Beranda / Metodologi Al-Quran dan Tafsir / Dimensi Semantik Kemaksuman Nabi dalam Tafsir Al-Kattani

Dimensi Semantik Kemaksuman Nabi dalam Tafsir Al-Kattani

Al-Qur’an merupakan mukjizat linguistik yang setiap pilihan katanya (intiqā’ al-alfāẓ) mengandung ketelitian makna yang luar biasa.(Nadira Sya’baniyah 2025) Salah satu ayat yang sering menjadi pusat perhatian para mufasir dan ahli bahasa adalah QS. At-Taubah [9]: 43, yang diawali dengan kalimat: “ʿAfallāhu ʿanka, lima adžinta lahum…” (Semoga Allah memaafkanmu, mengapa kamu memberi izin kepada mereka…).

Secara tekstual, ayat ini turun sebagai teguran lembut kepada Nabi Muhammad SAW terkait pemberian izin bagi kaum munafik untuk tidak ikut serta dalam Perang Tabuk. Namun, penggunaan kata “ʿafā” di awal ayat memicu perdebatan teologis dan linguistik yang mendalam.

Sebagian penafsir memahami lafaz tersebut secara harfiah sebagai pengampunan atas sebuah “kesalahan,” sebuah pemaknaan yang jika tidak dikaji secara hati-hati dapat berbenturan dengan konsep ‘iṣmaturrrasūl (keterjagaan Nabi dari dosa).

 Di sinilah urgensi analisis semantik diperlukan untuk membedah apakah lafaz tersebut merupakan bentuk “pengampunan” atas dosa, ataukah sebuah bentuk iltifāt (keindahan bahasa) yang justru menunjukkan kemuliaan kedudukan sang Nabi di sisi Tuhannya.

Pemikiran Muhammad Ibrahim Abdul Bais al-Kattani, seorang ulama kontemporer yang dikenal dengan kedalaman penguasaan literatur klasik dan rasa bahasa (żauq adabi) yang tinggi, menawarkan perspektif yang distingtif. Beliau cenderung melihat lafaz-lafaz Al-Qur’an tidak hanya dari struktur leksikalnya, tetapi juga dari aspek kedalaman ruhani dan penghormatan terhadap martabat kenabian.

Metodologi yang diterapkan oleh Syaikh Al-Kattani sering kali berpijak pada prinsip tanzīh (mensucikan) kedudukan para nabi dari segala bentuk kekurangan yang bersifat manusiawi dalam teks-teks agama. Beliau memandang bahwa bahasa Arab memiliki elastisitas makna yang memungkinkan seorang mufasir untuk menemukan kedalaman etis di balik struktur gramatikal yang tampak sederhana.

Dalam pandangan beliau, setiap huruf dan harakat dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan pribadi Rasulullah SAW harus dibaca dengan kacamata kecintaan, di mana pemaknaan leksikal tidak boleh berdiri sendiri tanpa melibatkan penghormatan terhadap integritas moral kenabian yang bersifat maksum.

Selain itu, pendekatan żauq adabi yang beliau usung bukan sekadar subjektivitas rasa, melainkan hasil dari dialektika panjang antara penguasaan terhadap balaghah klasik dengan intuisi spiritual yang tajam.(Fahimah 2020) Muhammad Ibrahim Abdul Bais Al-Kattani meyakini bahwa memahami Al-Qur’an memerlukan kesiapan mental dan kesucian hati agar sang penafsir mampu menangkap isyarat-isyarat lembut yang tersembunyi di balik tabir kata.

Melalui perspektif ini, beliau sering kali mampu merekonstruksi makna ayat-ayat “teguran” menjadi sebuah narasi keintiman antara Tuhan dan hamba-Nya, yang pada akhirnya memberikan pemahaman yang lebih teduh dan edukatif bagi umat dalam memandang sosok teladan mereka

Konsep ʿIṣmah al-Anbiyāʾ

Surat at-Taubah ayat 43 dengan terjemahannya : Allah memaafkanmu (Muhammad). Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (berhalangan) dan sebelum engkau mengetahui orang-orang yang berdusta? Jika diterjemahkan bahwa Allah memaafkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam maka Nabi salah atas tindakannya.

Sedangkan semua para nabi itu ma’shum yaitu terjaga dari kesalahan dan dosa. Salah satu sebab turunnya ayat ini pada peristiwa perang tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Tabuk diambil dari nama daerah yang terletak di antara Lembah al-Qura dan syam dengan jarak 600 KM dari kota Madinah. Keadaan perang ini sangat paceklik dari pembekalan, kondisi panas dan jauhnya perjalanan. 

Pada saat itu datang orang-orang munafik kepada Nabi untuk meminta izin tidak ikut dan berangkat belakangan dalam perjalan perang tabuk. Maka, dalam hal itu, Nabi mengizinkan orang-orang munafik tersebut agar tinggal di kota Madinah dan ditinggal oleh kaum muslimin yang ikut perang tabuk.

Maka turunlah surat taubah ayat 43 ini. “Allah memaafkan Nabi Muhammad terjemehan ini sangat keliru dan bertentangan dengan ayat lain seperti dalam surat al-Qalam ayat 4 “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” Surat Najm ayat 3-4 “ dan tidaklah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut keinginannya.  Tidak lain (al Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Komparatif Makna Yantiqh dan Kalam

Dari ayat ini terdapat kata Yantiqu bermakna ucapan. Ada perbedaan dalam bahasa arab antara nathaqa dan kalam. kalam merupakan ucapan yang mengandung makna. Sedangkan nathaqa mengandung makna yang difahami dan yang tidak difahami.

Dalam ayat ini disebutkan yantiq artinya berdehem nya Nabi itu merupakan wahyu. Bagaimana mungkin Nabi salah untuk mengizinkan orang munafik tinggal di Madinah? Ayat ini tidak menggukan kalam tapi nataqa, bahwa setiap ucapan yang keluar dari lisannya Nabi Muhammad itu adalah wahyu.

Lalu ayat ini jika memperhatikan ayat sebelumnya yaitu Sibaq membahas tentang orang munafik ayat 42 “Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka.

Eksplorasi Makna Kalimat Afa

Dalam ayat ini yaitu Sibaq kata Afa, ‘Afallahu anka. Kata Anfa memiliki banyak makna dalam Bahasa arab. Diantaranya al-magfirah, yaitu ampunan. (Muhammad Ibrahim Abdul Baist al-Kattani 2020) Dalilnya dalam surat al-Imran ayat 155 :

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari ketika dua pasukan bertemu, sesungguhnya mereka hanyalah digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat. Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Afa bermakna ziyadah, yaitu kelebihan. Dalilnya dalam surat al-Baqarah ayat 219 : Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. (Akan tetapi,) dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.”

Mereka (juga) bertanya kepadamu (tentang) apa yang mereka infakkan. Katakanlah, “(Yang diinfakkan adalah) kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berpikir.

afa bermakna ‘adamul bayan, yaitu tidak menjelaskan. Dalilnya dalam surat al-Maidah ayat 15: “Wahai Ahlulkitab, sungguh rasul Kami telah datang kepadamu untuk menjelaskan banyak hal dari (isi) kitab suci yang kamu sembunyikan dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak hal (pula). Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci yang jelas”.

Lalu terjemahan yang sesuai dengan penjelasan di atas dalam surat taubah ayat 43: Allah tidak menjelaskan kepadamu hikmah dari pemberian izinmu kepada mereka hingga jelas bagimu siapa yang benar siapa yang bohong

Daftar Pustaka

Fahimah, Siti. 2020. 3 Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Al-Qur’an Dan Semantik Toshihiko Izutsu. doi:10.33511/alfanar.v3n2.113-132.

Muhammad Ibrahim Abdul Baist al-Kattani. 2020. Raddul Mutasyabihat Ilal Muhkamat Fi Janibi Khotami Nubuwah. Ala Muhamm. Alexandria.

Nadira Sya’baniyah, Dkk. 2025. Semantik Surat-Surat Dalam Al-Qur’an Mengungkap Makna Dan Konsep Pada Kata. ed. Misbakhudin & Syamsul Bakhri. Pemalang: Muntaha Noor Institute.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *