang dipenuhi iri dan kebencian, hingga mengaburkan kejernihan akal dan nurani. Dalam bahasa Arab, sifat ini dikenal sebagai hasad, yang dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali, seperti pada QS al-Baqarah ayat 109, an-Nisa’ ayat 54, al-Fath ayat 15, dan al-Falaq ayat 5. Singkatnya, hasad adalah perasaan tidak suka terhadap nikmat orang lain, disertai keinginan agar nikmat itu hilang atau berpindah kepadanya.

Di zaman serba modern yang diikuti dengan perkembangan teknologi yang pesat membuat semua orang dapat melihat kehidupan orang lain hanya melalui layar ponsel mereka. Sehingga akan lebih mudah bagi semua orang untuk memiliki bibit-bibit kedengkian. Disinilah  peran Al-Qur’an terlihat sebagai penawar (asy-syifa). Surah Al-Falaq hadir dan menegaskan agar manusia memohon perlindungan kepada Allah sebagai Rabbul falaq. Tak heran, surah ini bersama dengan surah an-Nas disebut sebagai surah Al-Mu’awwidzatain yang memiliki kandungan yang dapat melindungi manusia dari berbagai kejahatan.

Sebagai kesimpulan, understanding Al-Qur’an differently melalui perspektif “terbalik” sebagaimana isyarat Mbah Maimoen dan konsep taqdīm wa ta’khīr membuka cara pandang baru dalam menangkap kedalaman makna Al-qur’an, khususnya dalam surah Al-Falaq. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya khazanah tafsir, tetapi juga menegaskan bahwa setiap susunan ayat menyimpan pesan yang sarat hikmah dan layak direnungi. Dengan demikian, Al-Qur’an senantiasa relevan untuk dikaji dari berbagai sudut, menghadirkan pemahaman yang lebih hidup sekaligus meneguhkan kemukjizatannya sepanjang zaman.

Referensi:

Al-Ashscholy. The Qur’anything: Sepuluh Surah dari Tuhan. 2025.

Abū Ḥayyān al-Andalusī. al-Baḥr al-Muḥīṭ fī al-Tafsīr.

Quraish Shihab. Kaidah Tafsir. Jakarta: Lentera Hati.

Share Article
Tag:Al-Qur'anMetode ‘Tafsir Terbalik’ ala Mbah Maimoen Zubair dan Rahasia Taqdīm wa Ta’khīr dalam Surah Al-FalaqMetodologi Al-Qur'an dan Tafsir
Previous Article

Sejarah Perkembangan Terjemah Al-Qur’an di Indonesia: Dari Tradisi Lisan ke Karya Modern

Next Article

Dialektika Kritik Matan: Implementasi Manhaj Naqd Muhaddisin dalam Penafsiran Ayat Ahkam

Avatar photo
Nur Alim Jayanto

Alumni Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Related Posts

Ketika Kitab Suci Berbicara tentang Aurat: Analisis Perbedaan Dik ...
27/07/2026
Mengapa Hermeneutika Al-Qur’an Ditolak? Menelusuri Akar Epistemol ...
27/07/2026
Corpus Coranicum Pasca Akademienprogramm: Antara Transformasi Ins ...
23/07/2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Featured Posts

1
Tantangan Hafiz dan Hafizah dalam Menjaga Diri dari Paparan Konten Pornografi di Era Digital
29/07/2026
2
Al-Qur’an sebagai Pedoman Pembentukan Kepribadian Muslim di Era Modern
29/07/2026
3
Ketika Hutan Lebih Beradab daripada Kota: Reaktualisasi Etika Ekologi Sunda Wiwitan dalam Kritik atas Modernitas
28/07/2026

Tim Redaksi

Tentang Kami

Ketentuan Penulisan

Blog

nalartafsir.id merupakan platform kajian tafsir Al-Qur'an yang berorientasi pada pengembangan wacana tafsir yang rasional, humanis, dan relevan dengan konteks sosial-keagamaan kontemporer.

"Setiap insan berhak mendapatkan petunjuk Al-Qur'an. Mulailah dengan mentadabburi ayatnya, dan teruskan dengan menuliskannya agar tak berhenti pada dirimu saja.” (Syamsuri_Founder Nalar Tafsir ID)

Email: nalartafsirid@gmail.com
Narahubung: +62 813 2019 945

Category List

  • Al-Qur'an & Lingkungan Hidup(10)
  • Al-Qur’an & Sains(17)
  • Al-Quran & Generasi Muda(27)
  • Lensa Care(1)
  • Lensa Literacy Roadshow(1)
  • Metodologi Tafsir(43)
  • Nalar Times(10)
  • Penerbit Lensa(1)
  • Psikologi & Kesehatan Mental(9)
  • Pustaka Tafsir(11)
  • Tafsir & Isu Kemanusiaan(53)
  • Tafsir Kontekstual(56)
  • Yayasan Lentera Cendekia El-Syams(1)

Featured Posts

1
Tantangan Hafiz dan Hafizah dalam Menjaga Diri dari Paparan Konten Pornografi di Era Digital
29/07/2026
2
Al-Qur’an sebagai Pedoman Pembentukan Kepribadian Muslim di Era Modern
29/07/2026
3
Ketika Hutan Lebih Beradab daripada Kota: Reaktualisasi Etika Ekologi Sunda Wiwitan dalam Kritik atas Modernitas
28/07/2026
Copyright © nalartafsir.id 2026 | Powered by Majalah Berita X