Di tengah derasnya arus digitalisasi, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Berbagai platform memungkinkan setiap orang membagikan foto, video, aktivitas, pemikiran, dan pencapaiannya kepada publik dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin mengkhawatirkan, yaitu ketika jumlah likes, komentar, dan pengikut dijadikan ukuran nilai diri seseorang.
Sering kali terlintas di benak setiap pengguna media sosial sebuah pertanyaan sederhana “BerapaQ ya jumlah like yang saya dapatkan pada postingan ini?”. Di era digital, apresiasi tidak hanya didapatkan secara lansung, tetapi dari tombol suka, komentar, pengikut, dan bahkan akhir-akhir ini muncul berbagai virtual gift, seperti mawar, paus, dan lainnya.
Oleh karena itu, kebanyakan remaja yang merasa lebih percaya diri ketika unggahannya mendapat banyak respons positif. Sebaliknya, mereka dapat merasa kecewa, cemas, bahkan meragukan dirinya sendiri ketika tidak memperoleh perhatian yang diharapkan. Dalam kondisi seperti ini, harga diri perlahan bergantung pada penilaian orang lain.
Dalam psikologi, fenomena ini dikenal social validation yaitu kecenderungan seseorang menilai dirinya berdasarkan penerimaan orang lain. Secara psikologis, kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan merupakan hal yang wajar. Namun, ketika pengakuan sosial menjadi sumber utama kebahagiaan dan juga tujuan hidup. Maka seseorang berisiko kehilangan jati dirinya. Ia akan lebih sibuk membangun citra yang disukai orang lain dari pada mengembangkan karakter dan kualitas dirinya yang sesungguhnya.
Psikologi sosial menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan melalui proses social influence atau pengaruh sosial. Seseorang cenderung menyesuaikan sikap dan perilakunya dengan kelompok yang dianggap penting baginya. Pada masa remaja, pengaruh ini menjadi lebih kuat karena mereka sedang berada dalam fase pencarian jati diri. Akibatnya, standar benar dan salah terkadang bergeser menjadi standar diterima atau tidak diterima oleh kelompok. Sehingga FOMO (Fear of Missing Out) pun semakin meningkat.
Fenomena tersebut terlihat dalam berbagai bentuk. Ada yang rela mengikuti tren negatif demi popularitas, ada yang membangun citra diri yang tidak sesuai kenyataan, bahkan ada yang mengorbankan nilai-nilai agama demi memperoleh perhatian publik. Ketika pengakuan manusia menjadi tujuan utama, moralitas perlahan kehilangan pijakan. Dengan fenomena tesebut menjadi salah satu penyebab munculnya degradasi moral bagi para remaja.
Banyak remaja yang lebih mengutamakan postingan dari pada pendidikan. Dapat dilihat di media sosial para remaja dengan bangganya berjoget-joget di sekolah dengan menggunakan baju yang tidak sewajarnya demi kontennya viral. Hal ini adalah salah satu gambaran krisisnya moral para remaja.
Menariknya, jauh sebelum media sosial hadir, Al-Qur’an telah memberikan peringatan agar manusia tidak terjebak dalam pesona dunia dan menjadikan penilaian manusia yang bersifat sementara menjadi tujuan hidup. Dan petunjuk tersebut terdapat dalam QS. Al Kahfi ayat 8. Ayat ini turun ketika sebagian tokoh Quraisy enggan duduk bersama sahabat Nabi yang miskin. Mereka menginginkan majelis yang lebih eksklusif agar status sosial mereka tetap terjaga. Dari peristiwa tersebut Allah berfirman;
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
Artinya: Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.
Menurut Ibnu Katsir, ayat ini turun sebagai peringatan kepada Nabi Muhammad saw. agar tetap bersama orang-orang saleh dan tidak lebih mengutamakan kaum bangsawan Quraisy yang hanya mengejar dunia. Ayat ini mengandung pesan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan ketakwaannya. Dan larangan mengikuti orang yang “hatinya lalai dari mengingat Allah” hal ini menunjukkan bahaya lingkungan yang buruk terhadap keimanan dan perilaku seseorang. Sementara itu, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pesan agar manusia tidak terjebak dalam penilaian lahiriah dan status sosial semata. Kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya, bukan popularitas atau kekayaan yang dimiliki.
Jika di telaah, ayat ini sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Jika pada masa lalu ukuran kemuliaan sering dikaitkan dengan kekayaan dan kedudukan sosial, maka pada era digital ukuran tersebut kerap berubah menjadi populartas digital. Dan jika terus dibiarkan, maka krisis moral para remaja semakin mendalam. Oleh karena itu QS. Al-Kahfi ayat 28 ini merupakan solusi pencegahan Validasi sosial dan juga Degradasi moral. Setidaknya ada 3 Cara yang harus dilakukan, yaitu:
- Merubah tujuan hidup
Pada hakikatanya, tujuan hidup tertinggi seorang manusia adalah mengharapkan keridhoan dari Allah dalam segala bentuk aktivas. Karena segala yang diniatkan tulus semata-mata karena Allah akan mendatangkan ketenangan batin, Namun, jika tujuan hidup agar di akui dan dihargai manusia, maka kehidupan akan selalui dihantui dengan kecemasan karena dia tidak pernah mendapatkan kepuasan.
- Memilih lingkungan yang baik
Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk karakter seseorang. Hal ini sesuai dengan teori sosial influence bahwa lingkungan dapat memberikan pengaruh kepada manusia. Remaja yang berada dalam komunitas positif akan lebih mudah mempertahankan nilai-nilai moral dibandingkan mereka yang hidup dalam lingkungan yang hanya mengutamakan popularitas dan penampilan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
- Tidak beriorientasi dengan popularitas duniawi
Orientasi hidup seorang muslim seharusnya tertuju kepada keridaan Allah, bukan kepada penilaian manusia. Pengakuan manusia bersifat sementara dan mudah berubah, sedangkan penilaian Allah bersifat abadi dan menjadi ukuran sejati kemuliaan seseorang. Karena itu, tantangan terbesar remaja masa kini bukan sekadar bagaimana memperoleh banyak pengikut atau perhatian di media sosial, melainkan bagaimana tetap menjaga identitas, moralitas, dan prinsip hidup di tengah derasnya arus pengaruh media sosial.
Q.S Al Kahfi ayat 28, mengajarkan bahwa standar ketenangan bukan pada validitas sosial. Akan tetapi, kedekatan dan ketakwaan kepada Allah. Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Yang menentukan arah penggunaannya adalah nilai yang kita pegang. Ketika validasi sosial menjadi tujuan hidup, seseorang akan mudah kehilangan dirinya. Namun ketika keridaan Allah menjadi tujuan utama, maka pengakuan manusia tidak lagi menjadi ukuran kebahagiaan.
Referensi:
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja, Jakarta: Rajawali Pers, 2011
Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998
Quraish Shihab, M. Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.








