Dalam layar beranda kita mungkin pernah muncul atau pernah dengar teman yang mengunggah insta story menggunakan lagu “Sesi Potret” yang dinyanyikan oleh Eanu feat. Arie Lesmana yang rilis resmi pada tanggal 30 Januari 2026. Lagu tersebut viral dan dirasa relate dengan kehidupan anak muda modern ini, terlebih saat momen mudik hari raya kemarin. Lagu tersebut viral bukan semata karena melodinya, tetapi karena lagu tersebut menyentuh luka kolektif manusia modern, yakni kesibukan yang menunda kehadiran, penghasilan pas-pasan yang menunda pertemuan dan kesadaran yang datang setelah kehilangan.
Ada penyesalan yang tak bisa dibayar dengan cara apa pun, baik dengan pencapaian atau penghasilan. Penyesalan itu berasal dari hal-hal kecil yang sering ditunda, seperti keterlambatan pulang, pesan yang diabaikan, atau waktu yang tak diluangkan. Masalah tersebut sangat terasa dalam lagu “Sesi Potret”, liriknya menceritakan kisah seorang anak yang akhirnya kembali, tetapi sudah terlambat. Dia kembali, tetapi sosok yang seharusnya dia temui telah tiada.
Dan tahun ini, kubisa pulang
Oleh-oleh sudah ditangan
Tapi anehnya, bukan kau yang menyambutku
Ohh ternyata, kau yang lebih dulu pulang
Jika kita renungkan lebih dalam, lirik lagu tersebut bukan sekadar kisah emosional. Itu adalah cerminan nyata dari satu surah Al-Qur’an yang cukup singkat, tetapi menyadarkan, yaitu QS. Al-‘Ashr. Surah ini tidak panjang, hanya tiga ayat. Namun para ulama menyebutnya cukup untuk menjadi pedoman hidup manusia. Sebab di dalamnya, terkandung satu pernyataan tegas yang perlu direnungi, “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”
Mengapa Allah Bersumpah dengan “Waktu”?
QS. Al-‘Ashr dibuka dengan sumpah atas waktu: وَالْعَصْرِ (Demi waktu), menurut Ibnu Asyur Allah menggunakan qasam (sumpah) dalam Al-Qur’an bukan tanpa alasan tapi menunjukkan urgensi (at-Tahrir wa at-Tanwir, Juz 12, hlm. 811). Saat Allah bersumpah dengan waktu, maka yang sedang ditekankan bukan sekadar panjang durasi, tetapi kualitas dan nilai eksistensial kehidupan itu sendiri. Waktu adalah modal yang terus berkurang tanpa bisa diisi ulang.
Dalam konteks ini, lagu “Sesi Potret” menghadirkan ilustrasi konkret saat waktu terbuang dan mengabaikan orang tersayang. Tokoh dalam lagu tidak kehilangan segalanya sekaligus. Dia beralibi memprioritaskan sesuatu hingga tanpa disadari, dia telah kehilangan seseorang yang sangat berharga di hidupnya, yaitu orang tua. hingga akhirnya tersadar bahwa yang hilang tidak akan pernah kembali.
Manusia dalam Kerugian
Ayat kedua dari QS. Al-‘Ashr menyatakan:
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, (Al-‘Asr/103:2)
Kata خسر menurut Abi Quraish memiliki banyak arti, antara lain rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan dan sebagainya yang semuanya mengarah pada makna negatif yang tidak disenagi siapa pun. (Tafsir al-Mishbah, Jilid 15, hlm. 498)
Kerugian ini sering kali tidak terasa saat kita sedang menjalankannya, tapi baru disadari saat semuanya telah selesai. Persis seperti dalam lagu tersebut, seseorang yang terlalu sibuk dengan urusan dunianya, hingga lupa bahwa waktu dan usia seseorang memiliki batas. Ketika akhirnya ia kembali, yang tersisa hanya kenangan.
Jarak ini terlalu jauh
Kalau rindu aku tak mampu
Soal ikhlas ternyata aku masih amatir
Gengsi menyelimutiku
Manusia ini kehilanganmu.
Rasulullah Saw. bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ (رواه البخاري)
Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu sehat dan waktu luang. (HR Bukhari).
Di sinilah letak ironi manusia modern. Kita takut kehilangan harta, karir, jabatan, pencapaian, tetapi tidak takut kehilangan waktu. Kita cemas dengan masa depan, tapi lupa kesempatan hari ini tak bisa diulangi. Padahal menurut Al-Qur’an, kerugian terbesar bukanlah tidak memiliki, tetapi tidak sempat untuk memberi.
Empat Jalan Keselamatan yang Sering Diabaikan
QS. Al-‘Ashr tidak hanya men–judge kita tetapi juga solusi. Setidaknya ada empat syarat agar manusia tidak termasuk dalam kerugian:
Pertama, اٰمَنُوْا “iman”. Dalan surah ini iman bukan sekadar keyakinan, tetapi juga kesadaran akan keterbatasan waktu. Orang yang beriman memahami bahwa setiap detik memiliki konsekuensi dan sadar bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali. Al-Ghazali menegaskan bahwa iman melahirkan kesadaran akan keterbatasan hidup, sehingga mendorong untuk percepatan amal. (Iḥya’ ‘Ulum al-Din, Juz 4, hlm. 421) Namun dalam realitanya kesibukan selalu menjadi alasan, seolah-olah kita masih punya kesempatan dan waktu masih panjang.
Kedua, عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ “amal shalih”. Ibn Rajab menyebutkan bahwa amal shalih termasuk semua tindakan yang membawa manfaat. (Jami‘ al-‘Ulum wa al-Ḥikam, hal. 233) Bisa dalam bentuk sederhana seperti menemui orang tua, mengunjungi sahabat, atau sekadar meluangkan waktu. Tokoh dalam lagu tidak gagal karena tidak mampu, tapi dia gagal karena tidak sempat, dan ketidaksempatan itu adalah hasil dari penundaan.
Ketiga, تَوَاصَوْا بِالْحَقِّ “saling menasihati dalam kebenaran”. kita selalu dapat pengingat dari orang terdekat, mungkin sesederhana via chat whatsapp. Ada yang mengatakan, “Nak, pulanglah,” atau “Luangkan waktumu.” Tapi dalam budaya modern, suara-suara itu kalah oleh kesibukan dan ambisi.
Keempat, تَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ “saling menasihati dalam kesabaran”. Menjaga relasi membutuhkan kesabaran. Memang, tidak semua pertemuan terasa mendesak, tetapi bukan berarti tidak penting. Kesabaran di sini adalah kemampuan untuk tetap hadir, sejenak rehat dari kesibukan meskipun duniawi.
Budaya Menunda adalah Penyakit yang Dinormalisasi
Salah satu pesan paling kuat yang bisa ditarik dari lagu “Sesi Potret” adalah kritik terhadap budaya menunda. Dalam Islam, sikap ini dikenal sebagai taswif (kebiasaan menunda kebaikan). Ibnu al-Jauzi juga mengingatkan bahwa menunda amal adalah bentuk tipuan diri, karena waktu tidak pernah menunggu. (Ṣayd al-Khatir, hlm 45)
Budaya ini semakin diperkuat oleh gaya hidup modern yang mengedepankan produktivitas, tapi melupakan relasi sosial. Kita dituntut untuk mengejar target, tapi tidak diajarkan untuk menjaga kehadiran. Akibatnya, kita hanya sibuk kerja tapi kosong empati.
Lagu “Sesi Potret” seperti cermin yang memantulkan realitas itu, liriknya tidak menghakimi, tapi memperlihatkan gambaran realistis kehidupan. Eanu feat. Arie Lesmana dengan lembut menasihati lewat nada dan membuat pendengarnya merasa relate.
Antara Penyesalan dan Peringatan
Syekh Yusuf al-Qaradawi menekankan bahwa Al-Qur’an harus dibaca secara kontekstual agar relevan dengan realitas sosial. (Kaifa Nata‘amal ma‘a al-Qur’an, hlm. 112) Lagu “Sesi Potret” berbicara setelah kehilangan, ini adalah suara penyesalan. Sedangkan Al-Qur’an berbicara sebelum kehilangan, dan ini adalah peringatan. Keduanya menggiring pada satu kesadaran bahwa waktu tidak bisa diulang, yang hilang tak dapat kembali.
Lagu mungkin membuat seseorang merenung, tapi Al-Qur’an mengajak seseorang untuk berubah. Jika lagu menggugah emosi, maka Al-Qur’an menuntun arah hidup. Di sinilah pentingnya pengkaji Al-Qur’an membaca fenomena dengan sudut pandang wahyu. Agar emosi tidak berhenti pada rasa, tetapi berlanjut menjadi sebuah tindakan perubahan yang lebih baik.
Referensi
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Iḥya’ ‘Ulum al-Din. Juz 4. Beirut: Dar al-Fikr, tanpa tahun, hlm. 421.
Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim. Ṣayd al-Khatir. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun, hlm. 45.
Ibn Rajab al-Hanbali, Zainuddin ‘Abd al-Rahman bin Ahmad. Jami‘ al-‘Ulum wa al-Ḥikam. Beirut: Mu’assasah al-Risalah, tanpa tahun, hlm. 233.
Ibn ‘Ashur, Muhammad al-Tahir. at-Tahrir wa at-Tanwir. Juz 12. Tunisia: Dar al-Tunisiyyah li al-Nashr, 1984, hlm. 811.
Quraish Shihab, M. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Jilid 15. Jakarta: Lentera Hati, 2002, hlm. 498.
Al-‘Awaji, ‘Abd al-Karim. Kaifa Nata‘amal ma‘a al-Qur’an. Riyadh: Dar al-Wathan, tanpa tahun, hlm. 112.









