Beranda / Tafsir & Isu Kemanusiaan / Makna Lita’arafu dan Relevansinya bagi Kerukunan Antarumat Beragama di Indonesia: Refleksi QS. Al-Hujurat Ayat 13

Makna Lita’arafu dan Relevansinya bagi Kerukunan Antarumat Beragama di Indonesia: Refleksi QS. Al-Hujurat Ayat 13

Indonesia berdiri di atas keberagaman yang nyaris tak terhitung. Data Badan Pusat Statistik mencatat hingga Juni 2025 terdapat sekitar 1.300 suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, sementara negara ini juga mengakui enam agama resmi. Angka itu menunjukkan bahwa perbedaan bukan sesuatu yang jauh atau asing; ia hadir di lingkungan terdekat, di sekolah, tempat kerja, bahkan di depan pintu rumah kita.

Namun keberagaman tidak selalu berujung pada saling memahami. Di banyak tempat, perbedaan justru melahirkan prasangka, jarak, bahkan kebencian. Kita hidup berdekatan, tetapi belum tentu saling mengenal. Padahal, jauh sebelum isu toleransi menjadi perdebatan modern, Al-Qur’an telah menawarkan prinsip mendasar dalam menghadapi perbedaan: lita‘ārafū, agar kamu saling mengenal.

Jadi, jauh sebelum banyaknya keberagaman, Islam telah memberikan solusi sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 hadir sebagai manifesto kemanusiaan yang abadi melalui konsep lita’arafu.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. (QS. Al-Hujurat: 13)

Permulaan ayat ini dimulai dengan kalimat: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…”. Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa pada dasarnya keberagaman ras, suku, bangsa dan agama memiliki latar belakang yang sama yaitu laki-laki dan perempuan. Pernyataan ini juga memberikan kesan penegasan terkait kesetaraan di antara umat manusia.

Kelanjutan dari pernyataan tersebut yaitu “kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal….” pada pernyataan kali ini dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keberagaman suku, bangsa dan agama merupakan kehendak Allah untuk menjadikan kita saling mengenal bukan untuk saling membelakangi. Ayat ini sangat mengingatkan kepada kita untuk menjaga kerukunan dan menghindari rasisme.

Pernyataan terakhir ayat Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti”. Pernyataan terakhir ini memberikan penjelasan bahwa bukan ras, suku atau bangsa yang membuat seseorang menjadi istimewa namun ketakwaannya terhadap Allah lah yang menjadi penentu. Ibnu Katsir memberikan penekanan bahwa kebesaran manusia di hadapan Allah tidak didasarkan pada etnis, warna kulit, atau asal geografis, tetapi pada tingkat ketakwaan. Dalam pandangannya, ayat ini menghapuskan segala bentuk kebanggaan yang berakar pada ras atau asal usul, dan menegaskan bahwa ukuran kemuliaan sejati adalah nilai spiritual dan akhlak seseorang (Siregar and Jamil 2024).

Jika dilihat dari asbabun nuzul ayat ini diturunkan sebagai respon atas sikap rasisme orang Quraisy terhadap Bilal  in Rabah pada saat itu yang diperintahkan oleh sahabat untuk mengumandangkan azan. Orang-orang Quraisy melihat hal itu mulai mempertanyakan “apakah Muhammad tidak menemukan orang lain untuk mengumandangkan azan seain budak hitam ini?” lantas ayat ini turun sebagai teguran atas sifat rasisme yang masih sangat kental pada saat itu. 

Pentingnya kesetaraan universal, bisa kita lihat sekarang ini banyak sekali permasalahan seperti bulying yang berlatar belakang perbedaan ras, suku, bangsa, dan agama.  Ayat ini bisa dijadikan pegangan agar kita tidak mudah memojokan orang hanya karna adanya perbedaan. Kata  Lita’arafu berasal dari kata ‘arafa. Dalam bahasa Arab, kata ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar “tahu”. Jika “tahu” (‘alima) seringkali hanya bersifat kognitif atau data, maka ‘arafa melibatkan pengenalan yang menyentuh aspek menyeluruh. Ayat ini menyadarkan dahwasanya perbedaan merupakan sunnatullah (Mario 2025).

Lita’arafu Mengandung Tiga Dimensi Utama:

  1. Dimensi Kognitif (Literasi Agama): Kata “lita’arafu” berarti saling mengenal. Dalam hal ini, kita sebaiknya belajar tentang ajaran orang lain dari sumber yang dapat dipercaya, bukan dari rumor atau pendapat pribadi. Ini adalah langkah pertama untuk menghapus rasa takut.
  2. Dimensi Afektif (Empati): Setelah saling mengenal, kita jadi sadar untuk menghargai tempat ibadah orang lain. Kita mulai memahami alasan di balik cara mereka beribadah tanpa merasa iman kita terancam.
  3. Dimensi Praktis (Kolaborasi): Puncak dari mengenal satu sama lain adalah bekerja sama. Perbedaan dalam keyakinan tidak seharusnya menghalangi kita untuk berkolaborasi dalam masalah kemanusiaan seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan keadilan sosial. Ini bukan tentang menggabungkan agama, tetapi tentang pluralisme.

Sering kali kita merasa khawatir bahwa bersikap terbuka terhadap agama lain atau mengenal agama orang lain dapat merusak keyakinan kita. Tetapi, lita’arafu justru menuntut kita untuk memiliki identitas yang kuat. Agar bisa “saling mengenal,” kedua belah pihak perlu memiliki identitas yang jelas.

Ayat ini tidak meminta kita untuk menyamakan semua agama, tetapi mengajak kita untuk menjadi orang yang beradab dalam menghadapi perbedaan. Standar yang dinyatakan dalam Al-Qur’an sangat jelas pada akhir ayat: “Sungguh, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. ” Kemuliaan tidak diukur dari seberapa keras kita membenci orang yang berbeda. tapi seberapa besar manfaat dan ketaatan kita kepada Sang Pencipta.

Penutup

Makna Lita’arafu dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 adalah ajakan untuk menggunakan perbedaan sebagai alat untuk saling mengenal, bukan untuk saling menjatuhkan. Keberagaman agama memberikan kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih dan kebijaksanaan. Ketika kita mau membuka diri untuk saling mengenal orang lain yang berbeda, kita tidak hanya mengetahui identitas orang-orang tersebut, tetapi juga membantu kita memahami siapa kita sebenarnya dalam konteks kemanusiaan yang lebih luas. Menjadi orang yang beragama di zaman sekarang berarti mampu melihat cahaya Tuhan saat membantu sesama, tanpa memperhatikan tempat ibadah yang mereka gunakan.

Daftar Pustaka

Mario, Mourin Tasya. 2025. “Penafsiran Qs. Al Hujurat Ayat 13 Studi Komparatif Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili Dan Tafsir Al-Azhar Karya Buya Hamka.”

Siregar, Rika Rezky, and M. Jamil. 2024. “Konsep Multikulturalisme Dalam Surah Al-Hujurat Ayat 13 Perspektif Tafsir Ibnu Katsir.” 4.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *