Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern dan juga derasnya arus digitalisasi, semangat masyarakat untuk berinteraksi langsung dengan Al-Qur’an mulai mengalami kemunduran. Tradisi mengaji selepas maghrib yang dulu menjadi rutinitas di rumah-rumah dan majelis taklim kini jarang terdengar.
Namun di balik perubahan zaman itu, masih ada upaya tulus untuk menghidupkan kembali cahaya budaya Qur’ani. salah satunya Gerakan Maghrib Mengaji di Masjid Fathullah. Sebuah inisiatif yang lahir sebagai bentuk kebangkitan semangat Qur’ani di tengah masyarakat dan mahasiswa sekitar kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Inilah wujud nyata dari Living Qur’an, yaitu Al-Qur’an yang hidup dalam keseharian dan menjadi fondasi bagi peradaban Nusantara yang berakhlak dan berkemajuan. Living Qur’an dapat dipahami sebagai wujud kehidupan masyarakat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam setiap aktivitasnya.
Menurut Rafiq (2021), istilah ini pertama kali muncul di lingkungan akademik IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekitar tahun 2005. Sementara Rahmad Azmi menjelaskan bahwa Living Qur’an adalah Al-Qur’an yang hidup di tengah masyarakat muslim baik dalam bentuk lisan maupun tulisan yang nilai dan fungsinya benar-benar dipahami serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks sosial, Living Qur’an mengubah teks suci menjadi energi moral yang mendorong masyarakat untuk berbuat baik, saling menolong, dan memperkuat ikatan kemanusiaan. Karena itu, Living Qur’an bukan hanya fenomena spiritual, tetapi juga gerakan sosial dan kultural yang mencerminkan ajaran Islam yang hidup dan membumi.
Spirit tersebut tampak nyata dalam Gerakan Maghrib Mengaji di Masjid Fathullah. Semangat kebersamaan tumbuh bukan sekadar dari rutinitas membaca ayat, tetapi dari rasa saling mendukung antar jamaah. Pengajar muda dengan sabar membimbing para orang tua dan lansia yang ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an, sementara peserta memberikan apresiasi dan semangat kepada para pengajar. Terbentuklah suasana kekeluargaan yang hangat, cerminan nilai Qur’ani dalam kehidupan sosial.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Māidah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”
Tradisi di Masjid Fathullah menjadi wujud nyata dari nilai ta‘āwun (tolong-menolong dalam kebaikan). Di sanalah Al-Qur’an benar-benar hidup dan menyatu dalam tindakan, tutur, dan semangat kebersamaan umat. Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa waktu antara Maghrib dan Isya kerap terlewat begitu saja, padahal dalam tradisi Islam, waktu tersebut memiliki keutamaan besar. Karena itu, muncul inisiatif untuk menghidupkannya kembali melalui kegiatan yang bernilai ibadah dan sosial.
Program ini menjadi bagian dari upaya memakmurkan masjid, bukan hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran Al-Qur’an. Melalui kegiatan ini, jamaah didorong untuk memperdalam pemahaman tentang tajwid, makhraj, dan bacaan yang benar. Gerakan ini tak sekadar mengajarkan huruf demi huruf, tetapi juga menumbuhkan semangat mencintai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini berlangsung dua kali sepekan, setiap Senin dan Selasa malam setelah salat Maghrib berjamaah. Pesertanya beragam mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga lansia, bahkan terkadang mahasiswa turut bergabung. Para pengajar muda yang juga aktivis masjid dengan sabar membimbing jamaah memperbaiki bacaan Al-Qur’an, mulai dari tahsin, tajwid, makhraj, hingga tartil.
Salah satu pengajar muda, Alim, mengungkapkan motivasinya mengikuti program ini. Ia berkata, “Motivasi saya sederhana, karena begitu banyak keutamaan dan manfaat yang didapat ketika seseorang mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain. Melalui kegiatan ini, saya juga bisa kembali murajaah materi tajwid dan makhrajul huruf. Selain itu, saya berharap kegiatan ini dapat membantu meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an jamaah Masjid Fathullah.”

Kegiatan Gerakan Maghrib Mengaji di Masjid Fathullah
Nilai-Nilai Qur’ani dalam Tradisi Mengaji dan Dampak Sosial
Tradisi mengaji juga sebagai sarana menanamkan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap huruf yang dilafalkan tersimpan ajaran tentang kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan. Mengaji melatih umat untuk disiplin terhadap waktu, menghargai ilmu, serta rendah hati dalam proses belajar.
Nilai ta‘lim (pendidikan), ta‘āwun (tolong-menolong), ukhuwah (persaudaraan), dan tazkiyah (penyucian diri) menjadi ruh yang menjiwai kegiatan ini. Para peserta belajar saling menghargai, bersabar, dan menumbuhkan semangat mencari ilmu tanpa batas usia. Kegiatan ini mempererat jaringan sosial antar generasi. Mahasiswa, orang tua, dan lansia berinteraksi dalam suasana belajar yang sama.
Dampak nyata dari Gerakan Maghrib Mengaji dirasakan oleh semua peserta. Seorang jamaah, Ibu Parlina, dengan mata berbinar berkata, “Terima kasih ya Nak, sudah sabar mengajari kami yang sudah tua. Semoga ilmu kalian bermanfaat.” Ucapan sederhana itu menjadi cerminan nyata bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an hidup dan berdenyut di tengah masyarakat.
Living Qur’an dan Fondasi Peradaban
Peradaban Nusantara sejak dahulu tumbuh di atas nilai-nilai spiritual yang bersumber dari Al-Qur’an. Para ulama, wali, dan guru agama menjadikan ayat-ayat suci bukan sekadar bahan kajian, tapi juga pedoman dalam membangun tatanan sosial. Tradisi tahlilan, pengajian malam jumat, hingga kebiasaan membaca surat yasin bersama keluarga merupakan wujud nyata living Qur’an yang mengakar dalam budaya bangsa.
Kini, semangat itu hidup kembali melalui Gerakan Maghrib Mengaji di Masjid Fathullah. Kegiatan sederhana ini menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk kembali menyentuh Al-Qur’an, merasakan kedamaian, dan mempererat hubungan sosial. Dari kegiatan seperti inilah terlihat bahwa menghidupkan Al-Qur’an tidak selalu harus melalui proyek besar, tetapi cukup dengan membaca, belajar, dan saling menolong di antara sesama.
Sebagaimana diungkapkan oleh Baswedan, Fuad, Nashrulloh, dan Irsyad (2025), “Membangun peradaban Islam yang berkelanjutan harus berawal dari generasi Qur’ani—mereka yang tidak hanya membaca ayat, tetapi menghidupkannya dalam tindakan. Penanaman nilai-nilai Al-Qur’an menjadi fondasi bagi masyarakat yang adil, beretika, dan tangguh menghadapi perubahan zaman.”
Kutipan ini menggambarkan pokok dari Living Qur’an: menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi cahaya yang menuntun perilaku dan membangun peradaban.
Dari Masjid Fathullah untuk Nusantara
Gerakan Maghrib Mengaji di Masjid Fathullah menjadi bukti bahwa Al-Qur’an tetap hidup di tengah masyarakat modern. Saat ayat-ayat suci dibaca dengan tartil, diajarkan dengan kasih, dan diamalkan bersama, peradaban Qur’ani sesungguhnya sedang tumbuh dari ruang-ruang kecil pengajian dan hati-hati yang tulus belajar mendekat kepada sang Ilahi.
Living Qur’an bukan sekadar teori, tetapi realitas yang dapat dirasakan dan diwariskan. Selama cahaya tilawah terus menyala di waktu maghrib, Al-Qur’an akan tetap menjadi fondasi kokoh peradaban Nusantara. Dari kegiatan sederhana seperti ini, tumbuh nilai kasih, persaudaraan, dan semangat kebersamaan napas sosial yang menjaga peradaban tetap berakhlak, berilmu, dan berkemajuan.
Referensi
Rafiq, A. (2021). The Living Qur’an: Its Text and Practice in the Function of the Scripture. Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Hadis
Baswedan, S. S. F., Nashrulloh, E. H., & Irsyad, I. (2025). Melahirkan Generasi Qur’ani: Pemaknaan Qur’ani dalam Membangun Peradaban Islam. Mushaf Journal
Rahmad Azmi, M. (2023). Al-Qur’an dan Kehidupan: Aneka Living Qur’an dalam Masyarakat Adat. Uwais Inspirasi Indonesia.
Wawancara dengan Nur Alim Jayanto, Pengajar Muda Masjid Fathullah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Rabu, 22 Oktober 2025).
Wawancara dengan Ibu Parlina, Peserta Gerakan Maghrib Mengaji di Masjid Fathullah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Selasa, 21 Oktober 2025).









