Relasional antara laki-laki dan perempuan sering memperlihatkan pola pengalaman emosional yang berbeda. Dalam banyak kasus, perempuan cenderung lebih lama menyimpan pengalaman interpersonal dibanding laki-laki. Detail percakapan, perhatian kecil, maupun interaksi yang tampak sederhana dapat bertahan lama dalam memori emosional perempuan. Sebaliknya, laki-laki sering kali tampak lebih cepat kembali pada rutinitas dan orientasi aktivitas setelah suatu pengalaman relasional terjadi.
Fenomena ini kerap dipahami secara simplistis sebagai bentuk sensitivitas berlebihan pada perempuan. Padahal, dalam kajian psikologi modern, terdapat sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kecenderungan elaborasi afektif yang lebih mendalam dalam memproses pengalaman relasional. Perempuan umumnya lebih kuat dalam emotional memory, yaitu kemampuan menyimpan dan mengingat pengalaman yang memiliki muatan emosional. Selain itu, perempuan juga memiliki kecenderungan rumination yang lebih tinggi, yakni proses mengulang dan mengelaborasi kembali pengalaman emosional secara terus-menerus di dalam pikiran.
Fenomena tersebut berkaitan erat dengan konsep attachment atau keterikatan emosional. Attachment, manusia membangun kedekatan psikologis melalui pengalaman relasional yang menghadirkan rasa aman, perhatian, dan penghargaan. Namun, cara laki-laki dan perempuan mengalami serta memproses keterikatan tersebut tidak selalu identik sama.
Perempuan cenderung lebih elaboratif dalam membangun makna relasional, sedangkan laki-laki dalam banyak penelitian menunjukkan kecenderungan lebih compartmentalized dalam memproses pengalaman emosional, yakni menempatkan pengalaman relasional dalam ruang psikologis yang terpisah dari aspek kehidupan lainnya. Dengan demikian, perbedaan pengalaman relasional antara laki-laki dan perempuan tidak semata-mata dapat dipahami sebagai persoalan kepribadian individual, melainkan juga berkaitan dengan kecenderungan psikologis yang lebih luas.
Dalam perspektif neuropsikologi, pengalaman relasional personal dan intimasi cenderung melibatkan aktivasi sistem neuro-afektif seperti amygdala, hippocampus, dan limbic system. Amygdala berperan dalam pengolahan emosi, terutama pengalaman yang memiliki intensitas afektif tertentu. Sementara hippocampus berfungsi dalam pembentukan dan penyimpanan memori, termasuk memori emosional.
Keduanya merupakan bagian dari limbic system, yaitu sistem otak yang berkaitan dengan emosi, keterikatan interpersonal, dan pengalaman afektif manusia. Maka pengalaman interpersonal lebih mudah tersimpan sebagai emotional memory sehingga perempuan cenderung memiliki elaborasi afektif yang lebih kuat dalam memproses pengalaman relasional, sedangkan laki-laki lebih cepat mengalihkan fokus pada orientasi peran, tujuan, dan aktivitas lainnya.
Dalam kajian affective neuroscience, pengalaman emosional tidak hanya dipahami sebagai fenomena psikologis abstrak, tetapi juga sebagai proses neurokognitif yang melibatkan kerja memori, emosi, dan pengalaman sosial secara bersamaan. Oleh karena itu, pengalaman relasional personal sering kali memiliki dampak psikologis yang lebih kuat dibanding interaksi profesional biasa. Pengalaman interpersonal yang melibatkan perhatian, pengakuan, atau kedekatan emosional lebih mudah tersimpan dalam memori afektif manusia dibanding pengalaman yang bersifat administratif atau fungsional semata.
Diferensiasi pengalaman emosional utamanya tampak dalam ranah relasional personal dan intimasi, bukan dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia. Dalam ruang profesional, akademik, dan intelektual, laki-laki dan perempuan dapat menunjukkan kapasitas rasional serta kompetensi yang setara Konteks profesional umumnya lebih menuntut fungsi kognitif rasional seperti pengambilan keputusan, orientasi tujuan, dan penyelesaian masalah (executive function yang meliputi pengambilan keputusan, mengatur kefokusan, mengendalikan emosi dan perilaku, menyusun prioritas, serta menyelesaikan masalah secara rasional), sehingga diferensiasi pengalaman emosional laki-laki dan perempuan tidak selalu tampak secara signifikan.
Sebaliknya, dalam pengalaman interpersonal yang melibatkan keterikatan emosional dan relasi intimasi, diferensiasi psikologis tersebut menjadi lebih terlihat. Pengalaman relasional bagi perempuan sering kali tidak berhenti sebagai interaksi sosial biasa, tetapi berkembang menjadi pengalaman afektif yang lebih mendalam. Perihal ini menjadikan pengalaman relasional tidak hanya diproses sebagai peristiwa sosial, melainkan juga sebagai pengalaman emosional yang membentuk memori psikologis. Itulah mengapa sebagian pengalaman interpersonal dapat bertahan lama dalam pengalaman batin pada pihak perempuan, meskipun secara sosial relasi tersebut tampak sederhana.
Perdebatan mengenai relasi laki-laki dan perempuan dalam Islam menjadi menarik untuk dibaca kembali. Sebagian pembacaan keagamaan memahami perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai bentuk inferioritas perempuan secara universal. Hadis-hadis seperti naqishāt ‘aql wa dīn atau metafora perempuan sebagai “tulang rusuk” kerap dipahami sebagai legitimasi bahwa perempuan lebih rendah secara intelektual maupun sosial dibanding laki-laki. Di sisi yang berseberangan, sebagian wacana kesetaraan modern justru bergerak pada penghapusan hampir seluruh diferensiasi laki-laki dan perempuan atas nama kesetaraan.
Padahal, mengakui diferensiasi pengalaman manusia tidak selalu berarti menerima subordinasi salah satu jenis kelamin. Dalam konteks psikologi relasi, laki-laki dan perempuan dapat memiliki kecenderungan emosional yang berbeda tanpa harus diposisikan secara hierarkis. Karena itu, problem utama sering kali terletak bukan pada teks keagamaan itu sendiri, melainkan pada generalisasi penafsiran yang diterapkan ke seluruh aspek kehidupan manusia.
Maka Al-Qur’an menjadi menarik untuk dibaca melalui pendekatan tafsir-psikologis. Allah berfirman:
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَى
“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.” (QS. Ali ‘Imran: 36)
Ayat ini hadir dalam kisah istri Imran yang bernazar menyerahkan anaknya untuk berkhidmat di Baitul Maqdis. Nazar tersebut pada mulanya dibayangkan akan dipikul oleh anak laki-laki, mengingat tradisi pelayanan religius saat itu lebih dekat dengan laki-laki. Namun, Allah justru menghadirkan Maryam binti Imran sebagai perempuan.
Dalam tafsir klasik, ayat tersebut umumnya dipahami dalam aspek biologis dan sosial. Namun, pembacaan terhadap ayat ini tidak harus berhenti pada dimensi tersebut. Frasa “dan laki-laki tidaklah seperti perempuan” juga membuka kemungkinan pembacaan yang lebih luas mengenai diferensiasi pengalaman manusia, termasuk dalam aspek psikologis dan relasional.
Dalam perspektif psikologi relasi, diferensiasi tersebut dapat dibaca pada cara laki-laki dan perempuan mengalami keterikatan emosional, memproses pengalaman interpersonal, serta memaknai relasi personal dan intimasi. Perempuan dalam banyak kajian psikologi memiliki kecenderungan elaborasi afektif yang lebih mendalam. Pengalaman relasional sering kali tidak berhenti sebagai peristiwa sosial biasa, tetapi berkembang menjadi memori emosional yang bertahan lama dalam pengalaman batin. Sebaliknya, laki-laki cenderung lebih terfokus pada stabilitas fungsi dan orientasi tujuan dalam relasi.
Dengan demikian, Q.S. Āli ‘Imrān ayat 36 tidak harus dipahami sebagai bentuk superioritas laki-laki atas perempuan, melainkan sebagai pengakuan Al-Qur’an terhadap diferensiasi pengalaman manusia. Diferensiasi tersebut bersifat relasional dan kontekstual, bukan hierarkis. Dengan demikian, pendekatan tafsir-psikologi dapat menjadi salah satu jalan untuk membaca ayat-ayat maupun hadis tentang perempuan secara lebih kontekstual. Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan aspek normatif teks, tetapi juga mempertimbangkan pengalaman batin, dinamika relasional, dan kompleksitas psikologis manusia. Melalui pembacaan semacam ini, relasi laki-laki dan perempuan dapat dipahami secara lebih empatik, proporsional, dan relevan dengan pengalaman masyarakat kontemporer.
Referensi:
Bowlby, John. Attachment and Loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books, 1969.
https://www.simplypsychology.org/attachment.html?utm_source=chatgpt.com
Canli, T., Desmond, J. E., Zhao, Z., & Gabrieli, J. D. E. “Sex Differences in the Neural Basis of Emotional Memories.” Proceedings of the National Academy of Sciences 99, no. 16 (2002): 10789–10794. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC125046/?utm_source=chatgpt.com
Ibn Kathīr, Ismā‘īl ibn ‘Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir Q.S. Āli ‘Imrān: 36.
Nolen-Hoeksema, Susan. “The Role of Rumination in Depressive Disorders and Mixed Anxiety/Depressive Symptoms.” Journal of Abnormal Psychology 109, no. 3 (2000): 504–511.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3786159/?utm_source=chatgpt.com
Shihab, M. Quraish. Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, 2002.









