Beranda / Metodologi Tafsir / Reinterpretasi QS. Al-Muddatstsir Ayat 1: Perspektif Neurokognitif, Memori Historis dan Hermeneutika Intertekstual Abdullah Galadari

Reinterpretasi QS. Al-Muddatstsir Ayat 1: Perspektif Neurokognitif, Memori Historis dan Hermeneutika Intertekstual Abdullah Galadari

Krisis pembacaan atas dimensi korporal dalam peristiwa wahyu: Tradisi eksegesis klasik dalam mengontekstualisasikan QS. Al-Muddatstsir ayat 1 secara ajeg menempatkan fenomena “gemetar” dan “berselimut” sekadar artikulasi psikologis yang bersifat spontan. Pembacaan konvensional tersebut cenderung menafikan eksistensi tubuh itu sendiri, memosisikan aspek korporal sebagai latar belakang pasif ketimbang subjek yang inheren dalam peristiwa turunnya wahyu.

Impak dari pengabaian ini adalah absennya analisis mendalam terhadap manifestasi neurokognitif Rasulullah sewaktu berinteraksi dengan firman ilahi, padahal pengalaman fisis-biologis tersebut menyimpan data epistemis yang krusial bagi bangunan hermeneutika Al-Qur’an kontemporer. Melalui proyek akademisnya, Abdulla Galadari menginisiasi inversi radikal terhadap logika arus utama tersebut.

Dalam perspektif Galadari, tubuh yang menggigil tidak boleh direduksi sebagai anomali fisis yang mengonfrontasi pesan spiritual, melainkan harus dibaca sebagai medium material kedatangan wahyu itu sendiri.(Galadari, 2018: 45-72)  Dengan mengintegrasikan pendekatan multidisipliner yang mempertemukan neurosains, memori religius, dan korpus tekstual Biblikal.

Galadari mendekonstruksi kemapanan tafsir terdahulu seraya mengajukan sebuah problematisasi kritis: mungkinkah sensasi “gemetar” tersebut merupakan rekaman literal Al-Qur’an mengenai benturan dialektis antara kesadaran neuro-psikologis manusia dan realitas transendental?

Otentisitas Pengalaman Numinus dan Regulasi Fisiologis Tubuh Nabi

Dalam merekonstruksi fenomena korporal Rasulullah, Galadari mengontekstualisasikannya melalui studi neurosains mengenai aktivasi amigdala (amygdala activation) dan respons keterkejutan (startle response) (LeDoux, 2000). Sewaktu transendensi wahyu menerpa, sistem limbik manusia secara biologis tidak mendisparitaskan antara ancaman fisis yang mengancam eksistensi dan kedatangan entitas malaikat; manifestasi yang diproduksi tetap berupa guncangan fisis (tremor) serta lonjakan tekanan darah secara drastis.

Indikasi fisiologis ini sekaligus mematahkan bias reduksionistik kaum orientalis yang kerap melabeli peristiwa tersebut sebagai gejala histeria (hysteria). Sebaliknya, respons somatik ini justru menjadi indikator objektif atas otentisitas pengalaman numinus yang dialami oleh subjek. (Galadari, 2019: 23-48) Melalui pembacaan neurobiologis ini, terma muddaththir mengalami pergeseran makna yang fundamental.

Kata tersebut tidak lagi mandek sebagai sebatas metafora tekstual mengenai tindakan berselimut, melainkan beralih fungsi sebagai pemenuhan kebutuhan mekanis-fisiologis guna menstabilkan kembali sistem saraf yang sedang mengalami guncangan hebat. Galadari menegaskan postulatnya: “Tubuh tidak berbohong saat berhadapan dengan Yang Absolut.”

Model pembacaan relasional ini berhasil menyelamatkan transendensi pengalaman kenabian dari jebakan reduksionisme sekuler yang profan, sekaligus mengoreksi kecenderungan spiritualisasi berlebihan (overspiritualization) yang sering kali menafikan realitas biologis kedagingan manusia.

Genealogi Transposisi Prophetic Mantle dan Transformasi Diskursif Al-Qur’an

Dalam upaya melacak akar semantiknya, Galadari menelusuri genealogi terma muddaththir ke dalam konstelasi tradisi jubah kenabian (prophetic mantle) yang bersiklus kuat di lingkungan Yahudi serta Kekristenan perdana. Narasi-narasi apokrif seperti Ascension of Isaiah maupun fragmen historis mengenai kitab Nabi Yeremia secara ajeg melukiskan performativitas para utusan dalam kondisi “terbungkus kain” atau “diselimuti awan” sewaktu mengalami ekstase teofani.

Fenomena korespondensi ini sama sekali tidak mengindikasikan adanya plagiarisme linier, melainkan menunjukkan sebuah kesadaran intertekstual bahwa bahasa tubuh kenabian merupakan warisan teologis bersama (common heritage) dalam sirkuit monoteisme Late Antiquity. (Charles, 1913) Melalui rekonstruksi historis-filologis tersebut, teks Al-Qur’an tidak sedang diisolasi dari ekosistem kultural yang melahirkannya, melainkan diposisikan secara tepat sebagai artikulasi korektif sekaligus penyempurna wacana.(Neuwirth, 2010)

Sewaktu frasa yā ayyuhā al-muddaththir diwacanakan, Al-Qur’an sejatinya sedang mengoperasikan komunikasi teologis menggunakan bahasa sakral (lingua sacra) yang telah akrab di telinga audiens awal. Kendati demikian, intervensi imperatif melalui maklumat “bangun dan beri peringatan” (qum fa-andhir) bertindak sebagai disrupsi radikal yang memotong tradisi pasivitas mistis terdahulu, sekaligus mengonversi getaran fisis somatik menjadi sebuah maklumat aksi revolusioner di ruang publik.

Polisemi Intertekstual dan Kontinuum Diskursif Wahyu

Dalam mendekonstruksi teori intertekstualitas konvensional, Galadari meluncurkan negasi terhadap model pengaruh satu arah (one-way influence). Sebagai antitesis, ia mengonseptualisasikan gagasan polisemi intertekstual (intertextual polysemy), sebuah mekanisme di mana Al-Qur’an secara simultan mengaktivasi memori semantik dari tradisi skriptural terdahulu sekaligus memproduksi cakrawala makna baru yang independen.(Galadari, 2013: 35-56)

Di dalam konfigurasi QS al-Muddaththir [74]:1, gema tekstual dari Yehezkiel 1:28 mengenai performativitas nabi yang jatuh tersungkur serta Daniel 10:8 perihal hilangnya kekuatan fisis manusia di hadapan entitas sakral hadir sebagai hipogram, namun kehadirannya tidak bersifat mengikat (non-binding).

Resonansi lintas tekstual ini, dalam pembacaan Galadari, dioperasikan sebagai strategi retoris Al-Qur’an untuk mengukuhkan identitas bahwa pengalaman kenabian Muhammad berada dalam satu garis kontinuum wahyu ilahi (continuum of divine revelation). Kendati demikian, manifestasi tubuhnya yang menggigil hebat justru bertindak sebagai penanda ontologis bahwa risalah ini bukanlah sebuah replikasi mekanis dari masa lalu.

Fenomena ini merangkum sebuah paradoks: “Guncangan fisis yang sama, tetapi memancarkan maklumat teologis yang berbeda.” Model hermeneutika relasional yang diajukan Galadari ini tampil sangat rigid karena berani menolak klaim superioritas teologis yang eksklusif, tanpa harus menafikan adanya utang historis (historical debt) terhadap korpus keagamaan yang mengondisikannya.(Reynolds, 2024: 142-163)

Rekonsiliasi Epistemis: Integrasi Fenomenologi Sains dan Sakralitas Teks

Salah satu kontribusi diskursif yang paling provokatif dari Galadari adalah dekonstruksi radikal terhadap dikotomi biner yang selama ini memisahkan antara “tafsir ilmiah” (scientific exegesis) dan “tafsir spiritual” (spiritual exegesis).(Ismail & Asnawi, 2021) Ia membuktikan bahwa instrumen sains modern sama sekali tidak mendegradasi dimensi mukjizat wahyu; sains justru memperkaya cakrawala epistemis manusia mengenai mekanika penyerapan firman transendental oleh kapasitas biologis manusia biasa.

“Tidak ada penghinaan dalam mengatakan bahwa tubuh Rasul bekerja sesuai hukum alam,” tulisnya, menegaskan bahwa hukum fisis adalah saluran yang sengaja disediakan guna menampung aktualitas metafisis. Melalui lompatan teoretis ini, QS. Al-Muddaṡṡir: 1 bertransformasi dari sekadar narasi historis yang beku menjadi sebuah model fenomenologis yang dinamis mengenai bagaimana anatomi manusia berinteraksi dengan Yang Ilahi.

Setiap pembaca Al-Qur’an diundang untuk tidak mengalienasi pengalaman korporalnya sendiri saat mengonsumsi teks suci, sebab dalam momen-momen tertentu, wahyu beroperasi dengan mengguncang kesadaran manusia secara subtil. Hermeneutika yang digagas oleh Galadari pada akhirnya membuka peta jalan (roadmap) bagi lahirnya metodologi tafsir kontemporer yang berani, adaptif terhadap validitas data empiris, namun tetap takzim dalam menjaga sakralitas teks.

Konklusi: Reorientasi Epistemis dan Performa Tubuh sebagai Bahasa Universal Wahyu

Galadari berhasil membuktikan secara rigid bahwa manifestasi tubuh yang menggigil di dalam QS. Al-Muddaṡṡir: 1 tidak boleh diidentifikasi sebagai sebuah aib fisiologis ataupun kelemahan psikologis, melainkan merupakan indikator objektif atas otentisitas interaksi vertikal manusia dengan entitas transendental.

Melalui integrasi multidisipliner yang mempertemukan neurosains, sejarah agama-agama, dan analisis teks Biblikal, ia mengonstruksi sebuah kerangka hermeneutika yang kompleks dan relasional tanpa sedikit pun mendegradasi fokus utama pada korpus tekstual Al-Qur’an. Walhasil, performativitas “berselimut” mengalami reposisi makna secara radikal: ia tidak lagi dinilai sebagai bentuk eskapisme atau pelarian dari realitas, melainkan dipahami sebagai fase regulasi fisiologis sekaligus inkubasi spiritual menuju artikulasi aksi di ruang publik.

Konseptualisasi ini, kendati dipaparkan secara ekstensif, hendak menegaskan sebuah postulat akademik bahwa studi Al-Qur’an kontemporer tidak dapat lagi mengisolasi diri dari temuan lintas disiplin ilmiah. Galadari memancangkan sebuah eksemplar teoretis mengenai bagaimana seorang sarjana Muslim mampu mengoperasikan sirkulasi wacana menggunakan bahasa modern yang berbasis data empiris, tanpa harus mengkhianati orisinalitas tradisi eksegesis Islam.

Dalam cakrawala interpretasi yang baru ini, fenomena “gemetar” bertransformasi menjadi sebuah bahasa universal yang merekam secara literal momen benturan eksistensial antara yang fana (the immanent) dan yang kekal (the transcendent).

Referensi

Charles, R. H. (1913). The Apocrypha and Pseudepigrapha of the Old Testament. Amazon Crossing.

Galadari, A. (2013). The Role of Intertextual Polysemy in Qur’anic Exegesis. International Journal on Quranic Research (IJQR), 3.

Galadari, A. (2018). Qur’anic Hermeneutics: Between Science, History, and the Bible (London). Bloomsbury Academic.

Galadari, A. (2019). The Body Does Not Lie: Neurobiological Authenticity of Prophetic Experience. SSRN (Social Science Research Network).

Ismail, A. T., & Asnawi, A. R. (2021). Scientific Approach in Quranic Exegesis : The Emergence and Issues. Journal of Contemporary Islamic Studies.

LeDoux, J. E. (1996). The Emotional Brain: The Mysterious Underpinnings of Emotional Life. Simon & Schuster.

Neuwirth, A. (2010). The Qur’an and Late Antiquity: A Shared Heritage. Oxford University Press.

Reynolds, G. S. (2024). Paradox in the Qurʾān. Journal of the International Qur’anic Studies Association.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *