Home / Tafsir Kontekstual / Queen Bee Syndrome dan Etika Kepemimpinan Perempuan: Telaah Gaya Kepemimpinan Ratu Balqis dalam Al-Qur’an

Queen Bee Syndrome dan Etika Kepemimpinan Perempuan: Telaah Gaya Kepemimpinan Ratu Balqis dalam Al-Qur’an

Di era kontemporer, perempuan telah menunjukkan kemajuan yang pesat dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, karier, hingga politik. Namun, di balik capaian tersebut, muncul fenomena yang cukup menarik perhatian, yaitu Queen Bee Syndrome, ketika perempuan justru menjatuhkan perempuan lainnya. Fenomena ini merujuk pada sikap sebagian perempuan yang telah berada di posisi tinggi, tetapi cenderung menghalangi atau merendahkan bawahan, baik perempuan maupun laki-laki yang sedang berusaha meraih kesuksesan serupa.

Apa itu Queen Bee Syndrome?

Queen Bee Syndrome adalah fenomena sosial yang pertama kali diperkenalkan oleh G. L. Staines, T. E. Jayaratne, dan Carol Tavris pada tahun 1973. (Sobczak, 2018: 54) Fenomena ini muncul dari penelitian mereka terhadap perilaku sejumlah perempuan yang telah berhasil mencapai posisi tinggi di dunia kerja, akademik, maupun politik, terutama di lingkungan yang didominasi laki-laki. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian dari mereka justru cenderung kurang mendukung perempuan lain untuk meraih kesuksesan yang sama.

Sejumlah penelitian mencoba menjelaskan mengapa Queen Bee Syndrome bisa terjadi. Salah satunya dilakukan oleh Agnieszka Gromkowska-Melosik yang meneliti perempuan di bidang akademik dan manajerial. Hasilnya menunjukkan adanya jarak yang cukup jelas di antara sesama perempuan. Mereka yang merasa berada di posisi lebih tinggi cenderung menjauh dari perempuan lain yang dianggap lebih rendah, dan justru memilih bekerja lebih dekat dengan kelompok yang lebih dominan. (E. Baykal, dkk 2020: 167)

Selain itu, berbagai studi juga menemukan bahwa perempuan dalam posisi kepemimpinan sering kali tanpa sadar menyerap nilai-nilai maskulin yang berlaku di lingkungan kerja. Hal ini membuat mereka menunjukkan perilaku yang kurang mendukung perempuan lain, seperti bersikap lebih keras, dominan, dan kurang empati. (Derks dkk., 2011, 2016; Ellemers, 2014; Faniko dkk., 2021; Suharnomo & Permatasari, 2019) Akibatnya, hubungan kerja menjadi kurang hangat, bahkan bisa menimbulkan jarak sosial dan menurunkan kualitas kerja sama. dalam tim.

Kepemimpinan Maskulinitas Perempuan & Social Identity Theory

Teori identitas sosial diprakarsai oleh psikolog sosial Inggris, Henri Tajfel dan rekan-rekannya pada awal tahun 1970. (Ellemers, 2026) Teori ini menjelaskan bahwa identitas individu tidak hanya bersifat personal, tetapi juga terbentuk melalui keanggotaan dalam kelompok sosial. Individu secara alami mengategorikan diri ke dalam in-group (kelompok sendiri) dan out-group (kelompok lain), lalu berupaya mempertahankan citra positif kelompoknya (positive social identity). Ketika kelompoknya dipersepsikan lebih rendah dalam struktur sosial, individu cenderung menggunakan strategi seperti social mobility (berpindah atau mengidentifikasi diri dengan kelompok dominan), social creativity, atau social competition untuk menjaga harga diri.

Dalam konteks ini, fenomena Queen Bee Syndrome dapat dipahami sebagai bentuk strategi social mobility. Perempuan dalam posisi kepemimpinan, terutama di lingkungan yang didominasi laki-laki, cenderung mengidentifikasi diri dengan norma kelompok dominan dan menjauh dari sesama perempuan. Hal ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi respons terhadap tekanan struktural yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.

Karakteristik utama Queen Bee Syndrome meliputi: (1) rendahnya solidaritas terhadap perempuan lain, (2) sikap eksklusif dan elitis, (3) kecenderungan mengadopsi gaya kepemimpinan maskulin yang kompetitif, serta (4) perilaku defensif terhadap potensi ancaman status. Dengan demikian, teori identitas sosial membantu menjelaskan bahwa fenomena ini berakar pada dinamika identitas dan ketimpangan sosial, bukan semata-mata sifat personal, sehingga solusi yang dibutuhkan bersifat struktural dan kolektif.

Gaya Kepemimpinan Ratu Balqis dalam Al-Qur’an

Fenomena Queen Bee Syndrome dalam kajian kepemimpinan modern merujuk pada kecenderungan sebagian perempuan yang telah mencapai posisi strategis untuk menjaga jarak dari perempuan lain, bahkan cenderung menghambat kemajuan mereka. Dalam perspektif teori identitas sosial, gejala ini tidak muncul secara individual semata, melainkan sebagai respons terhadap struktur sosial yang maskulin dan kompetitif. Perempuan yang berhasil menembus struktur tersebut sering kali terdorong untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok dominan, sehingga secara tidak sadar menciptakan jarak dengan kelompok asalnya. Dalam konteks ini, Al-Qur’an menghadirkan narasi Ratu Balqis sebagai model kepemimpinan perempuan yang menawarkan alternatif berkeadaban, inklusif, dan transformatif.

Kisah Ratu Balqis yang termaktub dalam Surah An-Naml ayat 22–44 menggambarkan seorang pemimpin perempuan yang memiliki kekuasaan besar sekaligus kecerdasan politik yang matang. Ia memimpin negeri Saba’ dengan sistem pemerintahan yang mapan dan didukung oleh para pembesar kerajaan. Ketika menerima surat dari Nabi Sulaiman, respons awalnya tidak menunjukkan sikap reaktif atau otoriter, melainkan kehati-hatian dan kecenderungan untuk bermusyawarah. Ia mengumpulkan para pemuka kaumnya dan meminta pertimbangan sebelum mengambil keputusan. Sikap ini mencerminkan gaya kepemimpinan partisipatif yang menempatkan kolektivitas sebagai dasar pengambilan kebijakan. (Q.S An-Naml 27: 29-32)

Dalam kerangka teori identitas sosial, tindakan Ratu Balqis tersebut menunjukkan adanya penguatan identitas kelompok (in-group inclusion). Ia tidak memosisikan dirinya sebagai individu superior yang terpisah dari kelompoknya, melainkan sebagai bagian integral dari komunitas yang harus didengar aspirasinya. Hal ini menjadi kontras yang tajam dengan fenomena Queen Bee Syndrome, di mana pemimpin perempuan justru cenderung eksklusif dan membatasi akses bagi perempuan lain untuk berkembang. Kepemimpinan Balqis memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak harus dijaga melalui eksklusi, tetapi dapat diperkuat melalui partisipasi dan kepercayaan kolektif.

Selain itu, Ratu Balqis juga menunjukkan rasionalitas tinggi dalam merespons potensi konflik. Ketika para pembesarnya menyatakan kesiapan untuk berperang, ia tidak serta-merta menyetujui opsi tersebut. Sebaliknya, ia mengemukakan pandangan kritis bahwa peperangan hanya akan membawa kerusakan bagi negeri dan rakyatnya. Ia kemudian memilih jalur diplomasi dengan mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman sebagai bentuk pendekatan awal. (Q.S An-Naml. 27: 33-35) Keputusan ini mencerminkan kepemimpinan yang mengedepankan stabilitas sosial dan menghindari agresi yang tidak perlu. Dalam perspektif identitas sosial, langkah ini dapat dipahami sebagai strategi kreatif dalam mengelola relasi antar kelompok tanpa memperuncing konflik identitas.

Dimensi lain yang menonjol dari kepemimpinan Ratu Balqis adalah keterbukaannya terhadap kebenaran. Setelah melalui proses dialog dan pembuktian, ia menyadari kebenaran risalah yang dibawa Nabi Sulaiman dan memilih untuk berserah diri kepada Allah. (Q.S An-Naml. 27: 42-44) Keputusan ini menunjukkan kerendahan hati intelektual dan keberanian moral untuk berubah, meskipun ia berada pada posisi puncak kekuasaan. Dalam konteks Queen Bee Syndrome, sikap ini menjadi antitesis yang kuat, karena sindrom tersebut sering kali ditandai oleh sikap defensif dan keengganan untuk mengubah posisi atau pandangan demi mempertahankan status.

Lebih jauh, kepemimpinan Ratu Balqis juga memperlihatkan orientasi etis yang kuat. Setiap keputusan yang diambil tidak semata-mata mempertimbangkan kepentingan politik, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat secara luas. Ia tidak terjebak dalam ambisi kekuasaan personal, melainkan menunjukkan kepedulian terhadap keberlangsungan dan kesejahteraan kolektif. (Q.S An-Naml. 27: 34-35) Dalam teori identitas sosial, hal ini menunjukkan keberhasilan dalam membangun identitas bersama (shared identity) yang melampaui kepentingan individu atau kelompok sempit.

Dengan demikian, narasi Ratu Balqis dalam Al-Qur’an dapat dibaca sebagai model kepemimpinan perempuan yang berkeadaban dan relevan untuk menjawab tantangan kontemporer. Ia menghadirkan paradigma kepemimpinan yang inklusif, rasional, dan etis berbeda secara fundamental dari pola eksklusif yang ditunjukkan dalam Queen Bee Syndrome. Kepemimpinan semacam ini tidak hanya memperkuat posisi perempuan dalam struktur sosial, tetapi juga mendorong terciptanya tatanan yang lebih adil dan harmonis.

Ratu Balqis memberikan teladan bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin yang kuat tanpa kehilangan dimensi kolektif dan etis. Model ini menjadi penting untuk dikembangkan dalam konteks modern, terutama dalam upaya membangun kepemimpinan perempuan yang tidak hanya berhasil secara struktural, tetapi juga berkontribusi pada peradaban yang lebih manusiawi dan berkeadilan.  

REFERENSI:

Baykal, E., Soyalp, E., & Yeşil, R. (2020). Queen bee syndrome: A modern dilemma of working women and its effects on turnover intentions. In Strategic Outlook for Innovative Work Behaviours: Interdisciplinary and Multidimensional Perspectives (pp. 165-178). Cham: Springer International Publishing.

Derks, B., Ellemers, N., Van Laar, C., & De Groot, K. (2011). Do sexist organizational cultures create the Queen Bee?. British Journal of Social Psychology, 50(3), 519-535.

Ellemers, N. (2014). Women at work: How organizational features impact career development. Policy insights from the behavioral and brain sciences, 1(1), 46-54.

Faniko, K., Ellemers, N., & Derks, B. (2021). The Queen Bee phenomenon in Academia 15 years after: Does it still exist, and if so, why?. British Journal of Social Psychology, 60(2), 383-399.

Sobczak, A. (2018). The Queen Bee Syndrome. The paradox of women discrimination on the labour market. Journal of Gender and Power, 9(1), 51-61.

Suharnomo, S., & Permatasari, D. (2019). Investigating the “queen bee” phenomenon in Indonesia: A case study. Diponegoro International Journal of Business, 2(1), 41-51.

Website

Ellemers, Naomi. “Teori identitas sosial”. Encyclopedia Britannica , 14 Jan. 2026, https://www.britannica.com/topic/social-identity-theory. Diakses 26 Maret 2026.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *