Beranda / Nalar Times / Duta Besar Iran Bahas Geopolitik Dunia Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

Duta Besar Iran Bahas Geopolitik Dunia Islam di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta

Jakarta — Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Studium Generale bertajuk “Islam and Current Geopolitics: Challenges, Realities, and the Muslim World’s Strategic Position” pada Kamis (21/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di ruang Teater H.A.R. Partosentono Fakultas Ushuluddin itu menghadirkan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, sebagai pembicara utama.

Acara tersebut dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Prof. Ismatu Ropi, M.A., Ph.D., jajaran pimpinan fakultas, dosen, mahasiswa, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan akademik. Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka mengenai posisi dunia Islam di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Dalam sambutannya, Prof. Ismatu Ropi menegaskan pentingnya menghadirkan diskursus internasional di lingkungan kampus agar mahasiswa memiliki cara pandang yang lebih luas terhadap isu-isu global.

“Mahasiswa agar tidak hanya memahami keislaman secara normatif, tetapi juga kontekstual dan responsif terhadap realitas dunia internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Mohammad Boroujerdi dalam pemaparannya menyoroti berbagai tantangan geopolitik yang dihadapi dunia Islam saat ini, mulai dari konflik kawasan Timur Tengah, rivalitas kekuatan global, hingga persoalan ketidakstabilan politik internasional yang berdampak langsung terhadap negara-negara Muslim.

Ia menjelaskan bahwa dunia Islam memiliki potensi besar dari sisi sumber daya alam, populasi, hingga posisi geografis strategis. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu diwujudkan menjadi kekuatan global karena masih lemahnya solidaritas dan kerja sama antarnegara Muslim.

Menurutnya, isu sektarian Sunni dan Syiah masih kerap digunakan sebagai alat politik untuk menciptakan konflik dan melemahkan kekuatan dunia Islam. Ia menegaskan bahwa perbedaan mazhab seharusnya tidak menjadi alasan perpecahan, melainkan bagian dari khazanah intelektual dalam tradisi Islam.

“Banyak pihak yang mencoba memanfaatkan isu Sunni dan Syiah untuk memecah belah umat Islam. Padahal, dunia Islam membutuhkan persatuan untuk menghadapi tantangan global,” ungkapnya dalam forum tersebut.

Boroujerdi juga menyinggung isu Palestina dan berbagai konflik kemanusiaan di Timur Tengah sebagai tantangan besar yang membutuhkan perhatian bersama dunia internasional. Ia menilai umat Islam perlu membangun kesadaran kolektif berbasis pendidikan, diplomasi, dan penguatan kapasitas intelektual generasi muda.

Dalam forum tersebut, mahasiswa turut aktif mengajukan berbagai pertanyaan terkait relasi Iran dengan negara-negara Barat, dinamika politik Timur Tengah, hingga masa depan dunia Islam di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi.

Suasana akademik berlangsung dinamis dan interaktif. Diskusi tidak hanya membahas persoalan politik internasional, tetapi juga bagaimana perguruan tinggi Islam dapat mengambil peran strategis dalam membangun tradisi intelektual yang kritis, terbuka, dan responsif terhadap isu-isu kemanusiaan global.

Kegiatan Studium Generale ini menjadi bagian dari komitmen Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta dalam memperkuat tradisi akademik berbasis dialog peradaban dan pengembangan wawasan global mahasiswa.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *