I‘jāz ‘ilmī dan konsep ghaib ḥāḍir merupakan dua pendekatan yang saling berkaitan dalam memahami ayat-ayat kauniyyah Al-Qur’an. I‘jāz ‘ilmī dipahami sebagai isyarat Al-Qur’an terhadap realitas alam yang baru dapat dipahami secara lebih jelas melalui perkembangan ilmu pengetahuan, sedangkan ghaib ḥāḍir merujuk pada pemberitaan wahyu tentang suatu realitas yang pada masa turunnya Al-Qur’an belum diketahui manusia, namun kemudian hadir dan terverifikasi dalam kenyataan.
Kedua konsep ini menegaskan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak terikat oleh batasan ruang dan waktu, melainkan bersifat lintas generasi dan konteks keilmuan. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Naḥl ayat 15,
وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ
Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.
Ayat ini menggambarkan bentuk i‘jāz melalui penjelasan tentang fungsi gunung, sungai, dan jalan-jalan di bumi, menunjukkan bahwa gunung diletakkan sebagai penstabil bumi agar tidak mengalami guncangan yang membahayakan kehidupan manusia. Secara kebahasaan, penggunaan kata alqā dan rawāsiya mengandung makna penanaman yang kokoh dan stabil, sementara kata tamīda menunjukkan pencegahan terhadap ketidakstabilan, bukan penafian gerak bumi secara mutlak.
Pada masa pewahyuan, makna fungsional gunung ini belum dapat dipahami secara ilmiah, sehingga informasi tersebut berada dalam wilayah ghaib relatif terhadap pengetahuan manusia. Seiring berkembangnya ilmu geografi dan geologi, fungsi gunung dalam menjaga keseimbangan struktur bumi menjadi bagian dari pengetahuan empiris yang dapat dijelaskan secara rasional.
Peralihan pemahaman dari yang semula tidak diketahui menuju dapat dipahami inilah yang menunjukkan konsep ghaib–ḥāḍir dalam ayat tersebut. Dengan demikian, QS. An-Naḥl ayat 15 memperlihatkan i‘jāz ‘ilmī Al-Qur’an secara proporsional, yakni melalui kesesuaian antara redaksi wahyu dan realitas alam tanpa menjadikan Al-Qur’an bergantung pada teori ilmiah tertentu. Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an menyampaikan kebenaran kosmik dengan bahasa yang presisi dan tetap relevan dalam berbagai perkembangan keilmuan.
Hubungan Gunung, Sungai, dan Jalan
Dalam QS. An-Nahl: 15 Allah juga menyebutkan sungai dan jalan. Secara geografi, pegunungan adalah reservoir air alami yang mengalirkan sungai ke dataran rendah. Gunung juga membentuk lembah yang menjadi “jalan” bagi mobilitas manusia. Hal ini menunjukkan keterpaduan ekosistem bumi.
Kesimpulan Berdasarkan analisis
QS. An-Nahl: 15 Merupakan bukti mukjizat ilmiah yang luar biasa. Konsep Rawasiya selaras dengan hukum Isostasi geologi modern. Fenomena ini masuk dalam kategori Ghaib Hadir, di mana Allah menyingkap rahasia alam yang ghaib di balik benda yang hadir secara fisik di depan mata manusia.
QS. An-Nahl ayat 15 sejak awal telah dipahami oleh para mufassir sebagai ayat yang menegaskan fungsi gunung dalam menjaga kestabilan bumi. Dalam tafsir klasik, Ibn Jarir al-Tabari menjelaskan bahwa lafadz rawāsiya menunjukkan gunung-gunung yang “ditancapkan” oleh Allah agar bumi tidak berguncang dan kehidupan manusia dapat berlangsung dengan tenang. Pemahaman ini menegaskan bahwa gunung tidak diposisikan sekadar sebagai elemen geografis visual, melainkan sebagai bagian dari sistem kosmik yang memiliki fungsi penyeimbang.
Sejalan dengan itu, Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan QS. An-Nahl ayat 15 dengan pendekatan kontekstual, di mana gunung dipahami sebagai fondasi infrastruktur alami yang menopang kehidupan manusia. Gunung berperan sebagai sumber air, pembentuk alur sungai, serta penentu jalur perjalanan dan mobilitas manusia. Perspektif ini menunjukkan bahwa ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang fenomena alam, tetapi juga keterpaduan sistem ekologis dan geografis yang menunjang peradaban.
Pemahaman tafsir ini menjadi landasan penting dalam membaca konsep Ghaib Hadir, di mana fungsi gunung telah disadari secara maknawi oleh para mufassir, sementara mekanisme internalnya baru dapat dijelaskan melalui sains modern.
Daftar Pustaka
Az-Zindani, A. M. (1995). Mukjizat ilmiah dalam Al-Qur’an. Pustaka Antar Nabi.
Ghianovan, J. (2023). Furgensi Infrastruktur dalam Surat An-Nahl Ayat 15 menurut Ibn Jarir Al-Tabari dan Hamka. Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir, 3(1), 56–65










Satu Komentar
Keren banget artikelnya. Cara mengaitkan geomorfologi, dinamika litosfer, dan QS. An-Nahl ayat 15 dalam perspektif i’jaz ilmi ini jarang dibahas sedalam ini. Nggak cuma religi atau sains doang, tapi dua-duanya nyatu dengan logis. Respect buat penulisnya 👏