Dalam sejarah panjang para nabi, tongkat selalu menjadi benda yang senantiasa menjadi teman dalam menyiarkan agama Islam. Tidak sedikit dari para nabi yang selalu menggunakan tongkah. Bahkan Nabi Saw. menggunakan tongkat dalam menyebarkan ajaran Islam. Nabi Musa as. salah satu yang memiliki tongkat yang secara spesifik disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai media dialog antara dirinya dengan Tuhannya. Sebelum menjelaskan lebih lanjut kisah Nabi Musa as. dan tongkat miliknya, kita harus paham apa makna tongkat itu sendiri? Dan bagaimana kita mengambil ibrah dari kisah tersebut?
Perlu dipahami bahwa tongkat tersebut ternyata tidak hanya digunakan oleh yang berusia lanjut, bahkan al-Syāfi’ī waktu masih muda sudah menggunakan tongkat dalam setiap perjalanannya. Meskipun hanya terbuat dari kayu, tongkat bisa dijadikan sebagai alat untuk menemani seseorang untuk mencari dan mendapatkan jalan kebenaran (Syamsuri, Tafsir di Era Revolusi Industri 4.0: 2021).
Al-Qur’an membicarakan Mukjizat Tongkat Nabi Musa
Al-Qur’an memberikan keterangan mengenai istilah tongkat Nabi Musa as. yang menunjukkan suatu simbol untuk menunjuk jalan yang benar. Tongkat ibaratkan seperti kompas yang tegak dan lurus menunjukkan bahwa dalam hidup ini, manusia akan senantiasa dihadapkan kepada dua persoalan yang bertolak belakang dalam menjalani kehidupan, dan bagaimana kita harus bersikap lurus.
Salah satu ayat yang relevan dengan hal ini adalah QS. Al-A’rāf/ 7 ayat 117-118 yang berbunyi:
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَلْقِ عَصَاكَۚ فَاِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَۚ ١١٧ فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَۚ
Dan Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka. Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia.
Ketika itu juga Allah wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu” Maka seketika itu juga dia melemparkannya, lalu berubah menjadi ular sehingga menelan dengan sangat cepat ular ular para penyihir, dan apa yang para penyihir lakukan merupakan kebohongan yakni sihir (Quraish, 2024: 142-123).
Disisi lain, tongkat merupakan lambang “prinsip” yaitu manusia sebagai musafir di dunia ini harus mempunyai pegangan dan prinsip yang kuat, menjadi pribadi yang memberikan banyak manfaat kepada orang lain. Prinsip itu yang akan melawan segala bentuk penyimpangan dan memusnahkan segala bentuk kekufuran yanga ada di bumi.
Secara eksplisit, Al-Qur’an mengabdikan dialog antara Tuhan dengan Nabi Musa, sebagaimana dikatakan dalam firman Allah yang terdapat dalam QS. Ṭāhā/ 20: 17-21:
وَمَا تِلْكَ بِيَمِيْنِكَ يٰمُوْسٰى١٧ قَالَ هِيَ عَصَايَۚ اَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَاَهُشُّ بِهَا عَلٰى غَنَمِيْ وَلِيَ فِيْهَا مَاٰرِبُ اُخْرٰى١٨ قَالَ اَلْقِهَا يٰمُوْسٰى١٩ فَاَلْقٰىهَا فَاِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعٰى٢٠ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْۗ سَنُعِيْدُهَا سِيْرَتَهَا الْاُوْلٰى٢١
”Dan apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? ” Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” Dia (Allah) berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Dia (Allah) berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.
Ayat tersebut merupakan dialog antara Tuhan dengan Nabi Musa as. di saat Tuhan menanyakan kepadanya tentang apa yang ada di tangan kanannya. Untuk jawab pertanyaan Tuhan tersebut sebenarnya cukup dengan menjawab, “ Ini adalah tongkat”, tapi ternyata jawaban Nabi Musa as. panjang dan lebar, berikut jawaban tersebut:
“Ini adalah tongkat, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”, ujar Nabi Musa.
Menurut para paka tafsir bahwa ayat ini menunjukkan bahwa betapa senangnya seorang hamba jika berdialog dengan Tuhannya, ia ingin berlama-lama dalam dialognya.
Dalam ulasan tersebut bahwa panjang tongkat Nabi Musa as. sekitar 10 hasta dan memiliki dua cabang yang merupakan salah satu mukjizat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Awalnya, tongkat Nabi Musa sebagai alat untuk bertumpu ketika perjalanan dan hanya tongkat tersebut digunakan untuk mengembala kambing. Akan tetapi, Allah menghendaki tongkat Nabi Musa as. memiliki nilai mukjizat yang multifungsional.
Tongkat Nabi Musa: Suatu Trik Sulap atau Kekuatan Ilahiah? Pandangan James Randi
James Randi menegaskan bahwa tongkat menjadi ular dengan trik tonic immobility, yaitu hewan ada yang menjadi kaku. Trik seperti ini bahkan oleh orang-orang Afrika Utara dan Timur Tengah. Bahwa sulap tersebut sudah ada sebelumnya di zaman Mesir Kuno.
Seni sulap menggunakan ketangkasan tangan, peralatan khusus, teknologi rahasia, metode psikologis yang dipelajari secara cermat, serta berbagai teknik ilusi itu untuk menyajikan sebuah efek kepada penonton dengan tujuan menghibur yang memicu rasa sensasi seolah-olah sihir nyata benar-benar terjadi. (J. Randi)
Trik sulap tersebut ada pada di zaman Mesir Kuno, sehingga Nabi Musa as. yang dibesarkan dalam kerajaan Mesir Kuno, sehingga menemukan trik sulap berupa trik tali dan tongkat-tongkat yang digunakan oleh para penyihir Fir’aun. Sihir memang ada atas izin Allah. Al-Qur’an memberikan penjelasan mengenai trik sihir tersebut:
قَالَ بَلْ اَلْقُوْاۚ فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى٦٦
Dia (Musa) berkata, “Silakan kamu melemparkan!” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka. (QS. Ṭāhā/ 20: 66)
Referensi:
Randi, J. 1982. The truth about Uri Geller. Prometheus Books.
Shihab, M. Qurasih. 2024. Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an. Tangerang Selatan: Penerbit Lentera Hati.
Syamsuri. 2020. Tafsir di Era Revolusi Industri 4.0. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.









