Beranda / Tafsir Kontekstual / Dimensi Psikologi Spiritual dalam Al-Qur’an: Analisis Mekanisme Kesadaran pada Surah Al-A’raf Ayat 201

Dimensi Psikologi Spiritual dalam Al-Qur’an: Analisis Mekanisme Kesadaran pada Surah Al-A’raf Ayat 201

Setiap manusia dibekali oleh Tuhan berupa hawa nafsu dan akal fikiran, sehingga terkadang dua hal ini sering beradu kedudukan dalam diri manusia. Peran Al-Qur’an sebagai Adz-dzikr, menyajikan pola atau mekanisme psikologi kesadaran diri untuk menyadarkan manusia dan memberi peringatan akan kuasa tuhan untuk mengatur segalanya, termasuk jiwa manusia pada dirinya, sehingga dapat disajikan dalam psikologi spiritual untuk mengatasi permasalahan jiwa dan kesadaran mental manusia. Salah satunya terdapat di dalam QS. Al-A’raf ayat 201 yang mengingatkan kepada manusia akan kesadaran diri dalam psikologi spiritual.

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, jika mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat (kepada Allah). Maka, seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).

Ibnu Katsir menjelaskan, pada pemaknaan lafal thaaifun min asyyaithaan ditafsirkan “apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan”, meskipun terdapat dua macam bentuk bacaan yang masyhur pada lafal ini yaitu thaifun dengan tha-ifun. Tentunya hal ini mempengaruhi para ulama dalam menafsirkan. Sebagian ulama’ mengatakan makna lafal tersebut adalah “jika dimasuki syaithan” ada juga yang menafsirkan kemurkaan, serta keinginan berbuat dosa atau perbuatan dosa.

Kemudian penafsiran beliau pada lafadz tadzakkaru yakni mereka mengingat siksaan dan besarnya pahala Allah, janji-janji dan ancaman kepada hamba-hambanya, sehingga mereka langsung bertaubat. Pada lafadz faidzahummubshiruun (maka seketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya), maksudnya yaitu mereka telah istiqamah dan sadar berpegangan teguh pada apa yang mereka jalani. (Ibn Kathir: 201–202)

Beranjak dari tafsir klasik ke modern, tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, menafsirkan ayat ini, lafal thaaifun di sini diambil dari lafal thaafa yang berarti berkeliling. Beliau mengumpamakan layaknya pesawat terbang yang berkeliling mengelilingi langit sebelum mendapat izin mendarat, serta burung yang terbang berkeliling sebelum menerkam mangsanya, dan kebiasaan bangsa Arab terdahulu sebelum menuju tempat kediamannya, berkeliling mengelilingi Ka’bah (thawaf) terlebih dahulu. Penggunaan lafadz ini menunjukkan bahwa bisikan dan godaan setan yang mengelilingi pikiran manusia, sebelum setan berhasil mempengaruhi manusia seutuhnya. (Quraish Shihab: 2002)

Pemaknaan pada tafsir-tafsir di atas memberikan gambaran tiga fase yang berurutan, yaitu fase pemicu, fase peringatan diri, fase pencerahan dan insight, serta berperan sebagai pemberi peringatan kepada manusia untuk senantiasa mengingat Allah Swt

1.Fase Pemicu

    Pada QS. Al-A’raf ayat 201 menggambarkan konsep kesadaran diri yang berurutan dan bertahap, fase ini bermula daripada fase pemicu yang terdapat dalam lafal thaaifun (was-was atau bayang-bayang bisikan dari setan). Dalam psikologi hal ini disamakan dengan distorsi kognitif yang merujuk pada suatu bisikan negative, godaan, ataupun niatan berbuat buruk. Penafsiran Quraish Shihab menjelaskan lafadz thaaifun yang berarti was-was atau bisikan dari setan yakni bisikkan negatif yang mengitari fikiran manusia dan akan barakibat fatal jika sampai pada fase setan dapat menguasai seutuhnya kesadaran atau fikiran manusia itu sendiri.

      Setiap manusia memiliki pengalaman distorsi kognitif yang terjadi pada dirinya, yaitu adanya dorongan dari bisikan negatif yang menyebabkan kesalahan berfikir tidak rasional, sehingga akan menimbulkan banyak pola fikiran yang keliru, berlebih dan tidak rasional secara tidak sadar. (GMC UGM 2024)

      Fase pemicu berupa penyebab distorsi kognitif ini sesuai dengan adanya lafal thaaifun yaitu berupa was-was dari bisikan setan kepada jiwa manusia, yang menjadi penyebab akan munculnya distorsi kognitif atau pikiran tidak rasional dari bisikan setan, yang menyebabkan pemikiran manusia akan berada di luar kesadarannya sehingga menimbulkan banyak kekeliruan pemikiran, dan pengambilan keputusan yang kurang tepat.

      Gangguan-gangguan psikolog pada manusia, banyak di antaranya disebabkan karena distorsi kognitif atau pemikiran manusia secara berlebihan dan tidak rasional, dan jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan satu kebiasaan yang dapat mempengaruhi kondisi emosi manusia, serta termanifestasi dalam perilaku.

      2. Fase Pengingatan Diri

      Fase ini berupa pengalihan perhatian atau attentional shifting yang mengacu pada pengalihan konsentrasi dari satu tugas ke tugas yang lainnya, manusia yang memiliki kecemasan yang lebih besar daripada umumnya, akan lebih sulit untuk melakukan attentional shifting pada dirinya, atau melepaskan diri dari suat ancaman. (Ramos et al. 2022)

      Pengalihan konsentrasi bisa dikarenakan beberapa hal, baik secara disengaja maupun tidak disengaja. Penafsiran lafadz tadzakkaru (mereka mengingat) pada ayat di atas memberikan gambaran mekanisme kesadaran diri berikutnya sebagai attentional shifting dalam penafsiran diatas pula, mufasir menjelaskan perkara yang perlu diingat yaitu akan siksaan dan besarnya pahala dari Allah Swt yang diberikan.

      Pada fase pengingatan diri berupa attentional shifting atau pengalihan perhatian secara disengaja, yang asalnya manusia sedang mengalami gangguan distorsi kognitif sebab terbisik oleh bisikan negatif sehingga muncul kekeliruan dalam berfikir, dan berlebihan dalam berfikir, yang akan menimbulkan dampak fatal bagi manusia dalam menentukan satu keputusan. Kemudian dialihkan dari satu konsentrasi manusia berupa distorsi kognitif kepada attentional shifting berupa mengingat siksaan dan besarnya pahala yang Allah berikan, sehingga manusia teralihkan konsentrasinya kepada mengingat Allah agar mendapat pencerahan, dan kesadaran pada dirinya.

      3. Fase Pencerahan dan Insight

      Fase terakhir pada mekanisme kesadaran diri manusia terjadi pada momen insight atau pencerahan yang manusia dapat seketika, dengan hal ini sama halnya ketika manusia telah menemukan jalan keluar seketika dalam permasalahan yang sedang dialaminya.

      Lafal faidzaahumubshiruun (maka seketika itu mereka melihat kesalahan-kesalahannya).Dalam makna penafsiran mengenai objek yang dilihat dalam makna ini ialah momen insight atau pencerahan bagi manusia setelah mengalami bisikan negatif dari setan yang dapat memicu kemunculan distorsi kognitif dan melakukan attentional shifting. Sebagai bentuk respon tindakan manusia seketika langsung mengingat kesadaran mereka dengan mengingat sang kuasa, lalu memperoleh hasil dari puncak mekanisme kesadaran diri manusia pada insight momen ini.

      Pernyataan Quraish Shihab dalam penafsirannya, suatu godaan dan bisikkan setan diibaratkan seperti kegelapan, sedangkan mengingat Allah diibaratkan layaknya penglihatan yang mengarah pada cahaya. Bisikan setan, disingkirkan oleh takwa, karena setan tidak punya kuasa terhadap orang-orang bertakwa. Dengan menyadari distorsi kognitif yang terjadi pada diri manusia, lalu melakukan respon yang tepat sehingga menghasilkan momen insight yang baik pula, manusia akan jauh lebih bisa berfikir jernih dalam mengambil Keputusan disaat kondisi yang hampir membuat manusia sendiri akan keliru karena bisikan atau dorongan negative yang menyebabkan distorsi kognitif dari setan.

      Dengan demikian dalam masalah psikologi manusia ternyata Al-Qur’an hadir dengan menyajikan banyak penjelasan, peringatan, serta menjadi Penawar dari segala permasalahan dan gangguan pada manusia, termasuk dalam psikologi, dengan menyajikan psikologi spiritual berdasarkan pada Al-Qur’an, mengikuti anjuran, perintah, dan larangan Allah Swt, manusia akan jauh lebih mampu untuk mengendalikan dirinya baik dalam mengatur emosi, dan lebih jernih dalam pemikiran serta mengambil Keputusan.

      Mekanisme dalam QS. Al-A’raf ayat 201 memiliki ketepatan yang sesuai dalam bidang keilmuan psikologi spiritual dalam mekanisme kesadaran manusia menghadapi pemicu distorsi kognitifnya memberikan Gambaran pola mekanisme psikologi spiritual kesadaran diri pada jiwa manusia secara jelas dan berurutan, berawal dari munculnya bisikan yang menyebabkan distorsi kognitif lalu mengatasi dengan attentional shifting, sehingga memperoleh puncak pada kesadaran diri manusia sendiri, untuk tetap jernih dalam berpikir, berperilaku, serta mengambil keputusan.

      Referensi

      Ibn Kathir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Beirut: Dar Thayyibah, 1999.

      Ramos, Michelle L., et al. “The role of attentional shifting in the relation between error monitoring and anxiety in youth.” Psychiatry Research: Neuroimaging 324 (2022): 111507.

      Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jilid 5. Jakarta: Lentera Hati, 2002.

      Tag:

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *