Home / Tafsir Kontekstual / Beragama di Era Media Sosial: Refleksi QS. Al-Anfal Ayat 47 antara Dakwah dan Pencitraan

Beragama di Era Media Sosial: Refleksi QS. Al-Anfal Ayat 47 antara Dakwah dan Pencitraan

Saat ini, hampir semua platform digital dan media sosial telah menjadi teman kita sehari-hari untuk membantu mencari segala informasi. Jika dulu pesan agama hanya terdengar di mimbar-mimbar masjid, kini hampir semua platform digital mulai dari Instagram hingga TikTok menjadi arena utama untuk berdakwah. Fenomena ini membawa kemudahan dimana konten keagamaan, seperti potongan video ceramah atau kutipan ayat, dapat diakses dalam sekali usap layar. Sayangnya, kebebasan ini tidak jarang dimanfaatkan untuk membangun citra saleh di ruang publik digital.

Saat popularitas seorang pendakwah meningkat, di situlah keimanan dan ketulusannya diuji oleh godaan angka views dan likes di media sosial. Viralitas konten sering kali memicu keinginan untuk terus mengulang kesuksesan yang sama. Hal ini berisiko menggeser niat awal dari berdakwah di jalan Tuhan menjadi sekadar upaya mengejar popularitas atau kedudukan tinggi. Padahal, dakwah yang benar seharusnya dilakukan hanya karena Allah, bukan karena pengakuan dari orang lain, meskipun memang masih banyak orang yang tetap menjaga niatnya dengan tulus. Karena itu, QS. Al-Anfal Ayat 47 memberikan pesan penting,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ بِمَايَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan.

Melalui ayat itu, pernahkah kita merasa ragu dalam hati, sehingga terdiam sejenak sebelum membagikan sesuatu, sambil merenung dan bertanya: apakah postingan ini benar-benar bertujuan mengajak orang kepada Allah, atau hanya untuk menunjukkan citra saleh pada diri kita? Mengapa niat yang katanya tulus berdakwah justru sering berujung pada permusuhan digital? Dalam konteks ini, ada sebuah kaidah penting dalam dakwah yakni: “At-thoriiqoh ahammu minal maddah”, yang berarti metode itu lebih penting daripada materinya. Jika metodenya keliru, pesan agama yang disampaikan pun bisa menjadi bumerang untuknya.

Apa itu dakwah? Dan bagaimana strategi komunikasi yang tepat berdasarkan tiga pilar metode dalam QS. An-Nahl ayat 125 agar pesan kebaikan dapat diterima dengan lapang dada?

Secara bahasa, dakwah berasal dari akar kata da’a-yad’u yang berarti memanggil, mengundang, atau mengajak. Inti dari dakwah adalah mengajak manusia menuju kebaikan dengan cara yang halus dan tanpa paksaan. Panduan utamanya tertuang dalam Surah An-Nahl ayat 125, yang memerintahkan kita untuk menyeru ke Jalan Tuhanmu (Sabili Rabbika) dengan metode yang tepat. Dalam QS. An-Nahl ayat 125, terdapat tiga pilar utama dalam metode dakwah:

  • Bil Hikmah (Kebijaksanaan): Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Munir makna al-Hikmah adalah menyampaikan kebenaran dengan argumen yang jelas dan meyakinkan(Wahbah az-Zuhaili, 2005).
  • Mau’idzatul Hasanah (Nasihat yang Baik): Menurut Ibn Katsir Mau’idzatul Hasanah yakni nasihat dan peringatan yang mampu menyentuh hati manusia.
  • Al-Mujadalah Al-Ahsan(Diskusi yang Baik): Menurut Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Munir makna Al-Mujadalah Al-Ahsan adalah etika berdiskusi atau berdebat dengan cara yang santun, ekspresi wajah yang ramah, menggunakan argumentasi yang paling kuat dan pendahuluan yang sudah umum. (Wahbah az-Zuhaili, 2005). Namun, idealitas tersebut tidak selalu sejalan dengan realitas.

Realita Dakwah di Panggung Digital

Di era digital, praktik beragama menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Penggunaan fasilitas teknologi seperti jaringan internet dan smartphone yang tidak tepat justru berisiko menggeser nilai dan etika dalam praktik keberagamaan. Saat media sosial kini menjadi fokus utama arena dakwah, batas antara syiar agama yang tulus dan eksistensi diri pun menjadi sangat tipis.

Fenomena ini sering kali dimanfaatkan untuk mempopulerkan gaya hidup atau profil selebritas keagamaan melalui personal branding yang kuat, namun sayangnya sering kali lebih menonjolkan pesona pribadi daripada substansi ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya, keberagamaan terjebak pada ritual lahiriah dan tampilan konten semata, sementara kemurnian niat untuk mencari keridhaan Allah tanpa embel-embel popularitas sering kali terabaikan.

Sabili Rabbika: Menimbang Niat di Antara Riuh Rendah Validasi Digital

Di sinilah sinkronisasi antara niat dan realita digital diuji secara tajam. Sayyid Quthb dalam tafsirnya memberikan peringatan keras mengenai frasa “Sabili Rabbika” (Jalan Tuhanmu). Menurut beliau, berdakwah di jalan Allah berarti melakukannya semata-mata karena Allah, tanpa ada tujuan-tujuan duniawi lain seperti meraih kehormatan, popularitas, atau kedudukan yang tinggi.

Namun, di era media sosial, dakwah sering kali bergeser menjadi ajang pamer kesalehan. Kita terjebak dalam hasrat untuk memamerkan identitas ritual daripada mengamalkan nilai inti akhlak. Perdebatan di kolom komentar kerap bergeser dari mencari kebenaran menjadi ajang mempertahankan ego semata. Ketika kita merasa bangga saat memenangkan debat atau mendapatkan banyak likes dari konten yang menyudutkan orang lain, saat itulah izzah (kemuliaan) dakwah sebenarnya sedang kita rendahkan demi validasi digital.

Beragama di era digital saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita karena dakwah bukan sekadar memindahkan teks suci ke layar ponsel, melainkan tentang menjaga niat agar tetap murni di Jalan Tuhan(Sabili Rabbika) tanpa dicampuri hasrat untuk pamer atau mengejar popularitas. Kehadiran kita seharusnya menjadi perantara yang menyadarkan hati orang lain, bukan sekadar memburu validasi digital yang tidak bermakna.

Jika cara kita beragama justru membuat orang lain merasa terintimidasi atau menjauh, mungkin itu pertanda kita sedang berdakwah untuk diri sendiri, bukan untuk Tuhan. Coba tanya pada diri sendiri: apakah metode dakwah yang Anda pakai telah mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam keindahan agama Islam, atau jangan-jangan kita hanya sedang sibuk memamerkan kesalehan di atas panggung dunia maya?

REFERENSI

Husen, N. R. (2021). Penafsiran surat An-Nahl ayat 125-127 Studi komparasi Tafsir Fi Dzilalil Qur’an dan Tafsir Al Azhar. [Nama Jurnal Tidak Tertera pada Sumber], 48-59.

Mustaan, M. A. (2020, Juli 26). Tafsir Surah Al Nahl Ayat 125: Metode Dakwah Rasulullah SAW. Tafsir Al Quran. Referensi Tafsir di Indonesia.

Suri, S. (2022). Tafsir dakwah Q.S An-Nahl ayat 125 dan relevansinya dengan masyarakat. Liwaul Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Masyarakat Islam, 12(2), 55-73

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *