Selama ini, kita terbiasa memahami bahwa otak adalah pusat berpikir manusia. Mulai dari memahami, mengingat, hingga mengambil keputusan selalu dikaitkan dengan kerja otak. Namun, bagaimana jika Al-Qur’an justru menghadirkan perspektif yang berbeda? Mari kita telaah ayat berikut ini:
اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ
Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada. (QS. Al-Hajj ayat 46)
Dalam ayat tersebut, Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia memahami bukan dengan mata (penglihatan), melainkan dengan qalb (hati) yang berada di dalam dada. Ayat ini menegaskan bahwa kebutaan sejati bukanlah buta penglihatan, melainkan kebutaan hati. Pernyataan ini menjadi menarik ketika dibaca dalam konteks ilmu pengetahuan modern, khususnya neurokardiologi.
Secara bahasa, istilah qalb berasal dari kata qalaba yang berarti berbolak-balik. Makna ini menggambarkan sifat hati yang mudah berubah dan menjadi pusat pergulatan batin manusia. Dalam Al-Qur’an, qalb tidak hanya dimaknai sebagai organ fisik, tetapi juga pusat kesadaran, moralitas, dan pemahaman (Pramita et al., 2025).
Menariknya, Al-Qur’an tidak menggunakan kata ‘aql (akal) dalam bentuk kata benda, melainkan dalam bentuk kata kerja seperti ya‘qilūn. Ini menunjukkan bahwa akal adalah aktivitas, bukan organ. Dalam QS. Al-Hajj: 46, aktivitas berpikir ini justru dilekatkan pada lafaz qalb, bukan pada otak.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali yang membagi qalb menjadi dua aspek. Pertama, sebagai organ fisik dalam tubuh yang memiliki peran penting dalam mengontrol seluruh anggota badan. Kedua, sebagai pusat kesadaran batin yang menentukan baik buruknya perilaku manusia. Karena itulah, kondisi qalb sangat menentukan kualitas diri seseorang (Zumroh, 2011).
Hal ini ditegaskan dalam hadis Nabi SAW,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik; dan jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itulah hati (qalb) (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa qalb tidak hanya berfungsi secara biologis, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan moral dan spiritual manusia. Dalam Tafsir Jalalain karya Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi dan Jalaluddin Al-Mahalli juga ditegaskan bahwa kegagalan manusia memahami kebenaran bukan karena kurangnya indera, tetapi karena hati yang tertutup. Mata bisa melihat dan telinga bisa mendengar, tetapi tanpa qalb yang hidup, semua itu tidak menghasilkan pemahaman yang benar.
Di sisi lain, sains modern selama ini menempatkan otak sebagai pusat utama kognisi. Dalam kajian neurosains, otak dipahami sebagai organ yang mengatur seluruh aktivitas mental manusia, mulai dari emosi hingga pengambilan keputusan (Huda et al., 2020). Pandangan ini telah menjadi paradigma dominan dalam ilmu pengetahuan.
Namun, perkembangan terbaru dalam bidang neurokardiologi mulai menghadirkan perspektif baru. Para ilmuwan menemukan bahwa jantung memiliki sistem saraf intrinsik yang kompleks, yang sering disebut sebagai “otak kecil” jantung. Sistem ini terdiri dari jaringan neuron yang mampu berfungsi relatif mandiri dari otak. Temuan ini menjadi tonggak penting dalam memahami kompleksitas hubungan antara jantung, otak, dan kesehatan manusia (Karuna Meda, 2022).
Hasil penelitian J. Andrew Armour menunjukkan bahwa jantung memiliki sekitar 40.000 neuron yang mampu berfungsi secara relatif mandiri. Artinya, jantung tidak hanya berperan sebagai pemompa darah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memproses informasi tertentu.
Kemajuan sains modern juga menunjukkan bahwa kognisi manusia tidak hanya didominasi oleh otak. Riset dalam neurokardiologi mengungkap bahwa jantung memiliki sistem saraf intrinsik yang kompleks dan berperan sebagai pengendali lokal yang dapat memengaruhi emosi, pengambilan keputusan, serta kestabilan respons fisiologis melalui interaksi timbal balik dengan otak (heart–brain axis). Hal ini membuka kembali wacana tentang peran jantung dalam kesadaran manusia, sebuah konsep yang secara konseptual telah lebih dahulu disinggung dalam Al-Qur’an (Goh et al., 2025).
Temuan ini membuka ruang dialog yang menarik dengan QS. Al-Hajj: 46. Al-Qur’an memang tidak menjelaskan secara teknis tentang sistem saraf jantung, tetapi memberikan isyarat bahwa pusat pemahaman manusia berkaitan dengan qalb. Dalam hal ini, sains modern mulai mengarah pada pemahaman yang lebih kompleks tentang organ tubuh manusia.
Namun, penting dipahami bahwa i‘jaz ‘ilmi tidak berarti Al-Qur’an adalah buku sains. Kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada kemampuannya memberikan isyarat yang melampaui pengetahuan manusia pada zamannya, tanpa harus menjelaskan secara rinci.
Dalam QS. Al-Hajj: 46, Al-Qur’an menghadirkan pandangan menyeluruh tentang manusia. Berpikir (ta‘aqqul) tidak hanya bergantung pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pada kondisi batin. Hati yang bersih akan melahirkan pemahaman yang benar, sedangkan hati yang “buta” dapat menyesatkan, meskipun informasi tersedia.
Di era modern, pesan ini menjadi semakin relevan. Manusia memiliki akses luas terhadap informasi, tetapi tidak semuanya mampu memahami kebenaran dengan baik. Bisa jadi, masalahnya bukan pada kurangnya data, tetapi pada kondisi hati yang tidak siap menerima kebenaran.
Dengan demikian, hubungan antara otak dan hati bukanlah hubungan yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi. Otak berfungsi sebagai pusat pengolahan informasi secara biologis, sementara qalb menjadi pusat kesadaran yang memberi arah dan makna.
Dengan demikian, QS. Al-Hajj: 46 mengajarkan bahwa memahami bukan hanya soal berpikir, tetapi juga soal merasakan dan menyadari. Bahwa kebenaran tidak cukup ditangkap oleh akal, tetapi juga harus diterima oleh hati yang jernih.
Referensi:
Goh, Fang Qin, et al. “The Heart–Brain Axis.” Current Cardiology Reports, 2025.
Huda, Ahmat Miftakhul & Suyadi. “Otak dan Akal dalam Kajian Al-Qur’an dan Neurosains.” Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 2020.
Karuna Meda. “The Heart’s ‘Little Brain’.” Jefferson Research Magazine, 2022.
Al-Maḥallī, Jalāl al-Dīn & Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī. Tafsīr al-Jalālayn.
Pramita, Aldila Winda, et al. “Konsep Al-Qalb dan Al-‘Aql.” Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan, 2025.
Zumroh. Tombo Ati. Surabaya: Bintang Usaha Jaya, 2011.









