Home / Review / Mengenal Kulliyyatal-Rasail al-Nur:  Mahakarya Sang Pembuka Sanubari Hati dari Turki

Mengenal Kulliyyatal-Rasail al-Nur:  Mahakarya Sang Pembuka Sanubari Hati dari Turki

Seiring perkembangan zaman dan perubahan dinamika sosial, metode dan corak penafsiran Al-Qur’an mengalami perubahan yang signifikan. Setiap periode sejarah melahirkan para mufassir yang memiliki keunikan masing-masing dalam memahami pesan-pesan ilahi sesuai dengan konteks zamannya. Pada era kontemporer, salah satu kitab tafsir yang menarik dikaji yaitu Kulliyyat al-Rasail al-Nur atau yang masyhur dengan sebutan Risalah al-Nur , sebuah masterpiece pembaharu Islam dari Turki yang bernama Badi’u Zaman Sa’id al-Nursy.

Risalah al-Nur bukan hanya sekedar tafsir dalam pengertian klasik maupun linguistik, melainkan sebuah gerakan intelektual, moral, dan spritual, yang bertujuan untuk meneguhkan kembali nilai-nilai keimanan di tengah masyarakat yang mengalami krisis moral, dan spiritual akibat pengaruh sekularisasi. Maka dari itu, dalam artikel ini penulis akan membahas biografi mufasir sekaligus profil tafsir.

Biografi Singkat Mufasir

Badi’u Zaman Sa’id al-Nursy merupakan tokoh sufi, dan pemikir pembaharu Islam berkebangsaan Turki. Dilahirkan dari keluarga penganut paham sunni dan tarekat Naqshabandiyah, yaitu pasangan Molla Mirza dan Nuriye pada tahun 1293 H/ 1877 M di desa Nurs, Turki, dengan nama Sa’id bin Mirza (Ramadlani,2019: 44).

Nama al-Nursy dinisbatkan kepada desa kelahirannya yaitu Nurs, sedangkan badi’u al-Zaman yang berarti yang  mengagumkan sepanjang zaman, merupakan gelar kemuliaan yang diberikan oleh ulama dan masyarakat sekitar pada masa itu, karena kemampuannya mengalahkan beberapa ulama terkemuka dalam suatu majlis debat. Selain itu, ia juga dijuluki sebagai Fatih al-Qulub yang berarti pembuka sanubari hati. Ia kemudian wafat pada 25 Ramadhan 1279 H atau 23 Maret 1960, di kota Urfah. (Faizaturrahmah, 2023: 42)

Pendidikan pertama Nursy diperoleh dari kedua orang tuanya, yang selalu menekankan pada aspek iman, tauhid, dan pendidikan agama Islam. Perjalanan intelektualya  dimulai dari madrasah Molla Mehmet Emin Effendi di desa Tag. Beliau juga melakukan pembelajaran secara intensif di bawah bimbingan Syekh Muhammad Jalali di Beyazid. Setelah mendapatkan gelar diploma dari Syaikh Muhammad Jalali, pada tahun 1889 beliau kemudian pergi ke Bitlis, untuk menuntut ilmu kepada Syaikh Muhammad Amin. Kemudian pergi  ke Sirvan, dan ke kota Siirt untuk menemui seorang ulama terkenal yaitu Fethullah Effedi.

Profil Kitab Risalah al-Nur

Kitab ini merupakan kumpulan tulisan Nursy bersama para muridnya yang secara keseluruhan berjumlah 130 risalah, di mana 15 risalah menggunakan Bahasa Arab, dan sisanya menggunakan Bahasa Turki. Penulisan-Nya sendiri dimulai pada tahun 1925 dan berakhir sampai pada tahun 1934. (Rosyidah, 2023: 46)

Di antara karya-karya yang terkumpul dalam Risālāh al-Nūr adalah Al-Kalimat yang berisi 33 risa>lah. Al Maktubat yang memuat 33 risa>lah dan diawali dengan kisah Nabi Khidir. Al-Lama’at yang memuat 30 risalah. Al-Shu’a’at yang berisi 15 risa>lah.

Isharatu al-‘Ijaz yang berisi tentang tafsir surah al-Fatihah dan 30 ayat dari surah al-Baqarah. Al-Mathnawi al-‘Arabi al-Nuri yang berisi 12 risalah. Al-Malah}iq yang berisi kumpulan surat untuk para murid-Nya. Saiq al-Islam yang berisi 8 risalah, dan Sirah al-Dhatiyah sebagai bagian akhir kitab yang berisi tentang peerjalanan hidup beliau.(Syauqi, 2017: 111)

Di tangan Ihsan Qasim al-Salihi, Risalah al-Nur kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab dan dicetak menjad 10 jilid besar, dengan ketebalan kurang lebih mencapai 6000 halaman. Representasi proses penerjemahan dan percetakan karya Nursy di Indonesia adalah Risalah Nur Press yang terletak di daerah Ciputat Timur, Tangerang Selatan. (Syauqi, 2017: 111)

Risalah al-Nur  menjadi salah satu usaha Nursy untuk menyelamatkan umat Islam , khusunya yang berada di Turki, dari serangan pemikiran rezim sekuler di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal pada awal abad ke-20. Pada masa itu Kemal mengesahkan undang-undang untuk menjadikan Turki sebagai negara maju, dan modern yang berkiblat kepada kemajuan Barat yang bersifat sekuler.

Beliau membuat keputusan-keputusan yang bertentangan dengan prinsip agama Islam, seperti melarang perempuan untuk memakai jilbab, menterjemahkan Al-Qur’an dalam Bahasa Turki, mengganti adzan dengan Bahasa Turki, dan lain sebagainya.

Dalam situasi Turki yang seperti itu, sebagai seorang yang agamis, dan intelektual yang berwawasan luas, serta gelar badi’u al-Zaman yang disandangnya, Nursy merasa terpanggil untuk membangkitkan kembali umat Islam dengan menyalakan api tauhid kepada mereka, membangun fondasi keimanan dan moralitas umat untuk mempertahankan ideologi Islam.

Bagi Nursy tantangan yang sedang dihadapinya adalah tantangan ideologi, dan berperang tidak harus berupa peperangan fisik melainkan dengan pencerahan intelektual dan spiritual. Dengan bekal keilmuan yang dimilikinya, dan banyaknya literatur yang telah beliau pelajari sejak kecil, maka lahirlah Risalah al-Nur.

Metodologi penafsiran

Risalah al-Nur ditulis menggunakan menggunakan metode penafsiran bi al-Ra’yi atau pendekatan logika, dan disajikan dalam bentuk tematik/maudhu’i dengan penjelasan yang terperinci yaitu tahlili. Hal tersebut dapat dilihat dari dua tema besar yang menjadi perhatiannya, yaitu keimanan/tauhid dan persoalan moralitas masyarakat. (Syauqi, 2017: 114)

Risalah al-Nur dianggap mempunyai corak sosial kemasyarakatan yang timbul dari paradigma seorang sufi, sehingga disebut juga sebagai tafsir isha>ri. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pesan yang  disampaikan untuk masyarakat mengenai akidah, keimanan, pemahaman Al-Qur’an, membumikan Al-Qur’an dengan akhlak Qur’ani, yang merupakan implementasi dari Al-Quran itu sendiri.

Latar Belakang Penamaan dan Pandangan Ulama Terhadap Risa>lah al-Nu>r

Latar belakang penamaan Risālah al-Nūr adalah karena lafal  al-Nur  yang berarti cahaya telah melingkupi diri penulis sepanjang hidup. Contohnya adalah Nursi sebagai nama desa kelahirannya, Nuriye sebagai nama ibunya, Nur Muhammad merupakan gurunya  yang bertarekat Naqsyabandiyah, Nūr al-Dīn merupakan nama gurunya  yang bertarekat Qadiriyah,  Nuri merupakan nama guru yang mengajarinya al-Qur’an, dan kebanyakan murid yang menemaninya bernama Nur.

Dalam kitab Tafsir wa al-Mufassirun fi T}awbihi al-Jadid karya Abdul Ghafur, ia mengatakan bahwasannya Risālah al-Nūr dalam setiap bab-Nya memiliki faedah yang sangat besar, bahkan beliau sendiri tidak dapat menjelaskan kekagumannya terhadap kitab tersebut. Beliau mengharapkan kepada para pembaca untuk mengambil faedah sebanyak banyaknya dari kitab tersebut.

Sistematika penulisan kitab Risālah al-Nūr dimulai dengan penafsiran tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan tema-tema atau judul yang ada. Menjelaskan hakikat yang terdapat di balik suatu ayat, yang disertai dengan suatu perumpamaan, kemudian menyebutkan realitas yang dipermisalkan.

Dalam menafsirkan Al-Quran, Nursy selalu mengikuti kaidah-kaidah yang digunakan oleh mufassir sebelumnya (bi al-Ma’tsur) seperti Al-Qur’an dengan Al-Quran, dan memperhatikan korelasi ayat satu dengan ayat yang lain (munasabah al-Ayat). Beliau juga Memberikan penjelasan dari sisi maqasid al-Qur’an, yang kemudian diakhiri dengan kesimpulan. (Adawiyah, 2025: 1033)

Referensi

Adawiyah, Robiatul. Abdul Kholid, “Maqashid Dalam Rasail Nur Karya Badiuzzaman Said Nursi. “. Al-Afkar: Journal for Islamic Studies, Vol. 08 No. 02 (2025).

Raisya Miftakhul Rahma. Penafsiran Ayat-ayat Tauhid Perspektif Said Nursi  dalam Tafsir Risalah al-Nur. (Tesis_ UIN Walisongo, Semarang, 2022).

Ramadlani, Ilyas Fahmi “Perjuangan Badiuzzaman Said Nursi dalam Membendung Arus Sekularisasi di Turki”. Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam Vol. 3, No. 01, (Juni, 2019).

Syauqi, Muhammad Labib. “Mengenal Risalah al-Nur Karya Said al-Nursi dan Metodologi Penafsirannya”. Maghza, Vol. 02,  No. 01, ( Juni 2017).

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *