Beranda / Al-Quran & Generasi Muda / Body Shaming dalam Perspektif Al-Qur’an: Menjaga Martabat Manusia di Era Standar Penampilan

Body Shaming dalam Perspektif Al-Qur’an: Menjaga Martabat Manusia di Era Standar Penampilan

Di era digital saat ini, media sosial sering kali mendikte bagaimana seseorang seharusnya terlihat. Filter kamera, manipulasi foto, dan algoritma secara tidak sadar menciptakan standar penampilan (beauty standar) yang sempit, putih, langsing, tinggi, dan nyaris tanpa cela.

Ketika seseorang tidak memenuhi standar ini, mereka rentan menjadi korban body shaming. Fenomena ini bukan sekedar gurauan remeh, ia adalah pembunuhan karakter yang merusak mental dan merenggut rasa percaya diri seseorang. Lantas, bagaimana islam khususnya Al-Qur’an memandang fenomena ini? Serta bagaimana petunjuk ilahi membimbing kita untuk menjaga martabat manusia di tengah gempuran obsesi fisik ini? Islam memandang fisik manusia bukan hanya sebagai objek penilaian sesama makhluk, melainkan sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna. Dalam QS. At-Tin (95): 4 Allah SWT menegaskan:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ 

“sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Ketika seseorang melakukan body shaming, pada hakikatnya ia tidak hanya menghina orang tersebut, melainkan sedang mempertanyakan dan mencela hasil karya Allah SWT. Mengkritik ciptaan sama saja dengan mengkritik Sang Pencipta. Pandangan ini seharusnya membuat kita berpikir seribu kali sebelum melontarkan komentar negatif tentang fisik orang lain.

Al-Qur’an secara spesifik melarang tindakan merendahkan fisik atau kepribadian orang lain. Larangan keras ini termaktub dalam QS. Al-Hujurat (49): 11

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…”

Dalam ayat yang sama, Allah juga melarang dua hal yang sering menjadi akar dari body shaming:

  • تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ : Saling mencela
  • تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ : Memanggil dengan julukan yang buruk (Misalnya memanggil seseorang dengan sebutan gendut, hitam, pendek, dll)

Secara psikologis, julukan buruk ini melekat dan merusak konsep diri korban. Al-Qur’an dengan tegas menutup celah perilaku toxic ini demi menjaga kehormatan sosial. Era modern sering kali mengukur kelayakan seseorang dari penampilannya (lookism). Namun, Al-Qur’an mendekonstruksi total cara pandang ini. Allah menggeser indikator kemuliaan dari aspek lahiriah (fisik/materi) ke aspek batiniah (spiritual). Masih dalam surah yang sama, QS. Al-Hujurat (49): 13 menyatakan:

 اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ

“…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa…”

Hal ini dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis shahih:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no. 2564).

Selain itu, body shaming memiliki dampak yang cukup serius baik dari perspektif islam maupun psikologis. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kemashlahatan dan melarang segala bentuk bahaya (اَلضَّرَرُ) baik fisik maupun psikologis. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ﷺقَالَ: «لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ»حَدِيْثٌ حَسَنٌ. رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُمَا مُسْنَدًا

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh memberikan mudarat tanpa disengaja atau pun disengaja.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Majah, no. 2340; Ad-Daraquthni no. 4540, dan selain keduanya dengan sanadnya)

Sedangkan dalam dampak psikologis, body shaming memicu dampak psikologis yang berat bagi korban, antara lain:

1. Anxiety dan Depresi: Merasa Tidak Berharga karena Tidak Memenuhi Ekspektasi Sosial

Anxiety (kecemasan) dan depresi merupakan dampak psikologis yang sering muncul ketika seseorang terus-menerus membandingkan dirinya dengan standar sosial yang dianggap ideal. Tekanan untuk memiliki penampilan fisik, prestasi, atau gaya hidup tertentu dapat menimbulkan perasaan gagal dan tidak cukup baik. Ketika seseorang merasa tidak mampu memenuhi ekspektasi tersebut, ia rentan mengalami kecemasan berlebihan, kehilangan rasa percaya diri, hingga depresi yang ditandai dengan kesedihan mendalam, hilangnya motivasi, dan pandangan negatif terhadap diri sendiri. Dalam kondisi ini, nilai diri seseorang seolah ditentukan oleh penilaian orang lain, bukan oleh martabat kemanusiaan yang melekat pada dirinya.

2. Eating Disorders: Gangguan Makan akibat Obsesi Ekstrem terhadap Standar Berat Badan

Eating disorders atau gangguan makan adalah kondisi psikologis yang ditandai oleh pola makan yang tidak sehat akibat obsesi berlebihan terhadap bentuk tubuh dan berat badan. Fenomena ini sering dipicu oleh standar kecantikan atau ketampanan yang tidak realistis, terutama yang tersebar melalui media sosial dan budaya populer. Demi mencapai tubuh yang dianggap ideal, seseorang dapat melakukan diet ekstrem.

3. Kufur Nikmat: Membenci Diri Sendiri dan Sulit Bersyukur atas Karunia Allah

Dalam perspektif spiritual, body shaming dan standar kesempurnaan fisik yang berlebihan dapat mendorong seseorang pada sikap kufur nikmat, yaitu tidak mampu menghargai dan mensyukuri karunia yang telah Allah berikan. Ketika seseorang terus fokus pada kekurangan fisiknya dan merasa malu terhadap dirinya sendiri, ia cenderung mengabaikan berbagai nikmat lain yang dimilikinya, seperti kesehatan, akal, kemampuan, dan potensi diri. Akibatnya, muncul rasa tidak puas yang berkepanjangan serta keinginan untuk menjadi orang lain. Padahal, Al-Qur’an mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan dalam bentuk yang terbaik sesuai hikmah Allah, sehingga rasa syukur terhadap diri sendiri merupakan bagian penting dari keimanan dan penghormatan terhadap ciptaan-Nya.

Penting kita ingat selalu bahwa menyakiti hati seorang muslim dan merusak kesehatan mentalnya adalah dosa sosial yang tidak boleh diremehkan. Body Shaming adalah bentuk dari kedangkalan berpikir manusia yang terjebak pada standarisasi duniawi. Al-Qur’an hadir sebagai panduan moral untuk mengembalikan martabat manusia ke tempat tertinggi.

Sudah saatnya kita berhenti mengukur nilai seorang manusia dari ukuran pakaian, warna kulit, atau fitur wajahnya. Karena sejatinya, kita harus menciptakan ruang digital dan sosial yang ramah, aman dan memanusiakan manusia, dengan melihat sesama melalui mata takwa bukan mata penghakiman manusia.

Referensi

Syabil, Zafran, et al. “Body Shaming dalam Perspektif Al-Qur’an (Studi Analisis Ayat-Ayat Body Shaming dalam Tafsir Fath Al-Qadir).” Ibn Abbas 7.1 (2024): 38-55.

Oktaviani, Amanda, Yulianti Fajar Wulandari, and Ali Imron Hamid. “Representasi Diskriminasi Standar Kecantikan Dalam Drama Korea True Beauty: Analisis Semiotika John Fiske.” Brand Communication 4.3 (2025): 248-258.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *