Al-Qur’an adalah samudra makna rohani yang tak pernah kering untuk diselami oleh para pencari kebenaran. Sepanjang sejarah peradaban Islam, kitab suci ini tidak hanya dikaji melalui kacamata tata bahasa atau rumusan hukum formal semata. Para ulama tasawuf mengembangkan sebuah metode pembacaan yang jauh lebih mendalam dan holistik. Metode ini secara akademis sering dikenal sebagai tafsir isyari atau tafsir esoteris (Syamsuddin, 2017: 85).
Melalui pendekatan hermeneutika esoteris ini, Al-Qur’an dipahami bukan sekadar tatanan doktrin yang kaku dan mati. Teks suci justru dihayati sebagai sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta alam semesta. Tujuan utama dari metode pembacaan ini amatlah luhur dan esensial. Sang penempuh jalan rohani (salik) menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai panduan untuk mencapai derajat wushul, yakni ketersambungan spiritual yang utuh dengan Allah Swt.
Dalam tradisi tarekat, pencapaian derajat wushul umumnya membutuhkan bimbingan seorang mursyid yang otoritatif. Namun, kajian pustaka terhadap literatur klasik juga menunjukkan adanya jalur pencapaian rohani yang unik (Hidayat, 2020: 146). Terkadang, pemahaman mendalam atas teks suci bisa memancar langsung ke dalam kalbu tanpa perantara fisik. Fenomena ini sejalan dengan konsep Uwaisi dalam tasawuf, di mana bimbingan rohani turun langsung dari dimensi ilahiah melalui perenungan teks suci itu sendiri.
Di antara tokoh ulama awal yang meletakkan fondasi hermeneutika sufi ini adalah Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari (wafat 283 H/896 M). Beliau adalah seorang sufi besar yang pemikirannya sangat dihormati. Karya agungnya, Tafsir at-Tustari, hadir sebagai rujukan klasik yang sangat berpengaruh. Kitab ini menjadi salah satu tafsir sufi tertua yang masih bisa dikaji secara utuh hingga hari ini (Anwar, 2004: 112)
Gagasan at-Tustari kelak memberikan warna yang amat kuat bagi para pemikir sufi di generasi-generasi setelahnya. Jejak pengaruhnya sangat terasa dalam proses pembentukan epistemologi tasawuf yang lebih mapan. Pengaruh tersebut dapat kita telusuri dalam karya-karya babon tasawuf di masa berikutnya. Misalnya, pemikiran ini turut menjiwai bagaimana Imam al-Ghazali merumuskan kedalaman makna batin dalam Ihya ‘Ulumuddin, serta bagaimana Ibnu Arabi menyingkap rahasia huruf dalam Futuhat al-Makkiyyah.
Fondasi Hierarki Makna at-Tustari
Berbeda dengan para mufasir eksoteris yang berpuas diri pada analisis asbabun nuzul lahiriah, at-Tustari melihat teks suci secara berbeda. Ia memandang untaian ayat Al-Qur’an sebagai entitas spiritual yang hidup, bergetar, dan dinamis. Dalam mukadimah tafsirnya, at-Tustari menegaskan sebuah pijakan utama yang sangat fenomenal. Beliau menyatakan,
مَا مِنْ آيَةٍ إِلَّا وَلَهَا مَعْنًى ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ، وَلِكُلِّ حَرْفٍ حَدٌّ، وَلِكُلِّ حَدٍّ مُطَّلَعٌ
Artinya: “Tidaklah suatu ayat kecuali membawa makna zahir dan batin. Dan bagi setiap huruf memiliki had dan bagi setiap had ada matla” (At-Tustari, 2002: 15).
Keempat dimensi makna ini sama sekali tidak dirancang untuk saling membatalkan satu sama lain. Mereka juga tidak boleh dipertentangkan dalam kerangka logika oposisi biner. Sebaliknya, keempatnya beroperasi dan bersinergi layaknya anak tangga spiritual (taraqqi). Seseorang tidak akan pernah meraih puncak hakikat yang sahih jika ia berani membuang landasan syariatnya (Sanjaya, 2018: 54).
Untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan komprehensif, kita perlu membedah keempat lapisan makna tersebut. Masing-masing memiliki peran dan fungsi yang spesifik dalam perjalanan rohani seorang hamba.
1. Makna Zahir (Dimensi Lahiriah)
Dimensi zahir adalah pintu gerbang pertama dan utama dalam memahami Al-Qur’an. Ini merupakan bacaan (tilawah) dan pemahaman tekstual yang paling gamblang serta mudah ditangkap. Makna zahir sepenuhnya menjadi ranah kajian disiplin ilmu fikih dan linguistik Arab. Dimensi ini mengurus makna harfiah yang dapat dicerna langsung oleh rasionalitas manusia pada umumnya (Anwar, 2004: 115). Sebagai contoh, ketika Al-Qur’an memerintahkan kewajiban salat, makna zahir-nya adalah kewajiban fisik. Sang hamba wajib melakukan takbir, rukuk, dan sujud sesuai rukun yang ditetapkan syariat.
At-Tustari sangat disiplin dan ketat dalam hal ini. Ia menegaskan bahwa pemahaman zahir adalah fondasi syariat yang bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar (Hidayat, 2020: 148). Tanpa ketaatan penuh pada hukum fisik ini, segala klaim tentang penemuan makna spiritual adalah sebuah kesesatan. Hakikat tidak akan pernah berdiri tegak tanpa fondasi syariat yang kokoh.
2. Makna Batin (Dimensi Esoteris)
Setelah melaksanakan kewajiban zahir, seorang salik diajak untuk menyelam lebih dalam. Ia harus melangkah perlahan menuju lapisan makna batin dari ayat yang dibacanya. Jika dimensi zahir mengikat lisan dan anggota tubuh jasmani, maka makna batin bersemayam di dalam relung kalbu. Pemahaman (fahm) ini mulai tersingkap ketika seseorang melakukan proses penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs).
Makna batin menyasar esensi pesan moral, hikmah, dan muatan spiritual tertinggi. Pesan-pesan agung ini sering kali bersembunyi rapi di balik untaian teks harfiah (Sanjaya, 2018: 56). Kembali pada contoh perintah salat, makna batin-nya bukan sekadar gugurnya kewajiban fikih. Lebih dari itu, salat adalah momen penundukan ego, penghancuran kesombongan, dan kehadiran hati seutuhnya di hadapan Tuhan. Di tahap inilah, Al-Qur’an mulai difungsikan sebagai cermin introspeksi. Teks suci menjadi alat bedah untuk melihat penyakit hati dan kecacatan rohani di dalam diri sendiri.
3. Makna Hadd (Garis Batas Epistemologis)
Lapisan ketiga yang diperkenalkan oleh at-Tustari adalah hadd atau batas. Konsep ini memiliki pijakan filosofis yang sangat kuat dalam tradisi pemikiran Islam klasik. Dalam lanskap pemikiran at-Tustari, hadd merepresentasikan garis demarkasi yang tegas. Ia memisahkan antara wilayah halal dan haram dalam syariat (At-Tustari, 2002: 16). Selain itu, hadd juga menjadi batas maksimal sejauh mana rasio manusia mampu menjangkau maksud Tuhan. Akal manusia memiliki kapasitas yang terbatas dalam membedah kalam Yang Maha Tak Terbatas.
Secara filosofis, hadd adalah titik di mana seorang hamba menyadari posisi eksistensialnya. Ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya adalah entitas yang sangat fakir dan lemah. Saat berhadapan dengan ayat Al-Qur’an, dimensi hadd bertindak sebagai alarm spiritual. Batasan ini menjaga sang hamba agar terhindar dari kesombongan intelektual saat menafsirkan teks (Syamsuddin, 2017: 90).
4. Makna Matla’ (Puncak Penyingkapan)
Dimensi terakhir ini merupakan terminal akhir sekaligus puncak perhentian rohani. Matla’ adalah pengalaman terdalam saat membaca Al-Qur’an menurut kerangka hermeneutika at-Tustari. Istilah ini sering juga disebut muttala’ dalam beberapa manuskrip klasik. Maknanya adalah fase pengawasan batin atau penyingkapan misteri (mukasyafah) atas realitas ketuhanan secara langsung (Hidayat, 2020: 151).
Pada maqam spiritual tertinggi ini, huruf-huruf dalam Al-Qur’an tidak lagi dilihat sebagai susunan benda mati. Ayat-ayat tersebut telah bertransformasi menjadi wadah turunnya tajali atau manifestasi ilahi. Teks suci berubah menjadi saluran cahaya yang memancar langsung ke dalam sanubari pembacanya. Di titik inilah pencerahan sejati, atau yang sering disebut wushul, benar-benar dialami oleh sang hamba.
Sang salik tidak lagi sekadar menafsirkan teks dengan rasionya yang terbatas. Ia dikaruniai hikmah dan “diberi pemahaman” secara langsung oleh kehendak Sang Mutakallim, yakni Allah yang berfirman (Sanjaya, 2018: 62).
Kesimpulan
Sumbangsih paling monumental dari Sahl at-Tustari adalah keberhasilannya merajut harmoni metodologis. Ia berhasil menjembatani ketegangan antara pendekatan syariat (eksoteris) dan hakikat (esoteris). Di tengah berbagai perdebatan tajam dalam sejarah keilmuan Islam, at-Tustari hadir dengan solusi cemerlang. Ia membuktikan bahwa pencarian makna batin sama sekali tidak merongrong kaidah kebahasaan Arab.
Sebaliknya, makna-makna tingkat tinggi tersebut hanya bisa diakses melalui kepatuhan total. Seseorang harus taat pada makna zahir dan menjaga ketat batasan hadd sebelum bermimpi mencapai matla’. Melalui kacamata at-Tustari, interaksi dengan Al-Qur’an berubah wujud menjadi sebuah perjalanan spiritual yang utuh. Ia dimulai dari kebenaran pelafalan huruf (zahir) hingga bermuara pada kenikmatan merasakan cahaya Sang Pencipta (matla’).
Referensi
Anwar, Rosihon. Ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia, 2004.
At-Tustari, Sahl bin ‘Abdullah. Tafsir at-Tustari. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002.
Hidayat, Rahmat. “Pendekatan Tafsir Isyari dalam Tradisi Sufisme Klasik: Analisis Epistemologis.” Jurnal Ilmu Ushuluddin, 12(2), 2020, 145–160.
Sanjaya, Akbar. “Relasi Eksoterik dan Esoterik dalam Al-Qur’an: Telaah atas Tafsir Sahl al-Tustari.” Jurnal Pemikiran Islam, 9(1), 2018, 51–68.
Syamsuddin, Sahiron. Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2017.









